Oleh:
Silvia Rahmadina
Inspektur Balikpapan
Alumnus Magister Administrasi Publik FISIP Unmul
KALTIMPOST.ID-Sebuah organisasi bisa saja sudah memiliki daftar risiko. Di mana kemungkinan masalah sudah dikenali, dampaknya diperkirakan, bahkan pengendaliannya dituliskan lengkap, namun risiko itu tetap saja bisa terjadi.
Baca Juga: Beli Pertalite dan Solar Pakai Jeriken Ternyata Boleh, Ini Syarat dan Aturan yang Wajib Dipenuhi
Pertanyaannya sederhana: kalau risikonya sudah diketahui, mengapa masalah yang sama masih bisa terjadi? Kita mengenal identifikasi risiko, menilai dampak, menetapkan pengendalian, hingga menyusun rencana tindak.
Semua itu penting, namun mengetahui risiko hanyalah langkah awal; tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengelolanya dan memastikan akan mengubah cara kita bertindak dan mengambi keputusan.
Arah penguatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) juga menempatkan risiko sebagai bagian dari proses pemerintahan.
Risiko semestinya dibaca sejak tujuan ditetapkan, program direncanakan, hingga keputusan dibuat. Jadi pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah daftar risiko sudah tersedia, melainkan apakah informasi di dalamnya benar-benar digunakan.
Pelajaran dari Kaltim menarik, dalam studi tentang kebijakan manajemen risiko Pemprov Kaltim menemukan bahwa sistem dan kematangannya telah berkembang, tetapi efektivitas penerapannya masih bervariasi antarperangkat daerah.
Manajemen risiko juga belum sepenuhnya menjadi budaya dan instrumen pengambilan keputusan strategis. Artinya membangun sistem adalah satu pekerjaan, dan membuatnya hidup dalam organisasi adalah pekerjaan berikutnya.
Baca Juga: WNA Belanda Akui 1.190 Ekstasi Miliknya, Mantan Bawahan Ungkap Kronologi Pengambilan di Kantor Pos
Ketika program akan dijalankan, kita perlu bertanya: apa yang dapat membuat tujuannya tidak tercapai? Apakah pengendalian yang disiapkan cukup? Siapa yang perlu dilibatkan? dan apa yang dilakukan ketika kondisi berubah?
Pertanyaan seperti itu terlihat sederhana. Namun justru dari percakapan semacam itulah kesadaran terhadap risiko tumbuh. Risiko tidak lagi dibicarakan karena formulir harus diisi, tetapi karena organisasi memang membutuhkannya untuk bekerja lebih baik.
Pengalaman daerah lain memberi pelajaran serupa, seperti Surabaya dan Denpasar pernah menjadi ruang berbagi praktik baik SPIP Terintegrasi yang difasilitasi BPKP.
Hal itu menarik bukan sekadar capaian sistemnya, melainkan upaya mendekatkan pengelolaan risiko dan pengendalian dengan tujuan pemerintahan.
Namun ada satu hal yang perlu ditegaskan bahwa, risiko bukan hanya menjadi tugas fungsi pengawasan, namun tanggung jawab bersama dengan peran yang berbeda sesuai fungsi.
Risiko melekat pada tujuan, program, keputusan, dan proses kerja organisasi. Karena itu, mereka yang menjalankan proses dan mengambil keputusanlah yang harus memahami dan mengelolanya.
Inspektorat hadir untuk memberi perspektif, penilaian, konsultasi, dan penguatan pengendalian agar pengelolaan risiko semakin efektif.
Itu juga berarti percakapan tentang risiko seharusnya tidak hanya muncul ketika ada evaluasi, tetapi hadir dalam keseharian organisasi, seperti ketika program dirancang, anggaran dialokasikan, target ditetapkan, dan pilihan harus dibuat.
Manajemen risiko juga bukan ajakan untuk takut mengambil keputusan, karena kebijakan baru memiliki risiko, inovasi memiliki risiko, teknologi memiliki risiko, bahkan tidak mengambil keputusan pun dapat membawa risiko.
Tujuannya bukan menghilangkan semua risiko, melainkan membuat keputusan dengan kesadaran yang lebih baik tentang apa yang mungkin terjadi dan bagaimana meresponsnya.
Baca Juga: LAPSUS: Titik Panas Masih Mengepung Kaltim, BMKG Deteksi Sebaran Asap di Empat Daerah
Di sinilah tantangan sebenarnya, walaupun dokumen sudah disusun namun kebiasaan membicarakan risiko sebelum mengambil keputusan membutuhkan waktu, membutuhkan pimpinan yang bersedia mendengar kemungkinan buruk, pegawai yang berani menyampaikan kelemahan sebuah rencana, dan organisasi yang mau meninjau kembali keputusan ketika keadaan berubah.
Manajemen risiko yang tidak memengaruhi keputusan, namun pada akhirnya hanya menjadi administrasi. Ketika risiko benar-benar dikelola, maka akan dapat mengubah cara kita berpikir, cara kita bekerja, dan cara kita mengambil keputusan.
Kita memang tidak dapat meramalkan masa depan dengan pasti, namun kita dapat mengambil keputusan hari ini dengan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mungkin terjadi besok. (rd)
Editor : Romdani.