Oleh:
Sihabuddin
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta
SUDAH takdir manusia diciptakan dengan budayanya sendiri sebab manusia satu-satunya makhluk Tuhan yang diberi akal dan budaya diciptakan berawal dari akal pikiran manusia yang akhirnya dianut oleh sekelompok masyarakat yang akhirnya disebut dengan budaya. Kalau boleh mendefinisikan budaya adalah hasil karya cipta manusia yang dianut dan diakui oleh sekelompok masyarakat tertentu. Budaya tidak hanya berbentuk tarian, nyanyian, pakaian rumah dan sebagainya tetapi budaya juga kebiasaan hidup bermasyarakat. Yang namanya budaya dalam suatu kelompk masyarakat tentu berbeda dengan budaya kelompok budaya lainnya. Setiap penganut kelompok budaya sangat wajar jika bangga terhadap budayanya sendiri namun akan sangat berbahaya jika sampai mengidap penyakit sosial yang namanya etnosentrisme.
Dikutip dari Oxford Bibliographies, etnosentrisme adalah kecenderungan melihat dunia hanya melalui sudut pandang kelompoknya sendiri. Etnosentrisme juga biasanya disertai dengan sikap serta pandangan meremehkan masyarakat lain. Pengertian lainnya, etnosentrisme adalah sikap suatu kelompok yang merasa dirinya paling baik, paling benar, dan paling hebat dibandingkan kelompok masyarakat lain. Dengan begitu, mereka menjadikan nilai dan norma yang dimiliki sebagai dasar untuk menilai kelompok masyarakat lain. Adapun William Graham Sumner, ilmuwan sosial Amerika Serikat yang pertama kali menggunakan istilah etnosentrisme pada 1906. Menurutnya, etnosentrisme adalah pandangan terhadap sesuatu di mana kelompok sendiri sebagai pusat dari segala sesuatu dan semua yang lain diukur dan dipandang dengan rujukan kelompoknya.
Fenomena etnosentrisme orang Indonesia bisa dilihat di berbagai media sosial yang mana banyak netizen Indonesia menjadikan budayanya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya orang lain. Beberapa waktu lalu viral di media sosial tentang seorang guru di Nusa Tenggara Timur yang menempelkan hidungnya kepada hidung muridnya saat jam pelajaran sekolah sudah selesai. Saat murid beranjak pulang mereka secara bergantian saling menempelkan hidungnya ke gurunya. Di Pulau Sabu dan beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur salam dan bentuk penghormatan kepada orang lain dengan saling menempelkan hidung. Jadi saling menempelkan hidung di daerah tersebut sebagai bentuk kesopanan. Tapi netizen Indonesia tidak mengetahui akan tersebut dan tidak berusaha mencari tahu sehingga dengan mudahnya menghakimi gurunya dengan kata-kata tidak pantas karena yang menjadi tolak ukur bentuk kesopanan ialah budaya Indonesia pada umumnya yang saling berjabatan tangan bahkan mencium tangan orang yang lebih dewasa dan orang terhormat sebagai bentuk penghormatan.
Fenomena saling menempelkan hidung sebagai bentuk penghormatan dan kesopanan tidak hanya terjadi di Pulau Sabu dan beberapa daerah di NTT tapi suku Maori di Selandia Baru juga saling menempelkan hidung. Bahkan beberapa negara di Kawasan Teluk khususnya Oman saling menempelkan hidung setelah berjabatan tangan menjadi simbol rasa hormat, keakraban, dan persahabatan yang kuat. Tentu jika dipraktikkan di kebudayaan Indonesia pada umumnya menjadi hal aneh dan bagi sebagian orang menjijikkan karena akan disangka melakukan adegan LGBT jika dilakukan sesama jenis. Padahal di beberapa budaya tersebut saling menempelkan hidung tidak ada unsur LGBT sama sekali.
Pernah juga netizen Indonesia mengomentari dengan nada rasis dan candaan sebuah video yang menampilkan laki-laki berpegangan tangan dengan laki-laki lain di India. Di Indonesia saat ini laki-laki berpegangan tangan dengan laki-laki di tempat umum menjadi hal aneh dan dianggap tidak normal padahal katanya di era 80an dan awal 90an itu hal biasa di Indonesia yang dimaknai sebagai tanda kedekatan dan persahabatan. Namun sejak berhembusnya kasus LGBT laki-laki berpegangan tangan sesama laki-laki maknanya sudah berubah. Namun di Asia Selatan hal tersebut masih wajar mereka memaknai sebagai tanda persahabatan dan kedekatan. Bahkan di Mesir dan beberapa negara Arab bukan hanya saling pegangan tangan, laki-laki cipika-cipiki dengan laki-laki hal yang normal maknanya sebagai persahabatan dan kedekatan.
Di Indonesia sendiri pernah viral video santri Pesantren Tradisional yang berjalan jongkok di hadapan Kiainya sebagai tanda penghormatan karena Kiainya duduk di kursi, jadi kalau jalan berdiri bagi santri tersebut kurang sopan. Namun, bagi netizen Indonesia yang tidak paham budaya Pesantren Tradisional yang biasanya usianya sudah ratusan tahun dan masih mempertahankan budaya tersebut dalam bentuk kesopanan hal tersebut dianggap main raja-rajaan dan berlebihan. Padahal bagi santri tersebut hal demikian bukan hal yang berlebihan bahkan bisa jadi keharusan sebagai bentuk kesopanan di hadapan Kiainya. Sebagai netizen yang cerdas harusnya mencari tahu dulu kenapa budayanya seperti itu bukan malah menghakimi. Kesalahan netizen karena tolak ukur kesopanan di budayanya dipakai untuk mengukur budaya lain tentu sampai kapanpun tidak akan pernah pas.
Mudahnya netizen Indonesia menghakimi jelek kebudayaan orang lain dikarenakan sikap etnosentrisme yang berlebihan. Kita boleh berbangga diri dengan kebudayaan kita namun bukan berarti menjelekkan kebudayaan orang lain. Sebab setiap budaya pasti yang terbaik oleh penganutnya dan tidak suka dinilai buruk oleh orang lain. Maka dari itu, tinggalkan sifat etnosentrisme dengan mempelajari dan menghargai budaya orang lain. Tidak ada paksaan bagi kita untuk mengikuti budaya orang lain, tapi menilai jelek budaya orang lain harus dipikirkan matang-matang dengan banyak belajar. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan