Oleh:
Nisa Novita
Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)
SETIAP 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Peringatan ini bukan sekadar ajakan untuk melindungi satwa dan tumbuhan, tetapi menjadi pengingat bahwa kehidupan di bumi bergantung pada keberlanjutan ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai spesies.
Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar namun masih sering terabaikan adalah lahan gambut. Ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar, bahkan melebihi total simpanan karbon seluruh vegetasi hutan dunia. Gambut juga berperan sebagai pengatur tata air, penyangga kehidupan masyarakat lokal, sekaligus habitat bagi berbagai spesies unik dan langka.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan bentang lahan gambut tropis terbesar di dunia. Namun, kekayaan ekologis tersebut menghadapi tekanan serius akibat pengeringan, perubahan fungsi lahan, serta kebakaran yang berulang. Ancaman ini semakin kompleks ketika perubahan iklim menghadirkan kondisi cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.
Gambut bukan sekadar hamparan tanah basah. Ia adalah sistem kehidupan yang membutuhkan pemahaman ilmiah, tata kelola yang kuat, dan kebijakan yang konsisten.
Menjawab 50 Pertanyaan Masa Depan Gambut
Pada April lalu, jurnal Communications Earth & Environment menerbitkan konsensus ilmiah bertajuk Priority Research Questions in Global Peatland Science. Dokumen tersebut merangkum 50 pertanyaan prioritas tentang gambut yang disusun melalui kolaborasi ilmuwan dan praktisi dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Konsensus ini menunjukkan bahwa meski pengetahuan tentang gambut terus berkembang, masih banyak persoalan yang membutuhkan jawaban. Tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan ilmu pengetahuan baru, tetapi memastikan ilmu tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata.
Lima tema besar menjadi perhatian dalam agenda penelitian tersebut, yakni dinamika karbon, perubahan iklim, restorasi dan pengelolaan gambut, inovasi teknologi, serta kebijakan dan keterlibatan masyarakat.
Dalam aspek karbon, misalnya, pemetaan gambut global masih menghadapi tantangan akurasi. Variasi luas dan kedalaman gambut menyebabkan perhitungan cadangan karbon dan emisi akibat degradasi memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup besar.
Bagi Indonesia yang menargetkan pencapaian FOLU Net Sink 2030, ketersediaan data gambut yang presisi menjadi fondasi penting. Strategi pengurangan emisi tidak akan efektif tanpa pemahaman yang akurat mengenai kondisi ekosistem yang ingin dilindungi.
El Nino dan Ancaman Kebakaran Gambut
Ancaman lain yang semakin nyata adalah perubahan iklim. Gambut tropis sangat sensitif terhadap kondisi kering dan suhu ekstrem. Ketika musim kering berkepanjangan terjadi, gambut yang telah mengalami gangguan hidrologi menjadi sangat mudah terbakar.
Ancaman tersebut kembali menguat dengan potensi munculnya fenomena El Niño. Kondisi iklim yang lebih kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama di wilayah dengan gambut yang telah mengalami degradasi.
Data awal tahun 2026 dari Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa dari sekitar 55 ribu hektare lahan yang terbakar, separuhnya terjadi di kawasan gambut. Angka ini memperlihatkan bahwa kebakaran gambut bukan hanya persoalan tahunan saat musim kemarau, melainkan tanda adanya kerentanan sistem ekologis yang perlu ditangani secara menyeluruh.
Pencegahan kebakaran tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Pengelolaan gambut harus dimulai dari pemulihan fungsi hidrologi, menjaga tinggi muka air, serta memastikan kawasan gambut tetap dalam kondisi basah.
Restorasi Bukan Sekadar Proyek
Restorasi gambut menjadi salah satu kunci menghadapi tantangan tersebut. Pembasahan kembali gambut terbukti efektif mengurangi risiko kebakaran dan menekan emisi karbon.
Namun, pemulihan gambut bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam hitungan tahun. Proses mengembalikan fungsi ekologis gambut membutuhkan waktu panjang, bahkan dapat mencapai puluhan hingga ratusan tahun.
Karena itu, keberhasilan restorasi tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah program atau luas wilayah yang dikerjakan. Ukuran keberhasilan harus mencakup pemulihan kondisi hidrologi, berkurangnya risiko kebakaran, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan gambut.
Tantangan kelembagaan juga perlu menjadi perhatian. Setelah berakhirnya Badan Restorasi Gambut dan Mangrove pada 2024, penguatan koordinasi dan sistem pemantauan menjadi semakin penting. Gambut merupakan ekosistem lintas wilayah dan lintas sektor sehingga membutuhkan tata kelola yang berkelanjutan.
Teknologi Ada, Tata Kelola Menjadi Kunci
Perkembangan teknologi sebenarnya memberikan peluang besar dalam pengelolaan gambut. Penginderaan jauh, sensor lapangan, hingga kecerdasan buatan dapat membantu memantau kondisi gambut secara lebih cepat dan akurat, termasuk mendeteksi perubahan tinggi muka air serta potensi kebakaran.
Teknologi tersebut juga dapat mendukung transparansi pengelolaan lahan dan memperkuat praktik rantai pasok yang berkelanjutan.
Namun persoalannya bukan lagi semata-mata ketersediaan teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan teknologi tersebut digunakan secara konsisten dan terintegrasi dalam sistem pengelolaan.
Gambut sebagai Rumah Kehidupan
Di tengah pembahasan tentang karbon, emisi, dan perubahan iklim, ada satu aspek penting yang tidak boleh dilupakan: gambut adalah rumah bagi keanekaragaman hayati.
Hutan rawa gambut Kalimantan, misalnya, menjadi habitat penting bagi orangutan dan berbagai spesies lainnya yang menghadapi ancaman kepunahan. Ketika gambut rusak, dampaknya bukan hanya pelepasan karbon ke atmosfer, tetapi juga hilangnya habitat dan terputusnya jaringan kehidupan yang telah terbentuk selama ribuan tahun.
Dalam konteks Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, perlindungan gambut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kehidupan di bumi.
Tekanan terhadap gambut juga datang dari berbagai aktivitas pembangunan. Tanpa perencanaan yang matang, pembangunan dapat meningkatkan risiko kerusakan ekologis. Namun, berbagai praktik baik menunjukkan bahwa keseimbangan antara konservasi dan pembangunan masih dapat diwujudkan.
Kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), pemerintah, masyarakat, serta berbagai pihak telah menghasilkan sejumlah pendekatan, mulai dari pemetaan partisipatif, pembangunan sekat kanal, penguatan desa penjaga gambut, hingga penelitian jangka panjang mengenai karbon dan emisi di berbagai tipe tutupan lahan di Kalimantan.
Pendekatan ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan harus berjalan bersama.
Menjawab Tantangan Masa Depan
Gambut memiliki kontribusi besar terhadap upaya mitigasi perubahan iklim Indonesia melalui solusi berbasis alam. Namun potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika didukung kebijakan yang konsisten, tata kelola yang kuat, dan keputusan yang berbasis ilmu pengetahuan.
Lima puluh pertanyaan dalam konsensus ilmiah global tentang gambut bukan hanya tanggung jawab para peneliti. Jawabannya juga menjadi tanggung jawab pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan seluruh pihak yang bergantung pada keberlanjutan ekosistem ini.
Tantangan terbesar bukan karena kita tidak memiliki pengetahuan, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan tersebut benar-benar digunakan untuk melindungi yang tersisa.
Hari Keanekaragaman Hayati Internasional seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen tersebut. Melindungi gambut berarti menjaga karbon, menjaga iklim, dan yang paling penting, menjaga rumah bagi kehidupan. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan