Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Idealisme Mahasiswa di Ujung Tanduk?

Muhammad Aufal Fresky • Selasa, 23 Juni 2026 | 15:28 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Adalah salah satu tantangan terbesar dan terberat yang dihadapi oleh aktivis mahasiswa yakni ketika berhadapan dengan tawaran kekuasaan, jabatan, dan uang. Keteguhan dalam memegang erat-erat idealisme menjadi sebuah keharusan yang memang tidak bisa ditawar-tawar.

Sebab, tidak jarang, aktivis mahasiswa begitu mudahnya tergiur dengan godaan-godaan yang sifatnya temporer. Godaan yang sejatinya bisa memperlemah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dan usut punya usut, sebagian mahasiswa kita belum kuat betul mempertahankan idealismenya itu.

Seperti halnya Ketua BEM FH Universitas Bung Karno (UBK), Abdimaluddin, yang mengakui dengan terang-terangan telah menerima uang sebesar Rp20 juta terkait aksi demonstrasinya beberapa waktu lalu. Pengakuan tersebut disampaikan dalam forum klarifikasi yang digelar mahasiswa pada Senin (22/6/2026).

Diketahui, uang tersebut dibagikan ke sejumlah temannya. Dia juga menyatakan bahwa uang tersebut diberikan agar dia dan teman-temannya memindahkan lokasi demonstrasi yang semula di depan Istana Negara ke Gedung DPR RI.

Kita pun jadi waswas dan sedikit gusar bahwa jangan-jangan gerakan mahasiswa sebagian telah ditunggangi. Saya juga khawatir terjadi pembajakan secara sistematis dan terencana terhadap gerakan mahasiswa di berbagai pelosok tanah air.

Apalagi belakangan ini, sorotan publik terhadap beragam regulasi dan kebijakan pemerintah kian santer. Sebenarnya apa yang sedang mahasiswa kita perjuangkan? Untuk siapa mereka rela berpayah-payahan menggelar demonstrasi?

Mengatasnamakan rakyat hanya untuk memenuhi hasrat materialismenya yang tidak terbendung adalah hal yang, hemat saya, sangat memalukan. Kelompok sipil yang digadang-gadang sebagai agen perubahan, penjaga nilai, dan kontrol sosial justru menggadaikan idealismenya.

Padahal, kata Tan Malaka, salah satu tokoh pendiri bangsa, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki mahasiswa. Lantas, bagaimana jadinya jika idealisme tersebut ditanggalkan dan ditukar dengan uang?

Saya pun sedikit mengelus dada, tidak habis pikir dengan ulah sejumlah aktivis tersebut. Di depan kamera wartawan mereka berbicara dengan lantang dan menggebu-gebu, mengkambinghitamkan pemerintah, seolah paling benar, bahkan tidak sedikit yang mengolok-olok Presiden dan Wakil Presiden.

Demonstrasi tanpa adab telah dipertontonkan oleh sebagian calon pemimpin masa depan kita. Betapa mudahnya menghina kepala pemerintahan dan kepala negara. Betapa gampangnya menyerang personal Presiden.

Silakan tengok sendiri media sosial terkait hal itu. Demokrasi hari ini nyatanya benar-benar kebablasan. Saya tidak membayangkan, andaikan anak-anak muda itu hidup di era Orde Baru, masih bisakah mereka seleluasa dan sepercaya diri sekarang?

Belum lagi perihal tuntutan dari sebagian mahasiswa yang kerap kali tidak berdasarkan riset dan kajian yang matang. Sehingga hanya berkoar-koar di jalanan tanpa data dan fakta yang jelas. Teriakannya hanya berdasarkan emosi yang tidak terkontrol.

Berjuang atas nama rakyat, tapi nyatanya tergiur oleh uang. Uang yang jumlahnya tidak seberapa itu nyata-nyatanya telah meninabobokkan gerakan mahasiswa. Tentu tidak semua seperti itu. Tapi tentu juga tidak bisa kita memastikan semua gerakan mahasiswa itu murni untuk membela dan memperjuangkan kepentingan wong cilik.

Jangankan berupaya mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, untuk sekadar menahan diri dari godaan materi saja sukarnya minta ampun. Kejadian tersebut tentu saja merugikan gerakan mahasiswa lainnya yang dengan tulus hendak memperbaiki tata kelola pemerintahan yang mungkin dinilai telah amburadul atau menyimpang dari rel konstitusi. Kita sukar menepis bahwa gerakan mahasiswa ternyata mudah dikendalikan.

