Oleh:
Abu Aman
Pemerhati Isu Pendidikan dan Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.
TUJUH tahun telah berlalu sejak Kalimantan Timur (Kaltim) ditetapkan sebagai lokasi ibu kota negara baru. Lebih dari empat tahun pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berjalan sejak 2022. Kehadiran IKN tentu membawa harapan bagi masyarakat Kaltim, termasuk dalam bidang pendidikan.
Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) berstandar internasional menjadi salah satu gambaran kemajuan tersebut. Sekolah unggulan, sekolah berasrama, pendidikan berstandar internasional, hingga pembelajaran berbasis teknologi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan baru yang dibangun di kawasan IKN.
Namun, kemajuan itu tidak semestinya dilihat hanya dari satu sisi. Di tengah pembangunan sekolah dengan fasilitas modern, sekolah-sekolah di wilayah penyangga, pedalaman, dan daerah terpencil Kaltim masih menghadapi berbagai keterbatasan. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah kemajuan pendidikan di IKN akan benar-benar dirasakan anak-anak Kaltim, atau masyarakat lokal justru hanya menjadi penonton?
IKN sebagai Peluang Transformasi Pendidikan
Pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kaltim yang diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2019 merupakan babak baru dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Pemindahan tersebut antara lain didorong oleh beban Jakarta yang selama ini menjadi pusat pemerintahan, bisnis, keuangan, perdagangan, transportasi udara dan laut, sekaligus ibu kota negara.
IKN karena itu seharusnya tidak hanya dipahami sebagai proyek pembangunan fisik dan kawasan pemerintahan. Lebih jauh, IKN merupakan peluang untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing internasional.
Peluang tersebut terlihat dari pembangunan SNT berstandar internasional di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang berdasarkan pemberitaan mendapat dukungan anggaran pemerintah pusat sebesar Rp250 miliar. Para pamong SMA Taruna Nusantara IKN juga telah tiba di Nusantara sebagai bagian dari persiapan operasional sekolah yang akan menerima siswa dari berbagai daerah di Indonesia pada tahun ajaran 2026/2027.
Pengembangan sekolah bilingual dan digital turut memperlihatkan arah baru pendidikan di kawasan IKN. Program seperti IKN Mengajar English Preparation Class menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang modern dan berdaya saing global.
Sekolah-sekolah unggulan tersebut bahkan dirancang sebagai prototipe yang diharapkan dapat menjadi model pendidikan nasional. Jika dikelola secara baik, keberadaan IKN dapat membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga pendidikan untuk memperkuat kualitas SDM.
IKN pun berpeluang menjadi pusat pertumbuhan pendidikan baru di luar Pulau Jawa.
Namun, peluang tersebut harus dibarengi dengan pemerataan.
Potret Ketimpangan Pendidikan Kaltim
Secara administratif, kawasan IKN berada di sebagian wilayah PPU dan Kutai Kartanegara. Namun, dampak pembangunan IKN tidak seharusnya berhenti pada kawasan inti pemerintahan.
Di luar kawasan tersebut, kondisi pendidikan Kaltim masih menghadapi persoalan yang beragam. Keterbatasan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, sanitasi, serta sarana teknologi masih menjadi persoalan di sejumlah sekolah. Persoalan juga diperberat oleh jarak tempuh, keterbatasan transportasi, akses internet, dan pasokan listrik di sejumlah wilayah.
Masalah lain adalah distribusi guru. Sekolah di pedalaman dan daerah yang sulit dijangkau masih dapat menghadapi kekurangan tenaga pendidik, sementara konsentrasi guru lebih banyak berada di kawasan perkotaan. Kesenjangan juga terlihat dari kesempatan mengikuti pelatihan, insentif, tempat tinggal, hingga perlindungan bagi guru yang bertugas di wilayah terpencil.
Pada saat yang sama, pertumbuhan IKN berpotensi membawa konsekuensi sosial-ekonomi bagi masyarakat lokal. Kenaikan biaya hidup dapat menjadi beban bagi keluarga berpenghasilan rendah. Anak-anak dari keluarga kurang mampu juga berpotensi menghadapi keterbatasan biaya pendidikan dan persaingan yang lebih ketat untuk masuk sekolah unggulan.
Persoalannya bukan sekadar siapa yang boleh masuk ke sekolah unggulan. Yang lebih penting adalah apakah anak-anak Kaltim memiliki kesempatan yang relatif setara untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi tersebut.
