Oleh:
Hetifah Sjaifudian
Anggota DPR RI Dapil Kaltim
HARI ini saya hadir di Tenggarong menyaksikan pembukaan Erau Adat Kutai 2026. Ada suasana yang sulit sepenuhnya ditangkap lewat foto atau video. Warna-warni pakaian adat, bunyi musik tradisional, gerak para penari, masyarakat yang memenuhi kawasan acara, serta berbagai prosesi yang sarat simbol membuat kita merasakan betapa kayanya budaya yang tumbuh di tepian Mahakam.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah tari kolosal “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam”. Ratusan penari dari berbagai sanggar, komunitas, pelajar, dan mahasiswa tampil bersama. Pesannya terasa kuat: tahta tidak semata berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan sejarah, adat, tradisi, dan identitas Kutai.
Sementara itu, penjaga tahta adalah kita semua. Generasi hari ini yang menerima tanggung jawab untuk memastikan warisan tersebut tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Tema “Manunggal Raja bersama Rakyat” juga terasa relevan. Erau memperlihatkan bahwa kebudayaan Kutai tidak hidup hanya di lingkungan keraton. Ia tumbuh bersama masyarakat dan hadir dalam tarian, musik, kuliner, bahasa, adat istiadat, hingga keramahan orang-orangnya.
Saya senang melihat begitu banyak anak muda ikut terlibat. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat, mereka membutuhkan ruang untuk mengenal budaya sendiri, mengolahnya dengan kreativitas, kemudian membawanya dengan bangga ke masa depan.
Sebab, tradisi akan bertahan ketika ada generasi yang merasa memilikinya.
Budaya dan Kekuatan Ekonomi Daerah
Erau juga mengingatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan bagi daerah. Orang datang ke Kutai Kartanegara karena sejarah dan budayanya, karena kulinernya, karena berbagai event, dan tentu saja karena keramahan masyarakatnya.
Semakin banyak orang datang, semakin terbuka pula peluang bagi UMKM, seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta masyarakat di sekitar kegiatan. Karena itu, saya berharap manfaat ekonomi dari Erau semakin besar dan benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
Erau bukan hanya tentang pertunjukan dan kemeriahan. Di dalamnya terdapat potensi untuk mempertemukan kebudayaan dengan pariwisata, ekonomi kreatif, dan penguatan usaha masyarakat.
Dengan begitu, pelestarian budaya tidak berhenti pada menjaga tradisi, tetapi juga dapat membuka ruang kesejahteraan bagi masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan tersebut.
Menjaga Budaya, Menjaga Alam
Di tengah kegembiraan hari ini, pikiran saya juga tertuju pada kondisi lingkungan Kalimantan yang sedang menghadapi cuaca yang tidak mudah dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah tempat.
Dari tepian Mahakam, pesan untuk menjaga alam terasa semakin bermakna.
Kebudayaan kita lahir dan tumbuh bersama sungai, hutan, tanah, dan kehidupan masyarakat yang mengelilinginya. Karena itu, menjaga warisan budaya pada akhirnya juga berarti menjaga ruang hidup tempat kebudayaan itu tumbuh.
Sungai bukan sekadar bentang alam. Hutan bukan sekadar hamparan hijau. Tanah bukan sekadar ruang ekonomi. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat dalam membangun kehidupan, pengetahuan, tradisi, dan identitas.
Maka, ketika kita berbicara tentang pelestarian budaya, kita juga perlu berbicara tentang bagaimana menjaga lingkungan yang menjadi rumah bagi kebudayaan itu sendiri.
Akar yang Dalam
Erau berlangsung pada 20 hingga 27 September. Masih akan ada banyak prosesi dan pesan simbolik yang dapat kita pelajari bersama.
Hari ini, setelah pulang dari pembukaan Erau, saya sempat mampir di Pameran Seni “Nuansa Rupa Borneo” di aula UPT Museum Mulawarman. Dari sana muncul satu kesan yang semakin kuat: Kutai memiliki akar yang dalam.
Akar itu terbentuk dari sejarah, budaya, masyarakat, alam, dan perjalanan panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tugas kita bukan sekadar mengagumi akar tersebut. Tugas kita adalah memastikan ia tetap kuat, sementara cabang-cabangnya terus tumbuh mengikuti zaman.
Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk menjadi bagian dari pertumbuhan itu. Seniman perlu mendapatkan ruang untuk berekspresi. Pelaku UMKM perlu mendapatkan manfaat dari geliat kegiatan budaya. Dan masyarakat perlu tetap menjadi bagian utama dari perjalanan kebudayaan daerahnya.
Sebab budaya yang hidup bukan budaya yang hanya dikenang, melainkan budaya yang terus dipelajari, dijalankan, dikembangkan, dan diwariskan.
Dari tepian Mahakam, Erau akhirnya mengingatkan kita pada satu pertanyaan sederhana: siapa kita, dan apa yang ingin kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Selamat Erau Adat Kutai 2026.
Tuah Himba, Untung Langgong. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan