Oleh: Rina Masithoh Haryadi (Mahasiswa Program Doktor Manajemen FEB Universitas Islam Bandung dan Dosen FEB Untag Samarinda), Muhardi (Dosen FEB Universitas Islam Bandung).
KALTIMPOST.ID, Di tengah persaingan usaha kuliner, satu kalimat dari Aldi Taher menyita perhatian warganet: “Semua burger milik Allah.” Kalimat itu menjadi perbincangan.
Ada yang menganggapnya sekadar promosi cerdas, sedangkan yang lain melihatnya sebagai ungkapan keyakinan. Di balik kesederhanaannya, kalimat tersebut membuka ruang untuk membahas hubungan antara bisnis, etika, dan nilai-nilai agama.
Usaha tidak selalu dikenal karena modal besar atau lokasinya yang strategis. Kadang, publik tertarik karena karakter pemiliknya dan cara ia berbicara.
Baca Juga: Idealisme Mahasiswa di Ujung Tanduk?
Aldi’s Burger menunjukkan bahwa usaha kuliner dapat menarik perhatian yang tidak biasa. Yang lebih penting ialah apakah nilai yang disampaikan benar-benar hidup dalam cara usaha itu dijalankan.
Indonesia memiliki masyarakat yang akrab dengan bahasa religius. Karena itu, simbol keagamaan dalam bisnis mudah menarik simpati. Nilai spiritual tidak seharusnya hanya menjadi ornamen promosi.
Pertanyaan utamanya bukan semata-mata apakah burger itu laris atau viral, melainkan apakah pesan religius tersebut menjadi pegangan dalam mengelola usaha sehari-hari.
Baca Juga: Pelacur Reformasi
Gagasan manajemen strategi syariah membantu kita membaca fenomena ini. Strategi syariah bukan berarti bisnis harus dipenuhi istilah agama atau tampil serba formal.
Intinya adalah menempatkan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan. Keuntungan tetap penting karena usaha perlu bertahan dan berkembang.
Akan tetapi, keuntungan tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan kejujuran, keadilan, amanah, kemanfaatan, dan rasa tanggung jawab.
Ucapan “semua burger milik Allah” sejalan dengan pandangan ekonomi Islam bahwa kepemilikan mutlak berada pada Allah, sedangkan manusia hanya menerima amanah untuk mengelola.
Bahan baku harus dipilih secara bertanggung jawab, pekerja harus diperlakukan dengan layak, pelanggan tidak boleh dirugikan, dan keuntungan harus diperoleh melalui cara yang bersih. Bisnis, dengan demikian, bukan ruang yang bebas dari pertimbangan moral.
Sikap mempersilakan konsumen untuk membeli produk pesaing juga dapat dimaknai sebagai sikap kelapangan hati. Pelaku usaha tentu perlu berikhtiar agar produknya dipilih, tetapi tidak harus menjatuhkan orang lain agar tetap bertahan.
Baca Juga: Mengajar dengan Data, Bukan Dugaan
Rezeki tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengalahkan kompetitor, melainkan juga oleh kualitas pelayanan, ketekunan, dan cara memperlakukan orang lain dengan baik.
Meski begitu, nilai syariah tidak cukup dibuktikan lewat kalimat yang enak didengar. Ujiannya terletak pada dapur, meja kasir, pelayanan, hingga pengelolaan keuangan.
Produk harus halal dan thayyib, artinya bukan hanya boleh dikonsumsi secara agama, tetapi juga harus bersih, aman, dan bermutu.
Harga perlu disampaikan secara terbuka. Antrean harus diatur agar tidak mengganggu lingkungan. Pekerja berhak memperoleh penghargaan dan perlakuan yang adil.
Baca Juga: Islam Selamatkan Anak dari Pergaulan Bebas agar Tak Bablas
Dalam bisnis kuliner, kualitas bukan hanya soal rasa. Kualitas juga tampak pada ketepatan pelayanan, kebersihan tempat, konsistensi produk, dan kesediaan untuk menerima keluhan.
Usaha boleh ramai dibicarakan, tetapi narasi keberkahan akan kehilangan arti apabila dapur tidak tertata, pelanggan dikecewakan, atau warga sekitar justru merasa terganggu.
Begitu pula dalam urusan keuangan, keuntungan perlu dikelola secara transparan dan diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Karena itu, fenomena Aldi Taher tidak perlu dinilai secara hitam putih. Bisa jadi ia berangkat dari gimmick, lalu menjadi spirit bisnis ketika dibarengi niat baik dan tindakan yang konsisten.
Ia juga dapat berkembang menjadi strategi syariah apabila diterjemahkan ke dalam sistem usaha yang lebih jelas. Pada akhirnya, nilai ketuhanan tidak cukup dijadikan slogan.
Nilai itu harus terlihat dalam cara makanan diolah, pelanggan dilayani, pekerja dihargai, uang dikelola, dan pesaing diperlakukan. Di situlah makna keberkahan menemukan bentuknya. (*)
Editor : Almasrifah