Haornas dan Komunikasi Politik Bukti: Setelah Lux, Selanjutnya Medali PON ?

ADV • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:13 WIB
Rusmulyadi.
Rusmulyadi.

Oleh:

Rusmulyadi

Analis Kebijakan Pengembangan Pemuda Dispora Kaltim

Stadion Segiri Samarinda tampil lebih menyala, sebuah hadiah nan indah menjelang Hari Olahraga Nasional (Haornas), 9 September.

----

KETIKA Borneo FC memastikan diri tampil di kompetisi Asia, persoalan lampu Stadion Segiri menjadi lebih dari sekadar urusan teknis. Klub harus mencari tempat lain karena kandang sendiri belum memenuhi standar pencahayaan. Gubernur Rudy Mas’ud pun berjanji membenahinya.

Janji soal lampu Stadion Segiri sudah dibayar lunas, dan itu pantas dicatat sebagai “politik bukti”. Gubernur Rudy Mas'ud berjanji membenahi pencahayaan, lalu tepat 111 hari kemudian 124 lampu dipindahkan dari Palaran ke Segiri; hasilnya terukur: pencahayaan naik menjadi 1.787 lux dari sebelumnya 900 lux. Ini bukan sekadar kisah stadion yang lebih terang menjelang Haornas 9 September, melainkan pola komunikasi kepemimpinan yang tidak berhenti pada pidato, persoalan muncul, keputusan diambil, pekerjaan selesai, angka berbicara.

Rudy Mas’ud memilih berkomunikasi lewat bukti.

Tetapi justru karena buktinya sudah ada, Haornas semestinya menjadi audit janji berikutnya, target tiga besar PON 2028. Kaltim baru saja berada di peringkat 8 PON XXI Aceh–Sumut 2024 dengan 29 emas, 55 perak, 68 perunggu—jarak menuju tiga besar tidak bisa dikejar dengan seremoni, melainkan dengan sistem pembinaan: sport science, pelatih berkualitas, pemetaan cabor potensial, serta ajang seperti Porprov VIII Paser (14–27 November 2026) yang harus berfungsi sebagai mesin pencarian bakat, bukan pesta empat tahunan. Setelah lux, ukuran “bukti” berikutnya seharusnya bukan lagi stadion yang kian terang, melainkan medali yang benar-benar naik, sampai podium PON 2028.

Haornas kali ini dimulai dengan momentum realisasi janji sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat lebih jauh, apakah jalan menuju prestasi olahraga Kaltim juga semakin terang?

Stadion hanyalah panggung. Prestasi lahir jauh sebelum seorang atlet memasuki lapangan.

Ambisi Besar Olahraga Kaltim

Komitmen lain Rudy Mas’ud terhadap olahraga Kaltim tak berhenti pada pembenahan fasilitas. Di awal menjabat sebagai orang nomor 1 di Benua Etam dirinya memasang target agar Kaltim menembus tiga besar pada PON 2028, setelah pada PON XXI Aceh-Sumut 2024 berada di peringkat kedelapan dengan 29 emas, 55 perak, dan 68 perunggu.

Target itu kemudian ditegaskannya kembali di berbagai kesempatan. Olahraga Kaltim harus naik kelas, dengan pembinaan atlet, sport science, pelatih berkualitas, dan pemetaan cabang olahraga potensial sebagai bagian dari jalannya. Target tersebut memang ambisius.

Tetapi target selalu memiliki konsekuensi.

Kalau ingin naik dari peringkat kedelapan menuju tiga besar, maka pembinaan juga harus naik kelas.

Di sinilah olahraga tidak bisa lagi dilihat sebatas event.

Langkah awal dimulai PORPROV VIII Kaltim yang akan digelar di Paser pada 14–27 November 2026 mendatang, semestinya tidak berhenti sebagai pesta olahraga empat tahunan. Pemerintah provinsi telah memilih untuk tetap menyelenggarakannya di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Sejumlah cabang bahkan direncanakan digelar di luar Paser karena keterbatasan fasilitas.

Pilihan tersebut penting.

