Masihkah Kemerdekaan Menyisakan Pilihan bagi Pemuda?

Akbar Sopianto • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:48 WIB
Rusmulyadi.
Rusmulyadi.

Oleh:

Rusmulyadi
Analis Kebijakan Pengembangan Pemuda Dispora Kaltim

AGUSTUS adalah bulan ketika Indonesia seperti menemukan kembali wajahnya. Merah putih berkibar di teras rumah, halaman kantor, sekolah, hingga gang-gang kecil. Pada 17 Agustus, jutaan pemuda berdiri tegap dalam upacara, menyanyikan lagu perjuangan, lalu memenuhi media sosial dengan pesan tentang cinta tanah air.

Namun, setelah bendera diturunkan dan panggung dibongkar, sebagian pemuda kembali pada pertanyaan yang jauh lebih sunyi: setelah lulus, saya bekerja di mana? Apakah penghasilan cukup untuk hidup layak? Kapan bisa memiliki rumah? Dan yang paling mendasar, masih adakah ruang bagi cita-cita di negeri yang diperjuangkan para pendahulu dengan darah, keringat, dan air mata?

Pertanyaan-pertanyaan itu semestinya hadir setiap kali kita berbicara tentang kemerdekaan.

Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Bagi pemuda, kemerdekaan juga berarti memiliki pilihan untuk menentukan jalan hidup, memperoleh pendidikan yang baik, mendapatkan pekerjaan bermartabat, menyampaikan pendapat, serta tumbuh tanpa terus-menerus dibatasi keadaan ekonomi keluarga.

Di dunia pendidikan, persoalan itu nyata. Statistik Pendidikan Tinggi 2025 mencatat sekitar 289 ribu mahasiswa putus kuliah pada 2024/2025. Angka tersebut tentu tidak seluruhnya disebabkan persoalan ekonomi. Namun, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengakui keterbatasan biaya dan jarak masih menjadi faktor yang membuat sebagian anak muda berhenti kuliah.

Pada titik ini, pilihan untuk terus belajar bukan semata soal kemampuan dan kemauan. Ada keadaan yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan.

Merdeka, tetapi Belum Banyak Pilihan

Negara dapat merdeka secara politik. Namun, pemudanya belum tentu memiliki cukup pilihan untuk menata masa depan.

Secara data, pembangunan pemuda memang terus bergerak. Laporan Indeks Pembangunan Pemuda 2025 mencatat sekitar 64,22 juta penduduk Indonesia berada pada kelompok usia pemuda. Indeks Pembangunan Pemuda juga meningkat menjadi 58,33 pada 2024. Capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama pemerintah, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas, dan berbagai pihak.

Namun, kemajuan angka tidak boleh membuat kita kehilangan kepekaan.

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15–19 tahun pada 2025 mencapai 23,34 persen, sedangkan kelompok usia 20–24 tahun sebesar 14,35 persen. Lebih dari sepertiga pemuda yang bekerja juga berada dalam pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Di sinilah paradoks itu terasa. Kita menyebut pemuda sebagai harapan masa depan bangsa, tetapi sebagian dari mereka masih berjuang mendapatkan tempat di masa kini.

Kita juga sering membanggakan bonus demografi, seolah jumlah penduduk muda yang besar otomatis menjadi keuntungan. Padahal, tanpa pendidikan yang relevan, pekerjaan layak, dan ruang partisipasi yang nyata, bonus demografi dapat kehilangan maknanya.

Kegelisahan pemuda pun jangan buru-buru dibaca sebagai kurangnya nasionalisme. Ketika mereka berbicara tentang bekerja di luar negeri, pindah kota, atau menunda membangun keluarga, mereka sedang menghitung risiko hidup secara rasional.

Mereka bukan kehilangan cinta kepada Indonesia. Mereka hanya ingin memastikan bahwa kerja keras masih memiliki jalan.

