KALTIMPOST.ID - Baru-baru ini saya berkomunikasi dengan pemain muda Borneo FC, Asgal Habib. Dia baru saja mencatat debut profesionalnya bersama Pesut Etam. Bukan debut biasa. Dia benar-benar menjalani debut impian. Bermain sejak menit pertama untuk tim profesional.
Pada laga debut kontra Bali United (20/9), pemain asal Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak tersebut memang tidak mencetak gol. Tapi penampilannya cukup baik. Pelatihnya, Mauro Jeronimo bahkan melempar pujian atas penampilannya.
Keberhasilan Asgal menjalani debut sebagai starter di Borneo FC tidaklah mudah. Ada banyak pengorbanan yang telah dilalui. Asgak tidak ujug-ujug masuk tim kebanggaan Samarinda tersebut. Jauh sebelum berseragam oren, Asgal hanya anak kampung biasa.
Baca Juga: SEMA 2/2026 Berlaku! Ini Aturan Baru Tenggang Waktu Pengajuan Kasasi yang Wajib Diketahui
Dia besar di Tanjung Limau, Muara Badak. Kecamatan yang bisa dibilang gudangnya pemain tarkam. Di level Kabupaten, Muara Badak salah satu kecamatan yang disegani. Tahun lalu, Muara Badak juara Bupati Cup Kutai Kartanegara 2025.
Beberapa pemain Liga Indonesia juga berasal dari Muara Badak. Sebelum Asgal, sudah ada nama Tri Aditia Saputra yang pernah bermain untuk Mitra Kukar di Liga 2. Kemudian Junaidi Bakhtiar, kiper yang pernah berseragam Persik Kediri, Kalteng Putra dan PSIM Jogjakarta.
Asgal hidup di lingkungan sepak bola. Dari kecil dia berkutat dengan si kulit bundar. Ayahnya, pamannya dan juga almarhum kakaknya, Putra Cahyo adalah sosok yang paling berjasa dalam kariernya. Terlebih almarhum Putra Cahyo yang dianggap sebagai mentor paling setia.
Asgal kerap diajak sang kakak untuk bermain tarkam. Hampir di seluruh daerah di Kukar, Asgal selalu berpartisipasi. Dari situ kemampuannya semakin terasah. Mental bertandingnya juga semakin bagus. Tapi hebatnya, Asgal tetap berusaha memperjuangkan mimpinya; jadi pemain profesional.
Padahal saya yakin, bayaran tarkam lebih tinggi daripada bayaran EPA Borneo saat itu. Tapi Asgal tetap memilih mengejar mimpinya. Ya, Asgal memulai mimpinya dari level junior. Mimpinya dimulai dari EPA Borneo FC. Dia lolos lewat jalur seleksi pada tahun 2022/2023.
Asgal menghabiskan waktu dua tahun menimba ilmu di tim junior. Hingga setelah EPA 2023/2024, Asgal mendapatkan panggilan ke tim senior. Namun di level senior, Asgal masih belum bisa bersaing dengan pemain senior yang lebih berpengalaman. Asgal hanya menghabiskan waktu di tempat latihan.
Hingga akhirnya Asgal dipinjamkan ke tim Liga 2, Persiraja Banda Aceh. Tim ini dilatih oleh Akhyar Ilyas. Mantan asisten pelatih di Borneo FC. Di Persiraja inilah kemampuan Asgal mendapatkan apresiasi. Dia menjadi salah satu pemain andalan di Persiraja awal Tahun lalu. Dua gol berhasil dia bukukan saat berseragam Persiraja.
Pulang dari masa peminjaman, Asgal semakin menunjukkan kematangan bermain. Hingga akhirnya, pelatih Borneo FC saat ini, Mauro Jeronimo memberikan kesempatan sebagai starter saat menghadapi Bali United. Mimpi Asgal akhirnya terwujud. Namun itu hanya awal dari mimpi panjang yang dicita-citakan. Asgal tak ingin berpuas diri.
Dari perjalanan Asgal dapat disimpulkan, anak kampung berhak mengejar mimpinya. Sebagaimana Asgal mengejar mimpinya dari Desa Tanjung Limau, Muara Badak ke pentas sepak bola profesional. Saya berkeyakinan, keberhasilan Asgal saat ini akan menjadi motivasi Asgal Asgal yang lain dari Tanjung Limau dan daerah lainnya.
Baca Juga: Daftar 77 Negara Walkout saat Netanyahu Pidato di Sidang Umum PBB, Indonesia Ikut Keluar?
Semoga Asgal bisa terus konsisten dan bersinar. Karena sejatinya musuh Asgal saat ini bukan lagi bek lawan. Melainkan popularitas. Banyak pemain timnas yang sempat bersinar sebentar tapi sekarang hilang bak ditelan bumi. Salah satu penyebabnya adalah star syndrome. (*)
(Penulis merupakan wartawan Kaltim Post)
Editor : Ery Supriyadi