Inflasi Kaltim dalam Bayang-Bayang El Niño dan Angin Selatan ‎

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:22 WIB

Dosen & Peneliti STIE Balikpapan Bambang Saputra.

Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan, Bambang Saputra.

Oleh:

Bambang Saputra

‎Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan

INFLASI Juli 2026 di Bumi Etam memberikan sinyal yang layak diamati. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, inflasi year-on-year (yoy) tercatat sebesar 3,31 persen, jauh di atas inflasi nasional pada periode yang sama sebesar 2,88 persen.

Kota Samarinda mencatat inflasi tertinggi se-Kaltim (3,77 persen), sedangkan Penajam Paser Utara yang terendah pun masih berada pada angka 2,34 persen. Tekanan harga di Kaltim konsisten lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata Indonesia.

‎Penyumbang inflasi terbesar di Kaltim bukanlah pangan, melainkan kelompok transportasi yang melonjak 9,83 persen (andil 1,28 persen) serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 10,16 persen (andil 0,69 persen), terutama didorong oleh emas perhiasan dan bensin.

‎Pola ini berbeda dari pola nasional, tempat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar, yaitu 2,97 persen (yoy), meskipun melambat berkat panen raya bawang merah dan cabai rawit.

‎Di sinilah letak kewaspadaan yang perlu dibangun. BMKG hingga pertengahan Juli 2026 telah mengonfirmasi bahwa lebih dari separuh wilayah daratan Indonesia memasuki musim kemarau, dengan puncak El Niño diperkirakan jatuh pada Agustus 2026 dan berdurasi lebih panjang daripada normal di hampir separuh wilayah.

‎Dampaknya belum terlihat luas pada Juli, deflasi komponen bergejolak justru terjadi karena panen raya bawang merah dan cabai. Namun, anomali sudah tampak pada beras: harga produsen naik lebih cepat (4–6,4 persen) dibandingkan dengan harga eceran (1–3 persen). Hal ini menandakan adanya tekanan pasokan dari hulu yang belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen.

‎Sebagai net-importir pangan dari Sulawesi dan Jawa, Kaltim menghadapi risiko ganda: gangguan produksi domestik dan di daerah pemasok, sekaligus gangguan pada jalur distribusi lautnya sendiri.

‎Musim kemarau yang berbarengan dengan puncak El Niño biasanya membawa penguatan angin selatan (monsun Australia, Juni–Agustus) yang memicu gelombang tinggi di Selat Makassar dan Laut Jawa, jalur pelayaran utama pemasok Kaltim.

Penelitian Haiyqal dkk. (2023) mengonfirmasi bahwa tinggi gelombang di Selat Makassar bagian selatan justru meningkat, baik saat El Niño maupun La Niña, dibandingkan dengan kondisi normal.

Hal ini sejalan dengan peringatan BMKG mengenai potensi gelombang setinggi 4–6 meter di sejumlah perairan Indonesia pada pertengahan Agustus 2026.

‎Ketika gelombang tinggi memaksa penundaan pelayaran kapal barang antarpulau, pasokan sembako dan komoditas segar dari Jawa-Sulawesi ke Pelabuhan Balikpapan dan Samarinda berisiko tersendat, sementara permintaan tetap normal, sehingga memperbesar tekanan pada komponen harga bergejolak, tepat saat produksi domestik juga tertekan oleh anomali cuaca.

Kombinasi ini, ditambah dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi transisi (efek mandatori B50 sejak Juli 2026), berpotensi membuat inflasi Kaltim tetap berada di atas rata-rata nasional pada bulan-bulan mendatang.

‎TPID Kaltim perlu memperkuat langkah antisipatif: Memastikan pasokan beras SPHP dan stabilisasi Bulog menjangkau pasar rakyat; Mendorong gerakan produksi pangan lokal berkelanjutan; Memperkuat kerja sama dengan sentra produksi Sulawesi Selatan; Menjaga stok penyangga di pelabuhan untuk mengantisipasi penundaan pelayaran saat puncak angin selatan; serta Memantau secara ketat harga komoditas bergejolak menjelang puncak kemarau.

‎Memasukkan indikator Ocean Nino Index (ONI) dan prakiraan gelombang BMKG ke dalam sistem pemantauan dini inflasi daerah dapat membantu TPID merespons lebih cepat sebelum tekanan harga meluas. (lil/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
INFLASI Kaltim Juli 2026 peringatan BMKG el nino angin selatan harga bbm nonsubsidi