Menjaga Cadangan Kemerdekaan

Negara mengenal cadangan pangan, energi, dan devisa. Semua dijaga agar bangsa tetap memiliki daya tahan ketika keadaan berubah.

Barangkali kita juga perlu menjaga satu cadangan lain: cadangan kemerdekaan.

Cadangan kemerdekaan adalah ruang pilihan yang disisakan generasi hari ini bagi generasi berikutnya. Ia hadir dalam lingkungan yang masih layak dihuni, sumber daya alam yang tidak dihabiskan sekaligus, pendidikan yang membuka jalan, pekerjaan yang memberi martabat, teknologi yang memperkuat kemampuan manusia, serta ruang publik yang membuat pemuda merasa pendapatnya berarti.

Pemuda bukan sekadar penerima manfaat pembangunan. Mereka adalah kelompok yang paling lama menanggung akibat dari keputusan yang dibuat hari ini.

Kerusakan lingkungan akan mereka warisi. Ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dapat memengaruhi perjalanan karier mereka. Keterlambatan menguasai teknologi dapat menentukan daya saing mereka di masa depan.

Karena itu, pembangunan pemuda tidak cukup dilihat dari berapa banyak program yang telah dilaksanakan.

Sebagai bagian dari pemerintah, saya melihat perlunya menilai kembali efektivitas berbagai program kepemudaan. Pelatihan, dukungan usaha, forum pemuda, hingga ruang partisipasi telah banyak dilakukan. Persoalannya bukan semata-mata apakah program itu tersedia, melainkan apakah program tersebut benar-benar memperluas pilihan hidup pemuda.

Pelatihan tidak cukup dinilai dari jumlah peserta dan sertifikat yang dibagikan. Program kewirausahaan tidak selesai ketika kegiatan ditutup. Forum kepemudaan tidak seharusnya berakhir pada daftar hadir dan foto bersama.

Ukuran keberhasilannya lebih sederhana: apakah keterampilan pemuda bertambah, pekerjaan terbuka, usaha mampu bertahan, dan suara pemuda ikut memengaruhi keputusan?

Kemerdekaan yang Harus Diwariskan

Karena itu, kita perlu memastikan neraca kemerdekaan antargenerasi tetap seimbang. Bukan dengan membuat dokumen baru yang menambah panjang birokrasi, melainkan dengan membangun kebiasaan bertanya: apakah keputusan hari ini memperluas atau justru mempersempit pilihan generasi muda sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun mendatang?

Ketika sumber daya alam dimanfaatkan, apakah sebagian hasilnya diubah menjadi pengetahuan dan kemampuan generasi berikutnya?

Ketika teknologi diterapkan, apakah pemuda dipersiapkan menjadi pencipta atau hanya menjadi pasar?

Ketika anggaran dibelanjakan, apakah manfaatnya bertahan lebih lama daripada seremoni peresmiannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena pembangunan sejatinya bukan hanya tentang apa yang kita hasilkan hari ini, tetapi juga tentang apa yang masih bisa dipilih oleh generasi berikutnya.

Peringatan Hari Kemerdekaan karena itu tidak semestinya berhenti pada ajakan agar pemuda mencintai Indonesia. Negara pun harus terus bekerja agar layak dicintai.

Cinta kepada tanah air akan tumbuh lebih kuat ketika pemuda melihat pendidikan membuka jalan, kerja keras mendapat penghargaan, pelayanan publik menghadirkan keadilan, dan suara mereka tidak berhenti di luar ruang tempat keputusan dibuat.

Para pendiri bangsa telah mewariskan sebuah negara merdeka.

Tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa ketika republik ini sampai ke tangan para pemuda, Indonesia belum kehilangan seluruh pilihannya.

Sebab, warisan terbaik dari kemerdekaan bukan sekadar sebuah negara, melainkan masa depan yang belum kita habiskan. (s/as/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
peringatan hari kemerdekaan Proklamasi Indeks Pembangunan Pemuda 17 agustus dispora kaltim