Oleh:
Bambang Saputra
Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan
KALTIMPOST.ID-Di tengah berbagai tantangan global dan nasional, perekonomian Kaltim kembali menunjukkan kinerja ekonomi yang tumbuh membaik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, ekonomi Kaltim tumbuh sebesar 3,35 persen secara tahunan (year-on-year), setelah sebelumnya hanya tumbuh 2,99 persen.
Perbaikan tersebut ditopang oleh penguatan yang cukup merata pada sisi lapangan usaha, termasuk sektor utama pertambangan yang sebelumnya mengalami kontraksi menjadi tumbuh terbatas sebesar 1,43 persen.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,79 persen, didorong peningkatan okupansi hotel, aktivitas jasa boga, penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional.
Baca Juga: Hipmi Balikpapan Sambut Kolaborasi CIMB Niaga, Fokus Permudah Pembiayaan bagi Pengusaha Muda
Lapangan usaha informasi dan komunikasi tumbuh 12,62 persen, pengadaan listrik dan gas 11,51 persen, serta perdagangan besar dan eceran 11,47 persen.
Sejumlah indikator pendukung memperkuat gambaran perbaikan ini. Neraca perdagangan Kaltim mencatat surplus sebesar USD 3,42 miliar atau meningkat 8,34 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 11,53 persen secara tahunan.
Realisasi investasi penanaman modal asing tumbuh 24,45 persen. Nilai impor bahan baku dan penolong meningkat 123,78 persen, yang mengindikasikan peningkatan aktivitas produksi industri dan berpotensi berdampak lanjutan pada triwulan berikutnya.
Perbaikan kinerja tersebut juga berdampak nyata pada dimensi kesejahteraan Kaltim yang semakin membaik. Di tengah tekanan fiskal yang tidak mudah, persentase penduduk miskin per Maret 2026 tercatat turun menjadi 5,14 persen, jauh dibandingkan rata-rata nasional sebesar 8,07 persen, dan menempatkan Kaltim pada posisi tujuh terendah di antara 38 provinsi.
Tingkat pengangguran terbuka per Mei 2026 juga turun menjadi 5,24 persen, dengan penambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 17,70 ribu tenaga kerja sejak Februari 2026.
Baca Juga: Okupansi Hotel Berbintang di Balikpapan Naik Jadi 59,02 Persen, Industri Perhotelan Mulai Pulih
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi selanjutnya, sekurang-kurangnya terdapat lima langkah yang dapat ditempuh.
Pertama, penguatan hilirisasi. Industri pengolahan menguasai 20,10 persen perekonomian Kaltim, namun baru tumbuh 2,28 persen.
Penyiapan lahan dan utilitas pada kawasan industri, disertai penyederhanaan perizinan bagi industri turunan kelapa sawit, kimia, dan pengilangan migas, dapat mengangkat kinerja sektor ini.
Kedua, penguatan daya beli melalui stabilitas harga pangan. Konsumsi rumah tangga Kaltim tumbuh lebih dari 4 persen.
Penguatan peran tim pengendalian inflasi daerah (TPID) merupakan instrumen berbiaya rendah dengan dampak langsung.
Ketiga, peningkatan skala sektor jasa yang telah tumbuh dua digit, antara lain melalui penyusunan kalender kegiatan ekonomi terpadu yang dipublikasikan lebih awal sehingga pelaku usaha perhotelan dan perjalanan dapat merencanakan penawaran secara terjadwal.
Keempat, penguatan fasilitasi investasi bagi koridor kawasan ekonomi dan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan menyediakan kesiapan lahan, utilitas, dan tenaga kerja, sekaligus mengoptimalkan proyek bersumber APBN yang berlokasi di daerah.
Kelima, pengembangan ekonomi digital dan konektivitas logistik laut. Lapangan usaha informasi dan komunikasi masih berpangsa 1,61 persen. Sehingga ruang pertumbuhannya luas, sementara volume barang melalui angkutan laut meningkat 10,81 persen.
Arah perbaikan berkelanjutan telah terbentuk. Konsistensi kebijakan dan kejelasan penyelesaian persoalan fiskal antar daerah dan pusat akan menentukan seberapa cepat Kaltim kembali menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan. (rd)
Editor : Romdani.