Oleh:
Delly Akbar Lahay
Penulis, Aktivis dan Praktisi Pendidikan Samarinda
SEPTEMBER 2026 datang bukan sebagai bulan biasa. Ia seperti tamu yang lupa membawa oleh-oleh, tetapi membawa banyak masalah untuk dibicarakan. Ada kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan, gunung kembali aktif, gempa bumi, fenomena langit, persoalan ekonomi, hingga kabar siswa sakit setelah menyantap makanan program pemerintah.
Belum selesai satu berita, muncul berita berikutnya. September seakan berkata: kalau satu masalah belum selesai, jangan khawatir, masih ada stok masalah lainnya.
Maka, pantas jika bulan ini disebut September Kelabu: Masih Abu-Abu. Bukan karena semua persoalan tidak jelas, melainkan karena terlalu banyak warna bercampur: hitam asap, merah api, putih abu vulkanik, merah angka ekonomi, dan abu-abu informasi yang membuat masyarakat kadang kesulitan membedakan fakta, opini, dan rumor.
Gerakan Gaib 30 September
Setiap September, angka 30 memiliki tempat tersendiri dalam ingatan sejarah Indonesia. Peristiwa Gerakan 30 September merupakan bagian penting dari sejarah politik Indonesia dan terus menjadi bahan pembelajaran sekaligus perdebatan.
Namun, di zaman media sosial, “gerakan” tidak selalu membutuhkan rapat rahasia. Cukup membuat akun anonim, mengunggah video tanpa konteks, lalu menambahkan kalimat sakti: “Sebarkan sebelum dihapus!”
Dalam hitungan menit, sesuatu yang belum tentu benar dapat berkeliling lebih cepat daripada guru piket ketika mendengar bel masuk.
“Gerakan gaib” zaman sekarang barangkali bukan gerakan politik rahasia, melainkan gerakan informasi tanpa sumber. Tanggal 30 September memang tercatat dalam kalender sejarah, tetapi bukan hari libur nasional. Klaim bahwa 30 September 2026 ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk memperingati G30S/PKI juga telah dinyatakan sebagai hoaks.
Sejarah seharusnya dibaca dengan kepala dingin. Jangan sampai sejarah bangsa dipelajari berdasarkan pesan berantai WhatsApp. Kalau begitu, bukan tidak mungkin suatu hari Proklamasi Kemerdekaan dianggap sebagai hasil forward grup keluarga.
Kemarau yang Tak Kunjung Usai
September juga harus berhadapan dengan matahari yang seolah mendapat kerja lembur. BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 wilayah mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari. Kondisi atmosfer kering tersebut diperkuat pengaruh El Niño yang berada pada kategori sangat kuat.
Bagi sebagian masyarakat, hujan kini bukan lagi sekadar fenomena cuaca. Hujan sudah seperti tamu penting yang sangat ditunggu. Kalau kondisi berlangsung terlalu lama, mungkin istilah “musim hujan” perlu diganti menjadi “musim berharap hujan”.
Kemarau panjang kemudian bertemu dengan karhutla. Pertemuan keduanya bukan pertemuan romantis, melainkan menghasilkan asap. BMKG menyebut kondisi kering September meningkatkan potensi karhutla. Pada 13 September, konsentrasi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih banyak ditemukan, terutama di Kalimantan.
Hutan yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru kembali berhadapan dengan api. Manusia ingin menghirup udara bersih, tetapi sebagian masih memperlakukan hutan seperti halaman belakang rumah: kalau ingin membuka lahan, tinggal dibakar.
Api memang cepat. Namun asapnya bisa lebih cepat masuk ke paru-paru.
Ketika Langit Ikut Bicara
Ketika bumi sedang ramai, langit ternyata ikut mengadakan pertunjukan. September menghadirkan sejumlah fenomena astronomi, termasuk ekuinoks September, ketika Matahari berada di sekitar garis khatulistiwa sehingga panjang siang dan malam di berbagai wilayah relatif berdekatan.
Laksana dua insan bercinta di semesta tak bertepi. Bedanya, manusia sering membuat masalah sendiri, sedangkan benda langit cukup mengikuti hukum alam.
Masalah lain datang dari Gunung Anak Krakatau. Pada 4–6 September, gunung tersebut mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Setelah itu, aktivitas erupsi Strombolian masih tercatat dan statusnya tetap Level III atau Siaga.
