Maulid Nabi dan Muhasabah Umat: Mengubah Romantisme Sejarah Menjadi Aksi Nyata Menuju Kemandirian

Redaksi KP • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 19:37 WIB
Amir Hady
Amir Hady

Oleh:

Amir Hady
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kaltim

SETIAP kali tanggal 12 Rabiul Awal tiba, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan penuh sukacita. Namun, di balik semarak lantunan selawat dan peringatan seremonial, momen Maulid Nabi SAW sejatinya menyimpan panggilan yang lebih dalam: desakan untuk melakukan muhasabah atau refleksi diri secara jujur dan objektif.

Hari ini, kita dihadapkan pada realitas yang tak bisa diabaikan. Dalam berbagai panggung peradaban, mulai dari penguasaan sains, inovasi teknologi, hingga kemandirian ekonomi, umat Islam masih tertatih dan kerap tertinggal. Kita memiliki sejarah masa lalu yang gemilang, tetapi sejarah tidak bisa hanya dijadikan romantisme pelipur lara. Meneladani Rasulullah SAW di era modern menuntut lebih dari sekadar mengenang; ia membutuhkan tindakan strategis, terukur, dan berdampak nyata.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan untuk mengurai ketertinggalan ini? Peta jalannya sebenarnya sudah diwariskan oleh beliau, tetapi perlu kita terjemahkan ke dalam narasi kekinian.

Pertama, kembali pada ruh “Iqra” secara total.

Wahyu pertama bukanlah perintah untuk melakukan ritual ibadah, melainkan perintah untuk membaca, meneliti, dan memahami semesta. Untuk bangkit, umat tidak bisa lagi menomorduakan pendidikan.

Kita harus secara aktif mengawal kebijakan pendidikan yang berkeadilan, memastikan aturan-aturan yang ada benar-benar menjamin akses ilmu bagi semua lapisan, tanpa terkecuali. Lebih dari itu, filantropi umat seperti zakat dan wakaf harus mulai dialihkan secara masif untuk membiayai riset, beasiswa, dan pengembangan literasi, bukan semata-mata mengendap pada pembangunan infrastruktur fisik.

Generasi yang kritis dan analitis adalah fondasi peradaban.

Kedua, menanamkan budaya itqan dan tata kelola yang profesional.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat menghargai profesionalisme dan ketuntasan dalam bekerja (itqan). Nilai ini harus diwujudkan dalam cara kita mengelola organisasi, lembaga sosial, hingga institusi pendidikan.

Tata kelola kesekretariatan yang tertib merupakan gerbang utama untuk mencegah segala bentuk maladministrasi yang merusak kepercayaan umat. Saatnya kita meninggalkan cara kerja tradisional dan mulai mengadopsi sistem manajemen modern yang berbasis Indikator Kinerja Utama (KPI).

Dengan begitu, setiap program keumatan tidak hanya terlaksana secara administratif, tetapi benar-benar membawa outcome yang keberhasilannya dapat diukur.

Ketiga, mengubah mentalitas dari konsumen menjadi produsen.

Jauh sebelum diangkat menjadi utusan Allah, Nabi Muhammad SAW adalah seorang saudagar dan wirausahawan yang ulung. Beliau membangun kemandirian melalui etos kerja yang tinggi.

Umat Islam hari ini harus mengadopsi mentalitas tersebut dengan mulai mengelola aset-aset secara strategis. Tidak boleh lagi ada aset umat yang terbengkalai atau pasif. Tanah, bangunan, atau kas yang menganggur harus dikonversi menjadi instrumen produktif, seperti inkubator bisnis atau pusat pelatihan vokasi, yang mampu menyerap tenaga kerja dan menghidupkan urat nadi ekonomi lokal.

Kita harus menjadi kreator dan produsen, bukan sekadar pasar yang terus-menerus mengonsumsi produk bangsa lain.

Keempat, membangun sinergi dan merawat reputasi.

Melalui Piagam Madinah, Rasulullah mengajarkan bagaimana menyatukan faksi-faksi yang berbeda untuk satu tujuan mulia. Sayangnya, hari ini energi umat sering kali habis terkuras untuk berdebat pada hal-hal kecil yang tidak prinsipil.

Ego kelompok harus segera dikesampingkan. Kolaborasi nyata dalam memecahkan masalah kemiskinan dan kebodohan jauh lebih mendesak daripada perselisihan internal.

Selain itu, di era digital, kita dituntut untuk cerdas dalam mengelola reputasi. Publik harus melihat bahwa lembaga dan komunitas Islam dikelola dengan wajah yang modern, inklusif, ramah, dan selalu berorientasi pada solusi.

Ketertinggalan umat Islam bukanlah sebuah takdir yang paten. Ia merupakan konsekuensi logis ketika kita perlahan melepaskan etos keilmuan, kedisiplinan, dan semangat kemandirian yang dahulu diajarkan oleh Sang Teladan.

Kini, momentum Maulid Nabi SAW memanggil kita. Perubahan besar tidak harus menunggu komando dari atas; ia bisa dimulai dari ruang-ruang lingkup yang kita pimpin hari ini.

Mari ubah kerinduan kita kepada Rasulullah SAW menjadi ghirah, energi kerja yang nyata, profesional, dan membawa rahmat bagi semesta. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
Muhammadiyah Kaltim kelahiran Nabi Muhammad Piagam Madinah maulid nabi Rasulullah SAW