Oleh:
Reza Mahendra
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
PERNAHKAH kalian menonton sebuah pertandingan sepak bola dengan tujuan mengharapkan suatu tim kalah?
Fenomena ini disebut sebagai hate-watch atau hate-watching. Menurut Cambridge Dictionary, hate-watch merujuk pada aktivitas mengonsumsi media atau menonton program televisi, film, maupun pertandingan olahraga dengan tujuan mengkritik, menertawakan, atau mengharapkan objek yang ditonton tampil buruk atau kalah.
Beberapa media juga mendeskripsikan hate-watch sebagai kegiatan "menjadi hater profesional", yakni ketika seseorang atau sekelompok masyarakat menonton pertandingan dengan harapan tim tertentu mengalami kekalahan.
Fenomena hate-watch sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia sepak bola. Kegiatan ini juga muncul dalam industri hiburan, seperti film dan acara televisi. Dalam sepak bola, hate-watch sepenuhnya bersandar pada harapan agar tim yang disaksikan kalah.
Hal ini mendorong fenomena unik ketika sejumlah kelompok suporter yang sebelumnya tidak memiliki ikatan emosional dengan suatu tim tiba-tiba memberikan dukungan dengan gairah tinggi kepada lawannya.
Salah satu gelombang hate-watch terbesar dapat diamati pada final Liga Champions Eropa 2026. Saat itu banyak penggemar Manchester United, Manchester City, Liverpool, dan klub lainnya menyaksikan pertandingan dengan satu harapan besar, yakni melihat Arsenal kalah.
Satu hal yang membedakan hate-watch dalam pertandingan sepak bola level negara dan level klub adalah kuatnya pengaruh faktor nonteknis serta berbagai peristiwa di luar lapangan. Jika pada level klub hate-watch umumnya dipicu oleh rivalitas antarklub, maka pada level tim nasional fenomena ini jauh lebih kompleks. Intrik politik, sosial, dan ekonomi turut memengaruhi gelombang hate-watch yang muncul pada Piala Dunia 2026.
Menurut saya, ada tiga faktor yang memengaruhi masifnya fenomena hate-watch pada Piala Dunia 2026.
Faktor pertama adalah keberadaan idola atau tim favorit. Contoh paling nyata ialah gelombang hate-watch yang dilakukan penggemar Tim Nasional Portugal terhadap Tim Nasional Argentina. Sebagian pendukung Portugal melakukan hate-watch terhadap Argentina karena rivalitas panjang antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Persaingan keduanya mendorong para pendukung masing-masing berharap lawannya kalah agar dapat melontarkan banter (ejekan) kepada pendukung rival.
Faktor kedua adalah politik. Faktor ini bisa dibilang unik dan hanya muncul dalam kompetisi antarnegara seperti Piala Dunia. Format turnamen yang mempertemukan negara memungkinkan friksi politik ikut masuk ke dalam arena sepak bola.
Contohnya adalah Tim Nasional Amerika Serikat. Sejak babak grup hingga fase gugur, banyak penggemar sepak bola berharap tim tersebut tersingkir. Hal ini tidak terlepas dari ketegangan politik yang melibatkan Negeri Paman Sam, baik di Timur Tengah maupun Ukraina. Ditambah lagi, kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang agresif serta kebijakan Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang menolak visa bagi banyak penggemar sepak bola membuat sebagian kelompok melakukan hate-watch terhadap Tim Nasional Amerika Serikat.
Selain itu, Tim Nasional Iran juga menjadi sasaran hate-watch dari berbagai aktivis prodemokrasi dan pendukung keluarga Pahlavi. Beberapa kali terdengar sorakan boo saat lagu kebangsaan Iran dikumandangkan. Bendera monarki Iran juga tampak dikibarkan oleh sejumlah diaspora Iran yang justru berharap negaranya kalah sebagai bentuk selebrasi atas "kekalahan Republik Islam Iran".
Meskipun Tim Nasional Iran bertanding membawa bendera negara, bukan mewakili pemerintahan, realitas menunjukkan bahwa intrik politik sulit dipisahkan dari Piala Dunia.
Faktor ketiga adalah faktor khusus yang dipicu oleh suatu peristiwa atau kontroversi, baik di dalam maupun di luar lapangan. Salah satu kasus hate-watch terbesar pada Piala Dunia 2026 terjadi ketika Amerika Serikat menghadapi Belgia.
Gelombang hate-watch terhadap Amerika Serikat bermula dari kontroversi kartu merah yang diterima penyerangnya, Folarin Balogun. Berdasarkan regulasi turnamen, pemain yang memperoleh kartu merah seharusnya tidak dapat tampil pada pertandingan berikutnya. Namun, sehari sebelum laga Amerika Serikat melawan Belgia, FIFA secara mendadak mencabut hukuman larangan bermain tersebut.
Hal yang kemudian menuai kritik luas adalah pengakuan Gedung Putih bahwa Presiden Donald Trump secara langsung menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan ulang terhadap hukuman Balogun.
Terlepas dari bagaimana mekanisme investigasi yang dilakukan FIFA, dugaan intervensi Pemerintah Amerika Serikat sedikit banyak memengaruhi persepsi publik terhadap keputusan tersebut. Ketika Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) dan UEFA mengecam langkah FIFA, banyak penggemar sepak bola melampiaskan kekecewaannya melalui hate-watch terhadap Tim Nasional Amerika Serikat.
Saat Belgia berhasil mengalahkan Amerika Serikat, media sosial pun dipenuhi perayaan. Salah satu unggahan yang banyak beredar bertuliskan, "Hari ini sepak bola mengalahkan politik."
Terlepas dari kesan negatif karena mengharapkan sebuah tim kalah, hate-watch pada kenyataannya menjadi salah satu bumbu yang menambah dinamika dan atmosfer ajang olahraga paling bergengsi di dunia, yaitu Piala Dunia. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan