Oleh:
Syafruddin Pernyata
Tokoh Literasi Kaltim
SUATU hari saya menyusuri Sungai Mahakam. Air mengalir tenang, sementara perahu yang saya tumpangi membelah arus menuju sebuah kecamatan di pedalaman. Di kejauhan berdiri sebuah jembatan beton yang megah. Bentangnya panjang, tiangnya menjulang, seolah menjadi lambang kemajuan.
Saya membayangkan besarnya manfaat jembatan itu. Ia tentu dibangun untuk menghubungkan wilayah, memperpendek waktu tempuh, memperlancar arus barang dan jasa, sekaligus membuka keterisolasian masyarakat.
Ketika perahu merapat, saya bertanya kepada beberapa warga.
"Apakah jembatan itu sudah bisa dilewati?"
Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum tipis.
"Belum, Pak. Sudah lebih dari sepuluh tahun."
Saya terdiam.
Bukan karena jembatannya rusak. Bangunan itu tetap berdiri kokoh. Persoalannya ternyata sederhana, tetapi sangat mendasar: jalan pendekat menuju jembatan belum tersedia. Tanpa jalan pendekat, jembatan itu belum mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai penghubung.
Ironisnya, di bawah jembatan yang belum berfungsi itu, para pelancong kadang masih beruntung menyaksikan pesut Mahakam muncul sesaat ke permukaan untuk menghirup udara. Mamalia air tawar kebanggaan Kalimantan Timur itu seolah menjadi saksi bahwa kemegahan tidak selalu menghadirkan kemanfaatan.
Pengalaman itu terus teringat setiap kali saya mendengar kata pembangunan.
Sejarah pembangunan tidak hanya berisi kisah bangunan yang berhasil berdiri. Ia juga menyimpan cerita tentang gedung yang bertahun-tahun tak selesai, jalan yang terputus sebelum mencapai tujuan, pasar yang megah tetapi sepi, atau fasilitas yang berdiri indah namun tak dapat dimanfaatkan karena unsur pendukungnya belum tersedia.
Bangunan-bangunan itu mengajarkan satu pelajaran sederhana: yang megah belum tentu berguna.
Mengapa hal seperti itu bisa terjadi?
Salah satu jawabannya adalah pembangunan tidak diawali dengan perencanaan yang matang. Yang dibangun lebih dahulu adalah bangunannya, bukan jalan pikirannya.
Padahal hakikat pembangunan bukanlah mendirikan bangunan, melainkan menghadirkan manfaat.
Ada banyak hal dalam hidup yang dapat dilakukan secara spontan. Mengajak sahabat minum kopi, berjalan sore, atau berkunjung ke rumah kerabat tidak memerlukan kajian panjang.
Namun pembangunan bukan salah satunya.
Membangun rumah, jalan, jembatan, sekolah, puskesmas, pelabuhan, bahkan membangun desa, kabupaten, provinsi hingga negara memerlukan perencanaan yang matang.
Perencanaan bukan sekadar menyusun daftar keinginan. Perencanaan adalah kemampuan menentukan prioritas—memilih mana yang paling penting, paling mendesak, yang harus didahulukan, dan yang dapat ditunda. Sebab sumber daya selalu terbatas, sedangkan kebutuhan nyaris tak pernah berujung.
Dalam demokrasi, pergantian pemimpin selalu membawa gagasan baru. Itu sesuatu yang wajar dan sehat. Namun semangat perubahan saja tidak cukup. Amanah rakyat bukanlah mandat untuk membangun apa saja yang diinginkan, melainkan tanggung jawab untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Kekuasaan tidak pernah dapat menggantikan fungsi perencanaan.
Perencanaan hadir agar pembangunan tidak mengikuti selera, melainkan kebutuhan; tidak mengejar kemegahan, tetapi kemanfaatan; tidak sekadar meninggalkan bangunan, melainkan menyelesaikan persoalan.
Tanpa perencanaan yang baik, biaya mudah membengkak karena banyak hal luput diperhitungkan. Waktu penyelesaian molor karena pekerjaan harus diulang. Mutu bangunan menurun karena dikejar target. Konflik muncul akibat kebutuhan masyarakat tidak benar-benar didengar. Bahkan risiko penyimpangan anggaran semakin besar karena perubahan pekerjaan dilakukan berulang kali.
Kita sering menyaksikan jalan yang baru selesai diaspal beberapa bulan kemudian dibongkar lagi untuk memasang drainase, pipa air bersih, atau kabel bawah tanah yang sebelumnya tidak direncanakan secara terpadu. Aspal rusak, anggaran bertambah, dan masyarakat kembali menjadi pihak yang menanggung ketidaknyamanan.
Logika yang sama berlaku dalam rumah tangga.
Ketika memiliki rezeki, sebuah keluarga tentu harus menentukan prioritas. Mungkin keramik teras sudah kusam, tetapi jika atap bocor, dapur mulai rapuh, atau instalasi listrik membahayakan penghuni rumah, memperbaiki bagian-bagian itulah yang lebih bijaksana. Kebutuhan harus selalu didahulukan daripada keinginan.
Begitu pula dalam pembangunan daerah.
Apa gunanya membangun sekolah yang megah jika anak-anak masih harus menyeberangi sungai atau melewati jalan berlumpur untuk mencapainya?
Apa manfaat mempercantik gedung puskesmas jika dokter, bidan, dan tenaga kesehatan belum tersedia?
Apa artinya membangun kawasan wisata yang indah apabila akses jalan, air bersih, dan jaringan telekomunikasi belum memadai?
Pembangunan yang baik selalu dimulai dengan satu pertanyaan sederhana: persoalan apa yang hendak diselesaikan?
Jika pertanyaan itu tidak pernah diajukan, pembangunan mudah berubah menjadi sekadar deretan proyek. Banyak yang berdiri, tetapi sedikit yang benar-benar menyelesaikan persoalan masyarakat.
Perencanaan tentu bukan berarti menolak perubahan. Rencana dapat disesuaikan ketika terjadi bencana, krisis ekonomi, atau keadaan luar biasa lainnya. Namun perubahan yang lahir dari kajian jauh berbeda dengan keputusan yang didasarkan pada selera sesaat.
Sesungguhnya masyarakat tidak membutuhkan pembangunan yang paling megah.
Mereka membutuhkan pembangunan yang paling berguna.
Yang akan dikenang sejarah bukanlah berapa banyak bangunan yang berhasil didirikan, melainkan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karenanya.
Sebab, yang megah belum tentu berguna. Tetapi yang berguna akan selalu menemukan kemuliaannya sendiri. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan