Oleh:
Roedy Haryo Widjono AMZ
Budayawan dan Aktivis Nomaden Institute
KALTIMPOST.ID-Dinding kekuasaan adalah kanvas abadi bagi peradaban. Ia menjadi medium propaganda dan galeri bagi narasi dominan, otoritas, dan kontrol sosial. Sejarah mencatat dinding sebagai kanvas penegasan hegemoni kekuasaan.
Lukisan dinding karya Pietro da Cortona di langit-langit Palazzo Barberini, Roma, berjudul Alegori Kekuasaan Barberini tak hanya mahakarya lukisan dinding Barok, tetapi juga ekspresi legitimasi kekuasaan.
Baca Juga: Jelang Kejurprov Kaltim, PB Hevindo Fokus Hadapi Sirnas C Bayan Open 2026 dan Kejar Ranking Nasional
Dinding istana negara dan gedung pemerintahan adalah galeri kekuasaan. Pada rumah kekuasaan itu terpajang bangkai ikan-ikan dengan mata redup dan mulut terkatup. Ketika para tamu datang memuji, tuan rumah tersenyum.
Tidak ada yang bertanya, “Ikan itu ditangkap di sungai mana, dan dengan umpan apa? Di negeri ini, warganya sudah terlalu lama terbiasa mengagumi ikan-ikan pajangan, hingga lupa bagaimana rasanya air sungai yang tercemar limbah ketidakadilan.
Setiap lima tahun sekali musim ketidakadilan itu datang. Jala besar ditebarkan penguasa dari Long Apari hingga ibu kota provinsi.
Isinya bukan hanya suara, tapi juga harapan, amarah, dan rasa lapar yang menggumpal. Setelah jala ditarik, dimulailah proses pengawetan.
Pertama, kata “rakyat” dikuliti menjadi “basis massa” dan kata “pembangunan” dikuliti menjadi “program strategis”. Kedua, janji kampanye dijemur di bawah kilau lampu studio televisi, di panggung debat, lalu terus dijemur hingga kering dan membusuk. Ketiga, dipaku di dinding regulasi dan pidato kenegaraan.
Rakyat dipaksa mengakui kebenaran semu dengan berkata, “Hebat, ikannya besar dan berasal dari kampung halaman.”
Antropolog Clifford Geertz menyebut negara dalam situasi seperti ini sebagai panggung sandiwara yang menampilkan “teater kekuasaan”.
Negara bukanlah birokrasi pemerintahan, tetapi pertunjukan ritual kolosal, di mana presiden adalah aktor utama untuk mendramatisasi keagungan status dan hierarki kekuasaan.
Rakyat adalah penonton yang diundang untuk bertepuk tangan. Ikan-ikan yang dipajang di dinding kekuasaan adalah properti. Besar dan megah, tetapi ikan-ikan itu telah mati.
Properti yang terpajang di dinding kekuasaan kian beragam. Tengoklah dinding sebelah kanan, ada ikan bernama otonomi daerah. Dulu digadang-gadang akan berenang sampai ke kampung-kampung di pedalaman.
Sekarang hanya dipajang di Kantor Gubernur dan kian kusam teronggok di kantor bupati/wali kota. Perutnya penuh proyek, sisiknya ditempel stempel investor.
Warga hanya boleh menatap dari balik pagar. Sekarang geser ke kiri. Ada ikan reformasi. Dulu ia berteriak paling keras, dan berdarah-darah di jalanan.
Kini bangkainya dibingkai emas. Setiap tanggal 21 Mei diperingati, lalu mereka pulang dan lupa bahwa reformasi telah dikorupsi.
Lihatlah di tengah ruangan, ada sorotan paling terang, di situ tergantung ikan paling baru “Ibu Kota Negara” yang kini menjadi objek wisata andalan.
Tubuhnya masih basah dengan hiasan plakat marmer bertuliskan “Masa Depan Indonesia”. Selain itu ada ikan andalan bernama “Proyek Strategis Nasional”.
Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut fenomena itu sebagai modernitas cair. Masyarakat hidup dalam ketidakpastian, di mana struktur sosial, pekerjaan, nilai, dan ikatan antar-individu mencair dan berubah dengan sangat cepat sehingga sulit diprediksi. Masyarakat hidup dalam pusaran ancaman risiko.
KEKUASAAN YANG REPRESIF
Selaras dengan marwahnya, dinding kekuasaan harus dijaga agar berkelanjutan. Para ahli komunikasi politik bertugas mengajari cara memuji.
“Jangan lihat matanya yang mati, lihat sisiknya yang berkilau karena anggaran”. Para ahli hukum cermat membuat sertifikat.
“Ikan ini sah menurut undang-undang. Jangan digugat”. Sedangkan aparatur keamanan sikap bertugas mengusir lalat.
Sesungguhnya lalat itu metafora untuk kritik, pertanyaan kritis atau ekspresi protes. “Jangan dekat-dekat. Nanti ikannya rusak,” begitu hardik aparat keamanan pelindung kekuasaan.
Filsuf Michel Foucault mengingatkan, kekuasaan modern bekerja secara produktif, bukan represif. Kekuasaan tidak lagi bekerja dengan cara melarang, menyensor, atau mengancam dengan hukuman, tetapi bekerja dengan membentuk hasrat.
Kekuasaan yang menindas memaksa rakyat berfoto di depan ikan-ikan yang dipajang, bukan bertanya siapa yang menjala ikan dan bagaimana nasib para nelayan..
Siapa yang makan ikan? Pertanyaan itu membuat penjaga kekuasaan gelisah. Sebab yang makan ikan bukan rakyat. Sejatinya yang makan adalah yang punya kunci gudang pengawetan.
Baca Juga: Kabar Gembira! Tahun Ini, 278 Rumah di PPU Dapat Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya
Mereka makan di ruang mewah, dengan piring keramik, sambil berkata, “Rakyat suka ikan ini. Lihat, mereka datang terus untuk berfoto.”
Ekonom Karl Polanyi dalam The Great Transformation memperingatkan tentang “pasar yang mencabut masyarakat dari akarnya”.
Polanyi menegaskan dalam sejarah manusia, aktivitas ekonomi diatur oleh norma sosial, namun kapitalisme modern mengubahnya sehingga masyarakat tunduk pada mekanisme pasar itu telah mencabut ikan dari airnya.
Lalu menjual bangkainya sebagai simbol kemajuan. Tragisnya rakyat dibuat lupa rasa ikan segar dan mengira ikan memang harus kering, dan harus dipajang, Rakyat dibuat lupa ikan diciptakan untuk berenang, bukan untuk dipaku di dinding.
LIHATLAH DINDING RUMAH KITA
Malam ini, sebelum tidur, lihatlah dinding rumah kita. Mungkin ada foto wisuda atau foto keluarga. Bisa jadi ada piagam yang sejajar dengan kalender lama. Memori kolektif terpajang di dinding rumah kita.
Sekarang bayangkan, dinding itu penuh bangkai ikan aneka ragam. Setiap hari kita dipaksa tersenyum di depannya, memuji, dan berujar “ini demi masa depan”. Maka kita akan mengerti kenapa politik hari ini rasanya seperti ruangan pengap.
Kita tidak memerlukan galeri ikan. Kita membutuhkan sungai yang menghidupi. Kita tidak membutuhkan ikan pajangan tetapi ikan segar yang bebas berenang.
Ikan-ikan yang dipajang di dinding adalah sejarah masa silam. Sejarah tak mengenal jalan pulang, tetapi mengenal jalan masa depan. (rd)
Editor : Romdani.