Di akar rumput, sejumlah gerakan mahasiswa juga telah mengalami perpecahan. Tidak menyatu. Tidak kokoh. Bahkan sangat rawan ditunggangi berbagai pihak yang berkepentingan dengan aksi demonstrasi tersebut. Dan sekali lagi, pembajakan terhadap aksi demonstrasi tersebut bukan hal mustahil.

Tidak menutup kemungkinan akan ada penunggang gelap terhadap aksi demonstrasi. Penunggang gelap yang memiliki misi politis di dalamnya. Atau penunggang gelap yang sengaja memprovokasi mahasiswa, menyulut api kemarahan masyarakat, menciptakan perpecahan dan chaos yang berkepanjangan.

Atau penunggang gelap yang hendak mempersempit ruang mahasiswa dan memperlemah gerakan mahasiswa dengan membajak para pentolannya dengan iming-iming cuan atau jabatan tertentu. Entahlah, semua kemungkinan itu ada. Yang jelas, fakta terbaru, sejumlah aktivis mahasiswa menerima uang dari oknum tertentu yang sampai tulisan ini dibuat masih samar-samar siapakah oknum tersebut.

Mahasiswa dengan daya intelektualitasnya, dengan keberaniannya, dengan jaringannya, dengan pengalamannya, dengan moralitasnya, memang sudah seharusnya selalu berada di sisi rakyat. Menjadi kekuatan sipil yang mengawasi jalannya demokrasi di negeri ini. Termasuk bagaimana kerja-kerja pejabat negara di legislatif, eksekutif, dan yudikatif berjalan sebagaimana mestinya.

Jujur saja, kita membutuhkan lebih banyak lagi kader-kader calon pemimpin bangsa yang cerdas, berintegritas, visioner, nasionalis, patriotik, dan memiliki sensitivitas sosial yang tinggi terhadap situasi dan kondisi bangsa dan negaranya.

Kepintaran kognitif yang tidak diiringi dengan kematangan emosional hanya akan melahirkan generasi yang mudah memperjualbelikan nilai dan prinsip hidupnya.

Mahasiswa hari ini, sekali lagi, adalah harapan kita semua. Harapan seluruh warga Indonesia. Ketika penguasa bertindak sewenang-wenang dan kehilangan kendali, maka mahasiswa menjadi salah satu alternatif kekuatan rakyat yang mampu mendobrak kebuntuan.

Apalagi jika ditelisik dari sejarahnya, mahasiswa adalah kelompok sipil yang berulang kali menjadi inisiator, konseptor, dan sekaligus aktor perubahan, dari masa ke masa, dari sejak pra-kemerdekaan hingga pasca-Reformasi.

Terkait uang yang diterima aktivis mahasiswa dari BEM UBK, saya rasa ini merupakan tamparan keras bagi dunia aktivis dan pergerakan. Menjadi alarm pengingat kepada seluruh aktivis mahasiswa di segala penjuru tanah air agar tidak mudah tergiur jabatan dan uang. Sebab, jika begitu yang terjadi, lantas apa bedanya mahasiswa dengan koruptor?

Jika demikian yang terjadi, lalu apa bedanya mereka dengan bandit-bandit berdasi? Kejadian tersebut menjadi momentum bagi seluruh aktivis mahasiswa, seluruh organisasi mahasiswa, intra maupun ekstra, agar selalu betul-betul menegakkan integritasnya.

Jangan sampai kemudian rakyat dengan pesimis dan kecewa mengatakan bahwa idealisme mahasiswa hari ini berada di ujung tanduk. Jangan sampai kepercayaan publik kepada calon pemimpin masa depan tersebut semakin terkikis atau habis sama sekali.

Saya pribadi, selaku penulis, masih menyimpan optimisme yang berkobar-kobar dalam alam jiwa saya bahwa masih banyak mahasiswa yang mampu menjadi garda terdepan yang akan membela rakyat. Mahasiswa masih bakal menjadi harapan kita hari ini dan di kemudian hari.

Mungkin pekerjaan rumah selanjutnya bagi mahasiswa yaitu memperkuat atau memperkokoh gerakannya. Bersatu dan bergerak serentak dengan visi dan misi yang selaras. Dalam konteks tersebut, perlu dibuatkan sebuah mekanisme untuk mendeteksi pihak-pihak yang keluar dari barisan. Saya pikir ini penting agar gerakan mahasiswa tidak gampang dipengaruhi pihak-pihak luar dan sekaligus supaya idealismenya tetap terjaga. (*)

Editor : Almasrifah
#BEM Universitas Bung Karno #Idealisme #mahasiswa #demonstrasi #uang