Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis Buku “Empat Titik Lima Dimensi”
KALTIMPOST.ID, Pada mulanya, saya tidak begitu mengenal artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ini sebagai “makhluk” macam apa. Beberapa tahun belakangan, pemberitaan di media arus utama ataupun perbincangan warganet di media sosial acap kali menyinggung perihal AI, mulai dari potensi, tantangan, hingga ancaman yang menyertainya.
Apalagi, gerak zaman kian gesit. Dalam sepersekian detik, perubahan berbagai bidang kehidupan akibat disrupsi teknologi informasi dan komunikasi bisa saja terjadi tanpa aba-aba. Kita yang hanya bisa melongo, mengangguk-angguk, dan sama sekali tidak merespons bisa saja digiling dan digilas pelan-pelan oleh AI. Termasuk dalam dunia industri dan usaha (DUDI), yang trennya saat ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan mulai mencari dan menyeleksi kandidat pelamar kerja yang mahir menggunakan AI.
Demikian juga di bidang kreatif, seperti halnya kepenulisan. Para penulis esai, opini, cerpen, novel, komik, buku ilmiah, dan semacamnya memiliki persoalan dan tantangan serupa terkait kehadiran AI. Kelebihan dan kekurangan pasti ada. Ibarat pedang, AI ini menyimpan potensi sekaligus bahaya besar jika tidak bijaksana dalam memakainya.
Terkait hal itu, saya akan mengambil contoh diri saya sendiri yang memang selama kurang lebih 13 tahun menggeluti dunia tulis-menulis, khususnya menulis esai atau opini. Terus terang saja, saya baru mencoba mengenali dan menggunakan AI sekitar satu tahun belakangan ini. Itu pun karena dorongan istri saya yang membujuk dengan narasi cukup memikat, yang pada intinya menceritakan bahwa AI adalah alat yang bisa mempermudah dan membantu saya dalam menulis.
Baca Juga: Jembatan Pulau Balang dan Jawaban atas Ketimpangan Ekonomi PPU
Tentu saja saya tidak langsung mengamini pernyataan tersebut. Beberapa bantahan yang saya lontarkan adalah bahwa saya masih mampu menulis sendiri tanpa bantuan AI, mulai dari pencarian ide hingga proses editing. Saya berpandangan, modal utama penulis, yang pertama dan paling utama, adalah membaca. Membaca apa pun, tidak harus berupa teks seperti halnya buku, jurnal ilmiah, buletin, dan portal berita misalnya.
Namun, bisa juga dengan membaca alam semesta, manusia, dan realitas sosial di sekeliling kita. Termasuk juga melalui refleksi diri dan tafakur. Hal semacam itu merupakan cara untuk menemukan dan menggali ide. Manusia, alam, dan fenomena sosial bisa jadi sumber inspirasi. Dengan modal semacam itu, bagi saya pribadi, menulis bukan menjadi hal yang begitu sulit untuk dilakukan.
Namun, nyatanya, istri saya tidak tinggal diam. Ia tetap bersikukuh bahwa AI ini bisa menjadi mitra yang membantu berbagai tugas dan pekerjaan sehari-hari kita. Termasuk dalam menulis opini. Lebih spesifiknya lagi, AI dapat mempercepat segala tahapan proses kreatif yang barangkali membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Padahal, saya pribadi tidak begitu terburu-buru dalam menulis seolah-olah sedang dikejar anjing penjaga. Saya menikmati segala prosesnya dari awal hingga akhir. Tapi, memang kadang writer’s block kerap kali menghampiri. Namun, saya sudah menyiapkan jalan keluarnya untuk mengatasinya. Salah satunya dengan memperbanyak bacaan fiksi dan nonfiksi, termasuk konsumsi berita aktual.
Lebih lanjut lagi, saya pun penasaran dan mulai mencoba menggunakan AI. Namun, saya tetap berkomitmen agar jangan sampai AI mengendalikan atau mendikte seluruh proses kreatif saya. Bagaimanapun juga, AI harus tetap menjadi mitra yang membantu. Bukan sebaliknya, yakni justru menjadi bumerang yang pada akhirnya membuat daya nalar dan kreativitas saya sebagai esais/kolumnis menjadi tumpul sebab semua diserahkan total kepada AI.
Misalnya, dengan memasukkan prompt atau instruksi agar AI membuatkan tulisan opini yang berkualitas dengan tema tertentu. Lalu, saya tinggal duduk manis menunggu hasilnya. Padahal, tidak semua tulisan yang disajikan oleh AI itu bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. Tidak semua sumber yang dikutip AI akurat dan relevan. Belum lagi, data yang diberikan bisa sangat terbatas. AI juga bisa mengutip referensi yang fiktif (hallucinated citations). Ditambah lagi, ada risiko plagiarisme di dalamnya.
Mengenai hal itu, Ivanov (2023) dan Govil (2025) sudah pernah menjelaskan bahwa penggunaan AI dengan ketergantungan berlebihan berpotensi menyebabkan demotivasi dan menumpulnya kemampuan kognitif seseorang. Akibatnya, kemampuan belajar aktif dan pemecahan masalah seseorang akan berkurang. Tidak hanya itu, Hannah Arendt, filsuf sekaligus sejarawan asal Jerman, pernah mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi masyarakat modern bukan selalu lahir dari kebencian, melainkan dari hilangnya kebiasaan berpikir.
