Literasi Financial Freedom dan Gelapnya Hustle Economy

Redaksi KP • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 20:35 WIB
Ridho Pratama Satria
Ridho Pratama Satria

Oleh:

Ridho Pratama Satria

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

BEBERAPA tahun yang lalu, ada iklan viral dari sebuah aplikasi trading. Dalam iklan itu, sang bintang iklan mengatakan ia bisa menghasilkan uang sebanyak seribu dolar dalam kurun waktu dua hingga tiga jam saja. Dengan kemampuan trading ini, sang bintang iklan berkata jika ia bisa berjalan ke mana saja ke belahan dunia mana pun. Karena iklan ini viral, financial freedom mulai ramai dibahas di Indonesia.

Literasi Finansial Freedom

Financial freedom atau kebebasan finansial, bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempertahankan standar hidupnya sekarang hingga standar hidup yang akan datang (Bruggen et al., 2017).  Sedangkan literasi bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengolah dan memahami informasi dari aktivitas membaca dan menulis (Rohman, 2022). Jadi, literasi kebebasan finansial adalah, kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola hal-hal mengenai keuangan sehingga ia mencapai kebebasan atau merdeka secara finansial.

Dalam literasi kebebasan finansial, ada beberapa pokok-pokok materi yang harus dimengerti jika seseorang ingin mendapatkan kebebasan finansial. Pokok materi itu bisa dilihat pada pemahaman seseorang dalam mengelola keuangan dari penghasilan yang didapat. Pokok materi ini mencakup cara mengatur uang masuk, uang keluar, menabung, sampai masalah utang.

Pokok materi selanjutnya ada pada pemahaman seseorang tentang perencanaan jangka panjang. Pokok materi ini mencakup persiapan dana darurat hingga investasi, sehingga  pokok materi inilah yang paling berpotensi mengantarkan seseorang mencapai kebebasan finansial.

Tujuan literasi kebebasan finansial sebetulnya bukan mendorong orang menjadi kaya raya. Tujuannya jauh lebih sederhana, agar seseorang bisa memilih dan menentukan pilihan hidupnya. Ia bisa mendapatkan kebutuhan hidup apa pun yang ia perlukan, ia bisa tinggal di mana pun yang ia mau, hingga ia bisa pergi liburan ke mana pun yang ia inginkan (sesuai dengan narasi iklan di paragraf pembuka). Pilihan ultimate yang mereka bisa pilih adalah, mereka bisa memutuskan untuk berhenti bekerja.

Semua pilihan hidup ini mengacu kepada satu garis bawah, yaitu ketenangan hidup . Orang yang telah mencapai kebebasan finansial bisa mendapat ketenangan hidup karena ia bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri tanpa harus pusing-pusing memikirkan tentang kondisi dompetnya.  

Para Oknum Kebebasan Finansial

Seperti yang dijelaskan di atas, fokus utama kebebasan finansial mengacu kepada ketenangan hidup. Namun, kebebasan finansial malah dieksploitasi para oknum demi tujuan-tujuan yang merugikan orang lain, contohnya penipuan dan investasi bodong.

Secara umum, para oknum membuka narasi yang mereka bawakan dengan iming-iming barang-barang mewah yang sulit untuk didapatkan, namun barang-barang mewah itu hanya bisa dibeli ketika seseorang sudah kebebasan finansial tercapai. Contohnya kalimat “Mau beli mobil sport dengan cepat?” hingga kalimat “Mau liburan ke Eropa?”. Lalu, para oknum melanjutkan narasinya dengan menawarkan solusi lewat kalimat “Dapatkan keuntungan ratusan juta lewat trading”, hingga kalimat “Investasi sekarang, financial freedom kemudian”.

Tanpa literasi kebebasan finansial yang cukup, orang-orang akan sangat mudah ‘kepincut’ iming-iming barang mewah di atas. Mereka akan terbayang-bayang dengan rumah dan mobil mewah, tapi mereka tidak berbayang kerja keras yang harus mereka lakukan demi mencari uang yang mereka perlukan untuk membeli barang mewah di atas. Jadinya, mereka akan jatuh ke perangkap para oknum dan kondisi ekonomi mereka malah semakin kacau.

