KALTIMPOST.ID - Seiring dengan persiapan menuju putaran final Piala Dunia 2026, bangsa Iran diguncang kedukaan dahsyat. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, meninggal dunia pada 28 Februari 2026 setelah menjadi sasaran serangan yang kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran pada 1 Maret 2026.
Kepergian Khamenei semakin memperparah situasi konflik Amerika Serikat dan Iran. Sebagai respon, pada sekira 2 Maret 2026, Islamic Revolutionary Guard Corps mengumumkan dan menegaskan bahwa Selat Hormuz telah ditutup serta memperingatkan bahwa Iran akan menembaki kapal yang berusaha melintas.
Sebagaimana telah dirasakan penduduk dunia, penutupan Selat Hormuz memiliki dampak yang sangat besar karena selat ini merupakan jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair menggunakan selat ini sebagai jalur pelayaran.
Baca Juga: Duit APBN Kerap Nyasar dan Gagal Cair, KPPN Balikpapan Bongkar Biang Keroknya!
Penutupan Selat Hormuz menggambarkan bahwa perang modern tidak lagi hanya diukur dari jumlah rudal dan drone yang ditembakkan, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan jalur perdagangan dunia. Setiap gangguan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi, menghambat distribusi minyak, meningkatkan biaya pelayaran dan asuransi, serta menekan stabilitas ekonomi internasional.
Dalam hitungan hari, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang berperang, tetapi juga oleh masyarakat dunia melalui kenaikan harga bahan bakar, pangan, dan biaya hidup. Ironinya drama buka tutup Selat Hormuz masih berlangsung hingga saat ini.
Piala Dunia 2026: “Perdamaian” Iran-Amerika Serikat (1)
Waktu yang dinantikan telah tiba, Piala Dunia 2026 dimulai, 11 Juni 2026 genderang pertarungan tim-tim sepak bola terbaik dunia ditabuh, dan Team Melli adalah salah satu tim yang akan bertarung pada hajatan sepak bola termegah tersebut.
Sebagaimana jadwal dan lokasi tidak dapat diubah, Team Melli akan memainkan seluruh pertandingan grup G di Amerika Serikat. Namun demikian ada hal menarik di fase ini. Presiden Trump menolak Team Melli menginap dan bermarkas di wilayah Amerika Serikat, oleh karena itu markas Team Melli dipindahkan ke Tijuana, Meksiko, bukan lagi di Arizona, konsekuensinya Team Melli akan melakukan perjalanan pergi-pulang dari Meksiko ke AS hanya saat hari pertandingan. Sungguh ”cobaan” non teknis yang tidak ringan.
Pertandingan pertama Team Melli tiba, 16 Juni 2026, melawan Selandia Baru di SoFi Stadium Inglewood, California, AS. Mehdi Taremi dan kawan-kawan memainkan pertandingan pertama mereka. Hasil imbang 2-2 setelah sempat tertinggal 2 kali bukanlah hasil yang buruk untuk tim sepak bola yang banyak menghadapi “cobaan” non-teknis sebelum gelaran piala dunia dimulai.
Sesungguhnya mereka “telah memenangkan” pertempuran politik melawan Amerika Serikat. Disaksikan secara langsung sekitar 70.180, di American soil, bendera nasional Republik Islam Iran terbentang selebar lapangan dan lagu nasional Sorud-e Melli-ye Jomhuri-ye Eslami-ye Iran menggema di seantero SoFi Stadium. Sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilihat dan didengar oleh Presiden Trump.
Dalam konteks Piala Dunia, Presiden Trump tidak dapat "rangkap jabatan" sebagai penentu kebijakan FIFA. Meskipun Amerika Serikat merupakan salah satu negara tuan rumah, kewenangan penyelenggaraan kompetisi tetap berada sepenuhnya di tangan FIFA. Oleh karena itu, sekalipun sedang berkonflik dengan Republik Islam Iran, Presiden Trump tidak memiliki kewenangan untuk meminta agar bendera maupun lagu kebangsaan Republik Islam Iran tidak ditampilkan sebelum pertandingan.
FIFA tetap berpedoman pada FIFA Match Protocol yang mengatur seremoni sebelum pertandingan, termasuk penghormatan terhadap identitas setiap negara peserta melalui pemutaran lagu kebangsaan dan pembentangan bendera nasional.
Dengan demikian, selama Iran berstatus sebagai peserta resmi Piala Dunia, simbol-simbol kedaulatannya tetap memperoleh perlakuan yang sama sebagaimana negara peserta lainnya, terlepas dari dinamika politik yang berlangsung di luar stadion. Pada posisi ini, terjadi “perdamaian” antara Amerika Serikat dan Iran di dalam lapangan.
“Perdamaian” Iran-Amerika Serikat (2)
Bersamaan dengan peristiwa di SoFi Stadium, di luar lapangan eskalasi Amerika Serikat versus Republik Islam Iran memasuki babak baru, kedua negara menggelar perundingan yang berujung pada penandatangan interim agreement atau memorandum yang menjadi dasar perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Memorandum antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran mulai berlaku pada 18 Juni 2026 setelah sehari sebelumnya ditandatangani oleh Presiden Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Évian-les-Bains, Prancis.
Melalui memorandum tersebut, kedua negara sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, menghentikan operasi militer, serta membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional. Kesepakatan itu juga menjadi landasan bagi perundingan lanjutan mengenai program nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan stabilitas keamanan kawasan.
Perdamaian ini belum menjadi akhir dari seluruh sengketa, tetapi setidaknya menjadi awal bahwa dialog kembali ditempatkan di atas penggunaan kekuatan bersenjata sesuai dengan amanah Pasal 2 ayat 3 dan Pasal 33 Piagam PBB. Terjadi “perdamaian” antara Amerika Serikat dan Iran di luar lapangan.
World Cup and World Peace
Pada akhirnya, perdamaian tidak hanya diukur dari berhentinya ledakan rudal, tetapi juga dari kembalinya kepercayaan antarbangsa untuk saling menghormati. Kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran yang membuka kembali ruang dialog memberikan secercah harapan bahwa diplomasi masih memiliki tempat di tengah konflik.
Pada saat yang sama, Piala Dunia 2026 menghadirkan panggung yang mempertemukan negara-negara tanpa membedakan ideologi, agama, maupun kepentingan politik. Ketika lagu kebangsaan dikumandangkan dan bendera setiap negara dikibarkan dengan penghormatan yang sama, dunia seolah diingatkan bahwa persaingan seharusnya diselesaikan di lapangan hijau, bukan di medan perang.
Semoga semangat Football Unites the World tidak berhenti sebagai slogan FIFA, tetapi benar-benar menjadi inspirasi bagi para pemimpin dunia, sehingga masyarakat internasional dapat menikmati keseruan Piala Dunia 2026 dalam suasana yang damai, aman, dan penuh persaudaraan. (*)
Catatan Mahendra Putra Kurnia
Penulis merupakan dosen di Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Samarinda
Editor : Ery Supriyadi