Oleh:
Wiwik Setiawati
Kepala BGTK Kaltim
KALTIMPOST.ID-Setiap Agustus, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mengibarkan Merah Putih dan mengenang perjuangan para pendiri bangsa. Namun, setelah upacara selesai dan murid kembali ke kelas, muncul pertanyaan yang lebih mendasar.
Sudahkah kemerdekaan hadir dalam cara mereka belajar? Apakah murid memperoleh ruang untuk bertanya, mencoba, keliru, memperbaiki diri, dan menemukan makna dari pengetahuan?
Kemerdekaan dalam pendidikan bukanlah belajar tanpa arah. Kemerdekaan adalah terbebas dari pembelajaran yang hanya mengejar hafalan, jawaban tunggal, dan kepatuhan pasif.
Baca Juga: PAMA Salurkan Beasiswa GOTA 2026, Siswa SMA hingga Mahasiswa S-1 Dapat Dukungan Pendidikan
Ia tumbuh ketika murid memahami apa yang dipelajari, mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah, serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Di titik inilah pembelajaran mendalam (PM) serta koding dan kecerdasan artifisial (KKA) menjadi relevan dengan semangat kemerdekaan.
Pembelajaran Mendalam mengajak murid belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pengetahuan tidak berhenti sebagai isi buku, tetapi dihubungkan dengan kehidupan.
KKA melengkapinya dengan kemampuan mengurai masalah, mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, memeriksa hasil, dan memahami etika teknologi.
KKA bukan proyek untuk menjadikan semua anak sebagai pemrogram, melainkan ikhtiar agar mereka tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.
Baca Juga: Program PKM BIMA 2026 UMKT Perkuat Keterampilan Kader Dasawisma, Pantau Kesehatan Berbasis Digital
Di Kaltim, fondasi menuju perubahan tersebut mulai dibangun. Data Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kaltim mencatat, pada program PM 2025 terdapat sasaran 3.539 peserta yang terdiri atas kepala sekolah dan guru.
Realisasinya mencapai 3.420 peserta, yakni 985 kepala sekolah dan 2.435 guru atau sekitar 96,6 persen dari sasaran. Angka ini menunjukkan jangkauan pelatihan yang luas di sepuluh kabupaten dan kota.
Untuk KKA 2025, data yang sama mencatat sasaran 960 guru, terdiri atas 544 guru SD, 221 guru SMP, serta 195 guru SMA/SMK.
Pembelajaran dirancang dalam 40 kelas yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Sementara untuk 2026 disiapkan 32 sekolah model. Kaltim juga memiliki 229 fasilitator PM provinsi yang tersebar pada berbagai jenjang dan wilayah.
Angka-angka itu patut diapresiasi, tetapi tidak boleh menjadi garis akhir. Banyaknya peserta pelatihan belum otomatis berarti banyaknya ruang kelas yang telah berubah.
Sertifikat memang menunjukkan seseorang telah mengikuti kegiatan, tetapi perubahan pembelajaran baru terlihat ketika guru merancang pengalaman belajar yang berbeda dan murid merasakan dampaknya. Karena itu, data pelatihan perlu dibaca bersama temuan lapangan.
Laporan Supervisi Pembelajaran Mendalam BGTK Kaltim pada Maret–April 2026 memberikan gambaran lebih konkret. Supervisi terhadap 13 guru peserta pelatihan PM 2025 dilakukan melalui pemeriksaan rencana, observasi kelas, pertemuan individual, dan refleksi.
Jumlah tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk menggambarkan seluruh sekolah di Kaltim, tetapi temuannya memberi petunjuk penting mengenai tahap awal implementasi.
Dari sisi positif, mayoritas guru yang disupervisi telah menyiapkan Rancangan Pembelajaran Mendalam, lembar kerja, dan bahan tayang dengan baik.
Baca Juga: Merdeka Sehat Fest 2026 di Balikpapan, RSP Panorama Buka Layanan KB IUD dan Implan Gratis
Sejumlah guru menggunakan model pembelajaran aktif, mengangkat konteks kehidupan sehari-hari, serta memanfaatkan teknologi dan gamifikasi.
Murid tampak lebih antusias, terlibat dalam kerja kelompok, berkomunikasi, dan menunjukkan penalaran kritis. Di beberapa sekolah, kepala sekolah juga mendukung melalui penyediaan fasilitas dan ruang kolaborasi.