Dalam konsep the banality of evil, Arendt menunjukkan bagaimana manusia dapat melakukan tindakan yang merusak ketika berhenti merefleksikan tindakannya sendiri. Dalam konteks catatan ini, di era AI, peringatan Arendt menjadi cukup relevan dan memperoleh makna baru. Yaitu bahwa ketika manusia menerima jawaban AI tanpa menguji logika, memverifikasi fakta, atau mempertimbangkan dampaknya, fungsi berpikir perlahan digantikan oleh kenyamanan teknologi.
Memang benar bahwa keberadaan AI ini mempermudah kita dalam proses belajar, berpikir, dan menyelesaikan masalah. Terutama yang berkaitan dengan pekerjaan kreatif kepenulisan, AI bisa membantu penulis dalam merancang outline, brainstorming, melakukan riset kilat, mengecek tata bahasa dan struktur kalimat, mengoreksi kesalahan penulisan kata atau ejaan, hingga memperbaiki alur logika tulisan. Saya sendiri menyadari betul bahwa penggunaan AI, khususnya ChatGPT, dalam menulis opini ini ternyata cukup efektif. Terutama dalam proses pencarian dan penjaringan ide, pembuatan kerangka tulisan, hingga proofreading. Biasanya proses tersebut cukup memakan waktu. Berkat bantuan ChatGPT, durasi proses tersebut bisa dipangkas.
Baca Juga: Mengembalikan Marwah Pedagogi di Tengah Derasnya Arus Digitalisasi
Hanya saja, perlu digarisbawahi, penggunaan ChatGPT tanpa kendali, kontrol, dan kesadaran penuh akan dampak negatifnya bisa membuat penulis terlena dan bahkan kecanduan. Bisa saja sewaktu-waktu kita meminta ChatGPT untuk membuatkan topik, judul, lead (paragraf pembuka), batang tubuh artikel, dan penutup, tanpa sedikit pun sentuhan dari penulis itu sendiri.
Jika demikian, bukankah karya tulis tersebut adalah hasil pemikiran ChatGPT? Kita hanya bisa memasukkan perintah demi perintah lalu menanti tulisan dibikinkan dan dihidangkan di hadapan kita. Tidak peduli dengan datanya yang tidak akurat, diksinya yang monoton, gaya bahasa yang sangat kaku, dan rujukan yang tidak jelas. Tidak peduli juga dengan potensi plagiarisme yang begitu tinggi dan etika akademik yang dilabrak. Kalau begitu, kita sejatinya bukanlah penulis.
Namun, kita justru menjadi pihak yang mengklaim sepihak olahan ChatGPT seolah-olah hasil pemikiran dan analisis kita pribadi. Padahal, tulisan yang bermutu, hemat saya, adalah tulisan yang lahir dari emosi, pengalaman hidup, dan pemikiran orisinal penulis itu sendiri. Hal itu, sekali lagi, tidak mungkin dimiliki mesin.
Pormadi Simbolon, Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Banten, dalam tulisan berjudul AI Semakin Pandai Menulis, Manusia Harus Semakin Bijaksana, yang dipublikasikan di laman Kemenag.go.id pada Kamis, 6 Agustus 2026, menukil pandangan Neil Postman yang jauh sebelumnya telah mengingatkan bahwa setiap teknologi tidak hanya mengubah apa yang kita lakukan, tetapi juga cara kita berpikir. Ketika manusia terbiasa memperoleh jawaban secara instan, proses membaca mendalam, merenung, dan menyusun argumentasi perlahan kehilangan tempatnya. Yang terancam bukan kemampuan menulis, melainkan disiplin intelektual untuk bergulat dengan gagasan.
Selain itu, masih dalam tulisan yang sama, Pormadi juga menyitir pendapat Zygmunt Bauman yang menggambarkan zaman kita sebagai liquid modernity (2000), yakni masyarakat yang mengagungkan kecepatan, fleksibilitas, dan kepuasan instan. AI adalah representasi sempurna dari budaya cair itu. Jawaban tersedia dalam hitungan detik, ringkasan menggantikan buku, dan efisiensi menjadi ukuran utama. Namun, Bauman mengingatkan bahwa kehidupan yang terlalu cair dapat kehilangan kedalaman. Pengetahuan berubah menjadi komoditas yang dikonsumsi cepat, bukan kebijaksanaan yang didapatkan lewat refleksi.
Sebagai penutup catatan ini, kita bisa sedikit memahami bahwa kehadiran AI memang bisa menjadi belenggu ataupun mitra kerja dan belajar kita. Semua itu tergantung pada kita sebagai penggunanya. Maka, menjadi relevan pula pemikiran Thomas Rui Mendes dan Ana Cristina Antunes (2023) yang menerangkan bahwa untuk memastikan hasil yang akurat, kreatif, dan menarik, kolaborasi antara AI dan manusia perlu dioptimalkan.
Dalam hal ini, AI sebaiknya dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti manusia. Dengan begitu, pendekatan yang kolaboratif dan edukatif menjadi penting agar AI betul-betul menjadi alat bantu, bukan menjadi pengganti manusia dalam berpikir dan berkarya.
Sebab, daya cipta dan kreativitas kita sebagai manusia harus dioptimalkan. Apalagi, kita memiliki daya imajinasi yang tidak dimiliki AI. Sebab itulah, sudah semestinya para penulis mampu mempersembahkan kepada publik tulisan-tulisan yang autentik, bernas, dan sesuai konteks. Pertanyaannya, mampukah kita menjadikan AI sebagai mitra dalam bekerja atau berkarya? Atau jangan-jangan selama ini pikiran kita terbelenggu oleh AI? Mari renungi bersama. (*)
Editor : Almasrifah