Oleh:
Vamelia Ibrahim
Bunda PAUD Tana Tidung
KALTIMPOST.ID-Perhatian dunia terhadap anak bukanlah hal baru. Sejak berdirinya UNICEF (United Nations Children's Fund) pada 1946, isu perlindungan dan pemenuhan hak anak menjadi agenda global.
Komitmen itu kemudian diperkuat melalui berbagai kesepakatan internasional yang menegaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, serta mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang layak.
Di Indonesia, semangat tersebut tercermin dalam peringatan Hari Anak Nasional, yang setiap tahunnya menjadi pengingat bahwa investasi terbaik sebuah bangsa dimulai dari anak-anaknya.
Namun, di balik peringatan seremonial, tantangan nyata masih kita hadapi, terutama dalam memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan akses pendidikan sejak usia dini.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah fondasi utama. Para ahli perkembangan anak menyebut periode ini sebagai “masa emas” sebuah fase yang menentukan pembentukan karakter, kecerdasan, hingga kesehatan manusia untuk jangka panjang.
Ketika intervensi dilakukan dengan tepat di usia ini, dampaknya dapat dirasakan sepanjang hidup.
Di Kalimantan Utara (Kaltara), tantangan tersebut memiliki wajah yang khas. Wilayah yang luas, keterbatasan akses, serta disparitas antardaerah menjadikan pemerataan layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai pekerjaan yang tidak sederhana.
Namun, di tengah berbagai keterbatasan itu, optimisme justru menemukan ruang untuk tumbuh.
Salah satu gambaran paling nyata dari dinamika tersebut dapat dilihat di Kabupaten Tana Tidung.
Dalam beberapa tahun terakhir, capaian partisipasi pendidikan anak usia 5–6 tahun di wilayah ini menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Berdasarkan indikator angka partisipasi sekolah (APS), angka tersebut melonjak dari sekitar 59 persen menjadi 98,56% persen tahun 2025 sebuah capaian yang bahkan melampaui sejumlah wilayah lain di Kalimantan.
Namun demikian, capaian ini tidak boleh membuat berpuas diri. Di Kabupaten Tana Tidung, perhatian khusus tetap diperlukan.
Tantangan akses, kualitas layanan, hingga ketersediaan tenaga pendidik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Rendahnya capaian pendidikan di suatu wilayah tidak hanya berdampak pada kondisi hari ini, tetapi juga akan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Untuk memahami maknanya secara utuh, capaian ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Tanoto Foundation melalui program SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) menekankan bahwa peningkatan akses pendidikan anak usia dini harus berjalan beriringan dengan penguatan kualitas pengasuhan dan layanan.
Program yang menyasar anak usia 3–6 tahun ini dirancang untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperluas akses PAUD sekaligus meningkatkan kualitasnya, dengan target utama meliputi peningkatan partisipasi anak di jenjang TK atau sederajat, peningkatan capaian perkembangan anak sesuai usianya, serta peningkatan kualitas dan akreditasi lembaga PAUD.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak hanya diukur dari angka partisipasi, tetapi juga dari kualitas tumbuh kembang anak dan kesiapan lingkungan belajar yang mendukung.
Sebagai Bunda PAUD, saya melihat peran ini bukan sekadar simbolis, melainkan sebagai mitra strategis kepala daerah dalam mendorong kebijakan yang berpihak pada anak usia dini.
Advokasi menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa PAUD mendapatkan perhatian yang setara dengan jenjang pendidikan lainnya.
Berbagai inisiatif telah kami dorong. Program “Satu PAUD Dua Laptop” hadir untuk mendukung administrasi dan pembelajaran di era digital.
Penyediaan alat permainan edukatif (APE), baik di dalam maupun luar ruangan, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan PAUD agar proses belajar menjadi lebih stimulatif.
Kami juga berupaya meringankan beban orangtua melalui bantuan operasional pendidikan daerah dan bantuan perlengkapan sekolah seperti baju dan tas.
Di sisi lain, kualitas guru termasuk fokus utama. Program beasiswa S-1 yang sebelumnya kurang optimal kami perbaiki melalui kerja sama dengan Universitas Terbuka. Sehingga para guru tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa meninggalkan tugasnya.
Pendekatan kami tidak berhenti pada aspek pendidikan semata. Melalui program Germinsu (Gerakan Minum Susu dan Makan Telur) serta GEMARI (Gemar Makan Ikan), kami mendorong pemenuhan gizi anak sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi pun mulai meningkat.
Kami juga mengembangkan BUSAK PAUD, sebuah inovasi untuk memantau tumbuh kembang anak, mulai dari berat badan, tinggi badan, status gizi, hingga literasi yang dapat diakses oleh orangtua. Dengan demikian, keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak menjadi lebih nyata.
Baca Juga: Diputus NO Praperadilan di PN Kukar, Kuasa Hukum Dua Lansia Layangkan Praperadilan Tahap II
Selain itu, pendekatan holistik integratif juga terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Kehadiran layanan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil langsung ke PAUD, misalnya, mempermudah akses dokumen kependudukan sekaligus memastikan hak identitas anak terpenuhi sejak dini.
Tidak kalah penting, kesejahteraan guru juga menjadi perhatian. Peningkatan insentif dari Rp 300 ribu menjadi Rp 1 juta dari APBD dan Rp 1 juta dari APBDesa diharapkan mampu memotivasi para pendidik untuk terus memberikan yang terbaik.
Pada momen Hari Anak ini, saya ingin menegaskan bahwa meski Tana Tidung adalah kabupaten yang relatif kecil, kami memiliki komitmen besar untuk menghadirkan perubahan.
Penghargaan tertinggi Wiyata Darma Utama dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang kami terima tahun lalu menjadi pengingat bahwa upaya kolektif dapat menghasilkan dampak nyata.
Ke depan, harapan kami sederhana namun penting: agar praktik baik yang telah dijalankan di Tana Tidung dapat direplikasi di seluruh Kaltara.
Karena pada akhirnya, masa depan daerah ini ditentukan oleh bagaimana kita menjaga dan mengoptimalkan masa emas anak-anak hari ini. Menjaga anak-anak hari ini berarti menjaga masa depan Kaltara dan Indonesia. (rd)
Editor : Romdani.