Gunung tidak mengenal konten viral. Ia tidak peduli apakah yang datang wisatawan, pejabat, fotografer, jurnalis, atau pemburu konten. Alam hanya mengenal hukum alam. Ketika sudah memberi tanda “jangan mendekat”, jangan malah bertanya, “Kalau selfie sebentar, boleh?”
Ekonomi dan Kepercayaan
Jika gunung sedang gelisah, ekonomi juga tidak mau kalah. September 2026 ditandai pergantian Menteri Keuangan. Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada 14 September 2026. Pergantian ini berlangsung ketika perhatian publik tertuju pada pengelolaan fiskal, defisit anggaran, nilai rupiah, dan kepercayaan pasar.
Bagi masyarakat biasa, istilah “kepercayaan investor” kadang terdengar jauh. Yang lebih dekat adalah “kepercayaan dompet”.
Dompet rakyat tidak mengenal Moody’s atau Fitch. Dompet punya lembaga pemeringkat sendiri: tanggal tua.
Ketika tanggal tua datang dan saldo tinggal Rp20 ribu, peringkat ekonomi pribadi langsung berubah menjadi “rawan gagal makan”.
Namun, persoalan ekonomi tentu tidak sesederhana itu. Kepercayaan juga membutuhkan kepastian, transparansi, dan konsistensi kebijakan. Pasar, seperti manusia, juga tidak nyaman hidup terlalu lama dalam tanda tanya.
Bumi Kembali Mengingatkan
Pada 8 September, Flores, Nusa Tenggara Timur, diguncang gempa. BMKG mencatat gempa awal berkekuatan M5,2 yang kemudian diperbarui menjadi M5,1, dengan kedalaman 10 kilometer dan tidak berpotensi tsunami. Gempa tersebut berada di laut sekitar Manggarai Timur.
Bumi seperti kembali mengingatkan manusia bahwa fondasi kehidupan bukan hanya beton dan baja. Ada tanah, ada alam, dan ada hukum fisika yang tidak mengenal negosiasi.
Karena itu, mitigasi bencana tidak boleh dilakukan setelah bencana datang. Menunggu gempa baru belajar evakuasi sama saja dengan belajar berenang setelah kapal karam.
Ketika Makanan Sehat Menjadi Kekhawatiran
Di sektor pendidikan, persoalan muncul dari Program Makan Bergizi Gratis. Reuters melaporkan sedikitnya 60 orang tua mengajukan laporan polisi setelah anak-anak mereka sakit usai mengonsumsi makanan program tersebut. Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sedikitnya 300 siswa dilaporkan sakit dan sebagian membutuhkan perawatan. Investigasi masih berlangsung.
Program makanan bergizi seharusnya membuat anak lebih sehat, bukan membuat orang tua bertanya: “Hari ini makan sehat atau masuk rumah sakit?”
Anak-anak membutuhkan makanan yang bergizi, higienis, aman, dan dikelola dengan penuh tanggung jawab. Kritik terhadap pelaksanaan program semestinya tidak dilihat semata sebagai gangguan, tetapi sebagai bagian dari kontrol publik terhadap program yang menyangkut jutaan penerima manfaat.
September Masih Abu-Abu
Pada akhirnya, September Abu-Abu bukan sekadar kumpulan berita buruk. Bulan ini justru mengajak kita melihat berbagai persoalan dengan logis dan kepala dingin.
Kemarau mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan. Karhutla menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan punya konsekuensi panjang. Gunung dan gempa mengajarkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya mengendalikan alam. Persoalan ekonomi menunjukkan pentingnya kepastian dan kepercayaan. Sementara persoalan makanan bergizi mengingatkan bahwa niat baik sebuah program tetap harus dibarengi pengawasan dan tanggung jawab.
Di tengah semua itu, ada satu persoalan yang mungkin paling penting: kemampuan kita membedakan fakta dari kabar yang belum terverifikasi.
Sebab ketika informasi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi, masyarakat membutuhkan bukan hanya kecepatan berbagi, tetapi juga keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: benar atau sekadar ramai?
September boleh saja kelabu. Tetapi jangan biarkan akal sehat ikut menjadi abu-abu. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan