KALTIMPOST.ID - Kamis, 3 September 2026, pukul 09.30 Wita, kabar duka ramai diperbincangkan di grup WhatsApp Lisensi C Kaltim. Saya merupakan salah satu anggotanya. Salah seorang alumni Lisensi C, Ali Vamous, mengirim pesan singkat.
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Ayah Iwan meninggal dunia."
Pesan itu kemudian dibalas Sultan Samma, asisten pelatih Borneo FC yang juga merupakan teman satu angkatan dalam kursus Lisensi C beberapa tahun silam. Dengan nada tidak percaya, Sultan bertanya menggunakan bahasa Banjar, "Bujuran kah?" yang berarti "Betulan kah?"
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Singkat, 4 September 2026: Mudahkan Urusan Orang Lain dan Allah Mudahkan Urusanmu
Sampai pada titik itu, saya masih tidak percaya Ayah Iwan—begitu kami memanggilnya selama kursus—telah berpulang. Hingga akhirnya, ucapan belasungkawa bermunculan di media sosial, di antaranya dari Instagram Borneo FC dan PSSI Kaltim. Beberapa teman sesama pelatih juga turut memberikan ucapan perpisahan dan doa.
Saya memang tidak terlalu dekat dengan almarhum. Namun, saya pernah mengenalnya. Tepatnya ketika beliau menjadi pelatih PBFC, yang kini bernama Borneo FC, pada 2017–2018.
Sebagai pelatih, Iwan Setiawan merupakan sosok yang sangat keras, tetapi juga unik. Salah satu hal yang saya ingat, setiap sesi gim, Ayah Iwan selalu duduk di tribun VIP. Dari sana, dia bisa memantau pergerakan pemain dengan lebih jelas.
Ayah Iwan juga sosok pelatih yang terbuka ketika diwawancarai wartawan setelah sesi latihan. Tak jarang, sesi wawancara berlangsung cukup lama karena Ayah suka membahas berbagai hal secara detail.
Namun, di sisi lain, Ayah Iwan juga dikenal sebagai pelatih yang cukup berani melontarkan kalimat perang kepada calon lawan.
Di Eropa, psywar bukan hal yang aneh. Bahkan, hal tersebut sudah dianggap normal. Namun, di Indonesia, dari semua pelatih yang saya kenal, Ayah Iwan merupakan satu-satunya yang berani melontarkan psy war secara terbuka.
Baca Juga: Khutbah Jumat Singkat, 4 September 2026: Kebakaran Hutan, Kekeringan, dan Teguran Allah SWT
Pada kompetisi 2014–2015, dia pernah melontarkan psywar terhadap Persib Bandung. Karena aksi tersebut, Iwan bahkan mendapat julukan "si mulut besar".
Ayah juga pernah melontarkan pernyataan pedas kepada beberapa pelatih. Di antaranya Dejan Antonic, Djadjang Nurdjaman, hingga pelatih Timnas Indonesia saat itu, Indra Sjafri.
Namun, di balik kontroversinya, Iwan Setiawan merupakan sosok yang baik. Saya pribadi pernah merasakan kebaikannya saat mengikuti kursus Lisensi C Diploma PSSI di Samarinda pada 2023.
Ayah Iwan membimbing peserta kursus dengan baik. Dia bahkan langsung mengenali saya ketika itu karena latar belakang saya sebagai wartawan olahraga.
Saat itu, bisa dibilang saya tidak begitu menguasai materi dibandingkan beberapa peserta lain yang memang fokus di sepak bola. Ayah selalu meminta saya tampil percaya diri setiap kali maju sebagai peraga.
"Doni harus percaya diri saat membawakan materi. Pelatih harus berwibawa, harus rapi saat masuk lapangan. Doni bosnya, jadi harus tegas dan lantang."
Itu salah satu pesan yang dia berikan kepada saya.
Selain menjadi instruktur kursus, saat itu Ayah juga dipercaya sebagai Direktur Teknik Asprov PSSI Kaltim. Beliau cukup aktif mengisi materi dalam berbagai kesempatan. Meski bukan putra Kaltim, Ayah tetap menjadi bagian dari perjalanan sepak bola daerah ini dan akan selalu dikenang.
Kini, sosok kontroversial itu telah berpulang. Bagaimanapun caranya menangani tim, Iwan Setiawan pernah memberi warna tersendiri bagi sepak bola Tanah Air.
Selamat jalan, Ayah Iwan Setiawan. (*)
(Penulis merupakan wartawan Kaltim Post)
Editor : Ery Supriyadi