Namun, laporan tersebut juga menemukan jarak antara terminologi dan transformasi. Di beberapa kelas, guru masih dominan berceramah sehingga murid kurang aktif. Tahap mengaplikasikan pengetahuan belum selalu dirancang secara terukur.
Asesmen sumatif, refleksi, dan penyelarasan antara tujuan dengan aktivitas kelas masih perlu diperkuat. Prinsip menggembirakan terkadang dipahami sebatas ice breaking, padahal kegembiraan belajar seharusnya juga lahir dari kepuasan ketika murid berhasil memahami dan memecahkan tantangan.
Temuan lain menyangkut ekosistem sekolah. Budaya kolaborasi telah tumbuh di sejumlah tempat, tetapi keterbatasan fasilitas, dukungan struktural, kondisi geografis, dan padatnya jam mengajar masih menghambat guru untuk mengembangkan media serta memperbaiki praktik.
Temuan itu mengingatkan bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dibebankan kepada guru secara individual. Pelatihan harus diikuti pendampingan dan ruang belajar yang berkelanjutan.
Di sinilah Hari Belajar Guru memperoleh arti strategis. Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5684/MDM.B1/HK.04.00/2025 menempatkan guru sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Di Kaltim, komitmen tersebut telah memperoleh tindak lanjut. Pemprov Kaltim dan seluruh pemerintah kabupaten/kota telah menerbitkan surat edaran turunan tentang Hari Belajar Guru.
Keserentakan regulasi itu merupakan modal penting, tetapi pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Hari Belajar Guru jangan berhenti sebagai penjadwalan atau bukti administrasi.
Baca Juga: Penurunan Merah Putih Tutup HUT Ke-81 RI di Kubar, Generasi Muda Jadi Simbol Estafet Kepemimpinan
Ia harus menjadi waktu yang terlindungi bagi guru untuk membedah hasil asesmen, menyempurnakan rancangan PM, mencoba aktivitas KKA, melakukan observasi sejawat, serta mendiskusikan kesulitan nyata di kelas.
KKG, MGMP, komunitas belajar, dan forum kepala sekolah dapat menjadi ruang untuk mengubah hasil supervisi menjadi agenda perbaikan bersama.
Data supervisi sebenarnya telah menunjukkan bahan belajar yang sangat jelas. Guru dapat berlatih mengurangi dominasi ceramah, merancang asesmen dengan lebih baik, membedakan kegiatan menyimpulkan dan berefleksi, serta menyesuaikan pembelajaran dengan keragaman kemampuan murid.
Guru yang telah berhasil mengintegrasikan teknologi atau pembelajaran kontekstual dapat menjadi narasumber bagi rekannya.
Dengan demikian, praktik baik tidak berhenti pada satu kelas, sedangkan kesulitan tidak ditanggung seorang diri.
KKA juga membutuhkan budaya belajar semacam itu. Perkembangan kecerdasan artifisial jauh lebih cepat daripada umur sebuah modul pelatihan.
Guru perlu terus berdiskusi mengenai manfaat, bias, privasi, integritas akademik, dan cara menggunakan AI tanpa mematikan daya pikir murid.
Hari Belajar Guru dapat menjadi ruang untuk menguji perangkat, merancang proyek, dan menyepakati rambu etis sesuai usia serta konteks sekolah.
Ukuran keberhasilan pada akhirnya bukan hanya 3.420 peserta PM, 960 guru sasaran KKA, 32 sekolah model, atau 229 fasilitator. Semua angka itu penting sebagai penanda jangkauan.
Namun, keberhasilan yang lebih hakiki terlihat ketika murid semakin berani bertanya, guru semakin reflektif, dan ruang kelas semakin mampu menghubungkan pengetahuan dengan persoalan kehidupan.
Baca Juga: Gratis 4.000 Bandeng! Torani Rayakan HUT ke-19 di Balikpapan dan Samarinda, Catat Jadwalnya
Kemerdekaan yang sejati tidak hanya diperingati di halaman sekolah setiap Agustus. Ia dihidupkan setiap hari ketika murid tidak sekadar menerima jawaban, guru tidak berhenti belajar setelah pelatihan, dan kebijakan daerah menjelma menjadi budaya kolaborasi.
Dari pertemuan antara PM, KKA, dan Hari Belajar Guru itulah ruang kelas di Kaltim dapat menjadi tempat lahirnya generasi yang merdeka dalam berpikir sekaligus bertanggung jawab dalam bertindak. (s/as/rd)
Editor : Romdani.