Jangan Sampai Menjadi Pulau Pendidikan
Kehadiran sekolah unggulan dengan fasilitas modern tentu patut diapresiasi. Namun, akan menjadi persoalan jika kemajuan tersebut terkonsentrasi di kawasan inti IKN tanpa keterhubungan yang kuat dengan sekolah-sekolah reguler di sekitarnya.
Jika sekolah unggulan hanya mudah diakses oleh peserta didik yang memiliki kemampuan akademik dan dukungan ekonomi lebih baik, sementara anak-anak dari wilayah penyangga dan pedalaman belum memperoleh pembinaan yang memadai, kesenjangan justru dapat semakin lebar.
Terlebih jika proses seleksi dilakukan secara terbuka bagi peserta dari berbagai daerah tanpa disertai kebijakan afirmasi dan pembinaan khusus bagi pelajar lokal. Anak-anak dari luar Kaltim yang sebelumnya memperoleh akses pendidikan berkualitas tentu dapat memiliki bekal berbeda ketika menghadapi seleksi.
Dalam kondisi seperti itu, bukan tidak mungkin muncul dua lapisan pendidikan. Di satu sisi terdapat pendidikan modern dengan fasilitas dan sumber daya berkualitas tinggi di kawasan IKN. Di sisi lain, masih terdapat sekolah di wilayah penyangga dan pedalaman yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.
Jika hal tersebut terjadi, IKN hanya akan menjadi pulau pendidikan unggulan di tengah laut ketimpangan pendidikan Kaltim.
Pembangunan fisik yang maju tidak akan sepenuhnya bermakna apabila tidak diikuti pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas.
Pelajar Lokal Harus Menjadi Subjek
Anak-anak Kaltim harus menjadi subjek pembangunan SDM IKN, bukan sekadar penerima dampak pembangunan.
Keberpihakan kepada pelajar lokal bukan berarti menurunkan standar penerimaan sekolah unggulan. Sebaliknya, pemerintah perlu memastikan anak-anak Kaltim memiliki kesempatan untuk memenuhi standar tersebut melalui pembinaan yang serius dan berkelanjutan.
Kebijakan afirmasi dapat diarahkan pada persiapan masuk sekolah unggulan, pemberian beasiswa, penguatan kemampuan bahasa asing, bimbingan akademik dan karier, pelatihan kepemimpinan, serta peningkatan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan IKN dan perkembangan ekonomi masa depan.
Program tersebut tidak cukup hanya diberikan ketika anak-anak mengikuti proses seleksi. Pembinaan harus dimulai dari sekolah-sekolah di wilayah penyangga dan pedalaman agar kesempatan untuk berkembang tidak hanya dimiliki mereka yang sejak awal berada di lingkungan pendidikan yang lebih maju.
Pemerintah juga perlu memastikan pembangunan pendidikan di kawasan IKN memiliki hubungan yang kuat dengan sekolah-sekolah di sekitarnya. Sekolah unggulan dapat menjadi pusat pengembangan guru, teknologi, metode pembelajaran, dan berbagai program peningkatan kapasitas yang manfaatnya menjangkau sekolah lain.
Dengan demikian, keunggulan tidak berhenti sebagai fasilitas di dalam kawasan IKN, tetapi ikut menyebar ke wilayah sekitarnya.
Kemajuan yang Harus Dirasakan
Pembangunan sekolah unggulan dan modern demi mendukung IKN tentu layak diapresiasi. Namun, ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak sekolah modern yang berhasil dibangun.
Keberhasilan juga harus diukur dari sejauh mana kualitas sekolah di wilayah lain meningkat, guru semakin merata, akses pendidikan semakin terbuka, dan anak-anak Kaltim memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi bagian dari masa depan IKN.
IKN jangan sampai hanya menghasilkan gedung pendidikan berstandar internasional, sementara anak-anak di sekitarnya masih berhadapan dengan keterbatasan ruang kelas, guru, teknologi, dan akses.
Jika IKN ingin menjadi simbol masa depan Indonesia, maka masa depan itu harus dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Jangan sampai IKN menjadi pulau pendidikan yang maju sendiri. Sebaliknya, pembangunan IKN harus menjadi momentum untuk menghubungkan pusat keunggulan dengan sekolah-sekolah di seluruh Kaltim, sehingga kemajuan pendidikan tidak berhenti di kawasan inti, tetapi tumbuh bersama seluruh anak Kaltim. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan