Catatan Rusdiansyah Aras; Membentuk Talent Scouting: Langkah Strategis Menyelamatkan Prestasi Kaltim

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 13:08 WIB
PERSIAPAN AWAL : Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras memaparkan rencana jangka panjang demi misi lima besar di PON XXII/2028 NTB-NTT. (FOTO: ANGGI PRADITHA/KP)
Rusdiansyah Aras

 

KALTIMPOST.ID - Peta kekuatan olahraga Kalimantan Timur saat ini berada pada titik yang sangat krusial. Kita tidak boleh lagi menutupi kenyataan atau bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. KONI Kaltim tidak boleh hanya menjadi penonton pasif yang sekadar menerima laporan di atas kertas. Sudah saatnya lembaga ini turun langsung menopang kerja-kerja pembinaan prestasi secara nyata demi menjaga marwah Benua Etam di panggung nasional.

Di bawah duet kepemimpinan Anderiy Syachrum sebagai Ketua Umum dan Nidya Listiyono sebagai Ketua Harian, saya melihat ada momentum besar untuk melakukan lompatan strategis. Salah satu terobosan paling mendesak yang perlu segera diwujudkan adalah membentuk Tim Talent Scouting (Pemandu Bakat) yang kuat, profesional, dan independen.

Kaltim Sedang "Darurat Atlet"

Mengapa langkah ini begitu mendesak? Mari kita melihat data secara jujur.

Baca Juga: SBMA Mulai Wujudkan Ekonomi Sirkular, Residu Produksi Diolah Jadi Paving Block

Pasca-PON XXI/2024, Kalimantan Timur berhasil mencatatkan 344 atlet peraih medali. Angka tersebut memang tampak membanggakan di atas kertas. Namun, setelah disaring kembali berdasarkan Technical Handbook (THB) masing-masing cabang olahraga untuk ajang berikutnya, terutama terkait batas usia dan regulasi baru, fakta pahit pun muncul. Atlet yang masih memenuhi syarat diperkirakan hanya sekitar 20 persen atau sekitar 69 atlet.

Artinya, kita kehilangan sekitar 80 persen kekuatan utama akibat batas usia, pensiun, maupun perubahan regulasi cabang olahraga. Dengan kondisi tersebut, Kalimantan Timur sesungguhnya sedang menghadapi situasi "darurat atlet prestasi". Jika tidak ada intervensi yang cepat, sistematis, dan terukur mulai sekarang, kita akan menyaksikan penurunan prestasi yang sulit dihindari pada masa mendatang.

Orang Teknik Harus Memegang Kendali

Gagasan pembentukan Tim Talent Scouting oleh KONI bukan bertujuan meragukan kinerja Pengurus Provinsi (Pengprov) cabang olahraga. Sebaliknya, tim ini dibentuk untuk membangun sistem verifikasi yang objektif dan berbasis ilmiah (scientific-based).

KONI Kaltim harus mengetahui secara langsung kemampuan riil para atlet di lapangan. Organisasi tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada laporan administratif tanpa proses validasi yang komprehensif.

Agar bekerja secara tajam, presisi, dan bebas dari kepentingan nonteknis, komposisi tim sebaiknya diisi oleh orang-orang yang benar-benar memiliki kompetensi teknis.

Menurut saya, formulasi tim dapat disusun sebagai berikut.

Baca Juga: Sudaryono Luncurkan Call Center 127 BGN, Aduan Program MBG Kini Wajib lewat Jalur Resmi

Ketua tim dijabat oleh Wakil Ketua I KONI Kaltim. Posisi tersebut memegang kendali pembinaan prestasi secara struktural sehingga hasil pemanduan bakat memiliki bobot kebijakan yang kuat.

Sementara itu, anggota tim melibatkan tiga pilar utama.

Pertama, Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres), yang bertugas menilai aspek teknis, taktis, serta rekam jejak kompetisi atlet.

Kedua, Tim Sport Science, yang bertanggung jawab mengukur parameter fisik, biomekanika, fisiologi, hingga kondisi psikologis atlet secara objektif.

Ketiga, Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang), yang berperan mengolah data statistik, melakukan analisis komparatif terhadap kekuatan lawan, serta menyusun proyeksi medali secara ilmiah.

Melalui kolaborasi para praktisi teknis tersebut, KONI Kaltim akan memperoleh data yang objektif untuk memastikan atlet yang diproyeksikan benar-benar memenuhi standar nasional, bukan sekadar karena kedekatan atau bahkan "titipan".

Tiga Medan Tempur Tim Talent Scouting

Tim Talent Scouting harus dibekali mandat yang jelas dan diterjunkan langsung pada tiga agenda penting.

Pertama, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), untuk menyisir bibit-bibit atlet potensial dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur secara adil, transparan, dan komprehensif.

Kedua, PON Bela Diri, sebagai ajang menjaring atlet unggulan dari cabang olahraga yang selama ini menjadi lumbung medali emas Kalimantan Timur.

Ketiga, Babak Kualifikasi (BK) PON, untuk memastikan bahwa atlet yang lolos benar-benar siap bersaing dan memiliki peluang meraih medali, bukan sekadar menjadi peserta.

Harapan Besar untuk Kepemimpinan Baru

Langkah besar ini membutuhkan political will sekaligus kepemimpinan yang berani mengambil keputusan.

Baca Juga: Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI dan Pegawai Kemhan 2026, Simak Daftar Besaran Tunjangan Terbaru

Saya meyakini Anderiy Syachrum dan Nidya Listiyono memiliki kapasitas sekaligus momentum emas untuk membuktikan bahwa kepemimpinan baru KONI Kaltim mampu menghadirkan perubahan nyata. Pembentukan Tim Talent Scouting yang diisi para pakar teknik merupakan jalan keluar paling rasional untuk memutus kebuntuan regenerasi atlet di Kalimantan Timur.

Mari kita bersama-sama mendukung dan mendoakan agar KONI Kaltim mampu mewujudkan formulasi strategis ini. Sebab, perjuangan ini bukan semata-mata tentang mengejar medali, melainkan menjaga kehormatan, harga diri, dan kejayaan olahraga Kalimantan Timur di tingkat nasional.

Bravo KONI Kaltim!

Bravo olahraga prestasi Kalimantan Timur!

Sukses menuju prestasi emas pada PON 2028! (*)

(Penulis merupakan jurnalis senior dan Ketua KONI Kaltim periode 2022-2026)

Editor : Ery Supriyadi
Talent Scouting KONI Kaltim prestasi olahraga Kaltim PON 2028 Regenerasi Atlet Rusdiansyah Aras