Hustle Economy

Selain dari penipuan dan investasi bodong, kebebasan finansial juga dimanfaatkan para oknum untuk menyebarkan narasi hustle economy.

Pengertian hustle economy bisa dipahami sebagai kondisi kolektif pada orang-orang yang merasa insecure atas tidak meratanya kondisi ekonomi sehingga mereka butuh waktu panjang untuk mendapatkan pekerjaan formal. Akhirnya, mereka menjalani pekerjaan-pekerjaan informal selama mereka mencari pekerjaan formal (Honwana, 2012). Beberapa jenis pekerjaan yang berhubungan dengan hustle economy adalah pedagang online, digital marketing, pekerja ‘gig’ seperti ojek online, pengantar paket, pekerja lepas seperti video editor, hingga software developers (Onadeko, 2024).

Lalu, dimana sisi gelap hustle economy ini? Hustle economy mendorong narasi agar orang mau bekerja keras dan bekerja serba cepat. Semakin keras dan semakin cepat mereka bekerja, maka semakin cepat pula mereka mencapai kebebasan finansial. Selain dari bekerja keras dan cepat, narasi hustle economy juga mendorong orang punya lebih dari satu pekerjaan, seperti contohnya pada kalimat “orang sukses punya tujuh sumber pendapatan”. 

Mengapa hustle economy ini sengaja disebarkan? Jawabannya sederhana, agar pihak yang memberi kerja seperti pengusaha dan perusahaan bisa menghemat uang keluarnya. Daripada mereka memperkerjakan karyawan dengan status pegawai tetap, akan jauh lebih hemat bagi mereka untuk memperkerjakan orang dengan status freelance atau pekerja lepas.

Dengan status freelance, para pekerja akan kehilangan hak-hak dasar pekerja seperti asuransi kesehatan hingga uang pesangon. Kondisi ini sangat berbahaya karena hustle economy mendorong orang bekerja keras dan bekerja serba cepat, sehingga mereka rentan untuk kelelahan dan kondisi kesehatan mereka berisiko memburuk untuk waktu yang lama, namun mereka tidak mendapatkan hak mereka seperti asuransi kesehatan.

Kebebasan finansial digunakan sebagai dasar untuk mendorong orang-orang mengerjakan hustle economy. Orang-orang didorong untuk bekerja keras, bekerja serba cepat, dan bekerja lebih dari satu pekerjaan. Hustle economy malah mengarahkan orang-orang untuk tidak bekerja dengan status pekerja tetap, sehingga mereka kehilangan hak-hak dasar sebagai pekerja. Pada akhirnya kita bisa melihat, hustle economy tidak mendorong orang untuk mencapai kebebasan finansial. Malahan, mereka malah terjebak di dalam sebuah sistem gelap yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.

Mencapai Kebebasan Finansial

Hustle economy memperlihatkan sisi gelap keadaan ekonomi yang ada sekarang. Orang-orang kesusahan mendapatkan pekerjaan di sektor formal karena terbatasnya lapangan kerja. Di saat bersamaan, biaya hidup terus naik. Jika mereka terus berharap untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal, maka mereka akan terus terimpit dengan tekanan ekonomi. Karena itulah, mereka harus menjalankan hustle economy lewat bekerja freelance hingga bekerja lebih dari satu pekerjaan.

Oleh karena itu, para pemangku jabatan harus membuat kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kondisi ekonomi. Tanpa kebijakan yang ampuh, maka kondisi ekonomi tidak akan mengalami perubahan dan perbaikan dari kondisi yang ada sekarang. 

Ketika keadaan ekonomi telah membaik, maka lapangan-lapangan pekerjaan akan terbuka lebar, terutama sekali lapangan pekerjaan di sektor formal. Di saat kita telah mendapat status pekerja tetap, di saat itulah kita bisa mempelajari dan meningkatkan literasi kebebasan finansial secara serius, supaya kita terhindar dari tipu-tipu yang dibuat oleh para oknum. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
hustle economy kebebasan finansial Trading Financial Freedom