Namun, keberhasilan Porprov tidak seharusnya diukur dari meriahnya pembukaan atau banyaknya pertandingan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak atlet potensial yang ditemukan dari sana?

Siapa yang kemudian masuk program pembinaan?

Cabang olahraga mana yang layak mendapat prioritas menuju PON?

Dan apakah data hasil Porprov benar-benar digunakan untuk mengambil keputusan pembinaan?

Kalau jawabannya ya, Porprov bukan sekadar kompetisi. Ia menjadi bagian dari mesin pencarian bakat Kaltim.

Hal serupa berlaku untuk PEPARPROV V.

Kehadiran Peparprov penting bukan hanya karena ia menjadi ajang kompetisi bagi atlet penyandang disabilitas. Ia menunjukkan bahwa pembangunan olahraga tidak boleh hanya berbicara tentang medali, tetapi juga tentang kesempatan.

Porprov dan Peparprov di Paser dapat menjadi dua ruang yang memperlihatkan wajah olahraga Kaltim, mengejar prestasi sekaligus memastikan inklusi.

Dan keduanya memiliki satu pekerjaan rumah yang sama, jangan berhenti ketika pertandingan selesai.

Jika setelah Porprov tidak ada perubahan berarti dalam pembinaan, kompetisi, kualitas pelatih, fasilitas, maupun prestasi, maka kita hanya memindahkan kalender dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Di titik ini, komitmen gubernur terhadap olahraga perlu dibaca lebih luas.

Dukungan anggaran tentu penting. Pemerintah provinsi juga telah memberikan hibah kepada sejumlah organisasi olahraga dan menegaskan bahwa ukuran keberhasilan dukungan tersebut semestinya bukan sekadar terserapnya anggaran, melainkan prestasi.

Atlet  menjadi juara karena menemukan pelatih yang tepat, menjalani latihan yang konsisten, memperoleh fasilitas yang layak, mengikuti kompetisi yang cukup, mendapatkan dukungan sport science, serta memiliki ekosistem yang tidak berubah setiap kali kebijakan berganti.

Karena itu, jika target Kaltim adalah tiga besar PON 2028, maka pekerjaan terbesar justru berlangsung di luar sorotan kamera.

Di ruang latihan.

Di pusat pembinaan.

Di daerah-daerah.

Pada atlet muda yang belum dikenal.

Dan pada keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak pernah menjadi berita.

Itulah sebabnya Haornas tahun ini semestinya dibaca lebih dari sekadar seremoni.

Olahraga adalah kebijakan pembangunan manusia.

Ia membentuk disiplin, daya juang, kesehatan, karakter, sekaligus kebanggaan daerah.

Lampu Stadion Segiri yang semakin terang adalah kabar baik. Ia menunjukkan bahwa persoalan yang konkret dapat dijawab dengan keputusan yang konkret.

Tetapi satu pekerjaan belum selesai.

Menerangi stadion berbeda dengan menerangi jalan seorang atlet menuju prestasi.

Yang pertama dapat dihitung dalam satuan lux.

Yang kedua harus diukur dari berapa banyak anak Kaltim yang ditemukan potensinya, dibina dengan serius, diberi kesempatan bertanding, dan akhirnya mampu berdiri di podium nasional.

Maka pada Haornas 2026 ini, pertanyaan yang paling relevan bukan lagi apakah Gubernur Rudy Mas’ud berkomitmen terhadap olahraga.

Bukti awalnya sudah ada.

Pertanyaan berikutnya justru lebih penting.

Apakah bukti-bukti itu akan berubah menjadi sistem?

Sebab lampu stadion bisa dipindahkan dalam hitungan bulan.

Tetapi seorang juara membutuhkan bertahun-tahun untuk dibentuk.

Dan bila terus ingin berkomunikasi lewat bukti, maka bukti berikutnya bukan sekadar stadion yang semakin terang.

Bukti berikutnya adalah podium PON 2028. (pms/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
gubernur rudy mas'ud PON 2028 stadion segiri Olahraga Kaltim dispora kaltim