KALTIMPOST.ID - Kabar mengenai wacana pembatalan 14 cabang olahraga (cabor) pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kaltim yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Paser pada November 2026 tentu menyedot perhatian publik olahraga Benua Etam. Keputusan ini menghadirkan keprihatinan mendalam, mengingat di dalam daftar 14 cabor tersebut terdapat cabor-cabor andalan penyumbang prestasi nyata bagi daerah.
Sebut saja layar yang sukses menyumbangkan tiga medali emas dan hockey dengan dua medali emas pada ajang nasional. Tak kalah krusial, ada cricket yang konsisten mempersembahkan emas dan perak, serta sederet cabor peraih medali perak dan perunggu seperti soft tenis, anggar, bowling, hapkido, ski air, korfball, rugby, woodball, dan barongsai. Jangan lupakan pula petanque, cabor pembinaan yang sedang berjuang bangkit setelah belum meloloskan atlet pada PON lalu.
Yang membuat situasi ini kian dilematis, ke-14 cabor tersebut merupakan cabang olahraga resmi yang akan dipertandingkan pada PON 2028 mendatang.
Baca Juga: Samarinda Catat Pertumbuhan Kredit Tertinggi di Kaltim, Tembus Rp43,48 Triliun
Dilema Tuan Rumah dan Masa Depan Atlet
Kita tentu paham, sadar, dan sangat menghormati keterbatasan infrastruktur, teknis, maupun efisiensi anggaran yang dihadapi Panitia Besar (PB) Porprov maupun Pemerintah Kabupaten Paser sebagai tuan rumah. Namun, di sisi lain, memutus ruang kompetisi bagi atlet-atlet potensial di tingkat provinsi dapat berdampak serius terhadap pembinaan jangka panjang menuju ajang nasional.
Porprov bukan sekadar ajang bagi-bagi medali antarkabupaten/kota, melainkan kawah candradimuka pemetaan dan pembinaan atlet Kaltim menuju PON 2028. Jika mereka tidak bertanding di Porprov, peta kekuatan dan regenerasi atlet kita terancam terputus.
“Menarik Rambut di Dalam Tepung”
Menghadapi kebuntuan ini, saya yakin KONI Kaltim tidak sekadar berdiam diri atau menuntut tanpa memberi jalan keluar. Saya percaya KONI Kaltim di bawah nakhoda Ketua H. Anderiy Syachrum telah menyusun formula solusi konkret dan saat ini tengah berada dalam tahap negosiasi serta komunikasi intensif bersama PB Porprov VIII dan Pemkab Paser.
Prinsip dasar yang kita usung adalah filosofi bijak: “Menarik rambut di dalam tepung; rambut tidak putus, tepung tidak terhambur.” Tuan rumah Paser tidak boleh dibebani di luar kapasitasnya, namun nasib ke-14 cabor dan masa depan atlet Kaltim juga harus tetap terselamatkan.
Adapun opsi solusi yang sedang diformulasikan bersama meliputi:
Skema Co-Hosting atau Desentralisasi Venue Tepat Guna
Cabor yang membutuhkan infrastruktur spesifik atau biaya tinggi, seperti layar, ski air, atau bowling, diusulkan untuk digelar di kabupaten/kota lain yang telah memiliki fasilitas standar dan siap pakai.
Kendati digelar di luar Paser, seluruh medali dan perolehan poin tetap dihitung secara resmi sebagai bagian dari Porprov VIII Paser 2026.
Rasionalisasi dan Penyederhanaan Nomor Tanding (Streamlining)
Langkah ini dilakukan untuk menekan beban biaya operasional, akomodasi, dan durasi pelaksanaan dengan memangkas nomor-nomor ekshibisi atau nonprioritas.
Fokus utama dialokasikan pada nomor-nomor vital yang berpotensi besar menyumbang medali di PON 2028.
Kolaborasi dan Gotong Royong Anggaran
KONI Kaltim mendorong sinergi antara Pengprov cabor, KONI kabupaten/kota, dan PB Porprov dalam berbagi peran (sharing budget) untuk operasional teknis sehingga tidak membebani APBD Kabupaten Paser.
Baca Juga: Resep Udang Goreng Tepung untuk Menu Keluarga, Gurih dan Praktis Dibuat, Cocok Jadi Camilan
Optimisme Melalui Kompromi
Langkah negosiasi yang sedang berjalan ini merupakan bentuk ikhtiar untuk menjaga semangat kebersamaan. Meski pelaksanaan 14 cabor tersebut nantinya mungkin tidak berjalan 100 persen ideal seperti skenario awal, memainkan seluruh cabor dalam skema penyesuaian jauh lebih baik daripada meniadakannya sama sekali. Lebih baik ada panggung kompetisi yang terkontrol daripada membiarkan proses pembinaan atlet terhenti di tengah jalan.
Kita optimistis, dengan kepala dingin, hati terbuka, dan semangat gotong royong antara KONI Kaltim, PB Porprov, serta Pemkab Paser, solusi terbaik bagi ke-14 cabor ini akan segera tercapai demi kejayaan olahraga Kalimantan Timur. (*)
Editor : Ery Supriyadi