Generasi Z Samarinda Tidur Terbalik? Tinjauan dari Aspek Sosial Ekonomi

Redaksi KP • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 18:39 WIB
Prof Rachim.
Prof Rachim.

Oleh:

Prof Rachim
Ketua Perkumpulan Profesor Nusantara Kaltim

SETIAP manusia memiliki potensi luar biasa sejak lahir. Seorang anak yang belum lahir dapat tumbuh menjadi Michelangelo, Shakespeare, atau Martin Luther King. Karena itu, setiap kelahiran membawa harapan dan optimisme bahwa kehidupan baru tersebut kelak dapat memberikan sesuatu yang istimewa bagi dunia.

Perjalanan kehidupan manusia berlangsung melalui beberapa tahap perkembangan yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri.

Masa bayi (0–3 tahun): Vitalitas. Bayi merupakan sumber energi yang tampak tak terbatas dan penuh semangat.

Masa kanak-kanak awal (3–6 tahun): Sifat suka bermain. Melalui permainan, anak-anak menciptakan kembali dunia mereka. Mereka menggabungkan berbagai pengalaman dan pengetahuan menjadi sesuatu yang baru.

Masa kanak-kanak pertengahan (6–8 tahun): Imajinasi. Pada tahap ini, kesadaran diri mulai berkembang. Dunia imajinasi menjadi sarana anak memahami lingkungan di sekitarnya.

Masa kanak-kanak akhir (9–11 tahun): Kecerdasan. Anak-anak mulai menguasai berbagai keterampilan sosial dan teknis yang memungkinkan mereka menemukan solusi kreatif terhadap berbagai tantangan.

Masa remaja (12–20 tahun): Gairah. Pubertas membawa perubahan biologis yang besar dan memunculkan gairah emosional, sosial, budaya, maupun spiritual.

Masa dewasa awal (20–35 tahun): Kewirausahaan. Pada tahap ini, seseorang mulai membangun kehidupan mandiri, mencari pekerjaan, membentuk keluarga, dan mengembangkan jaringan sosial.

Usia pertengahan (35–50 tahun): Kontemplasi. Setelah bertahun-tahun membangun kehidupan, seseorang mulai merenungkan makna hidup dan arah masa depannya.

Masa dewasa penuh (50–80 tahun): Kebaikan hati. Pada masa ini, seseorang umumnya telah mapan dan dapat berkontribusi kepada masyarakat melalui pengalaman, bimbingan, maupun kegiatan sosial.

Kematian dan sakaratul maut: Kehidupan. Mereka yang berada di penghujung hidup mengajarkan kepada kita tentang arti dan nilai kehidupan.

Waktu Tidur

Tidur merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Tidur berfungsi memulihkan energi yang hilang, memperbaiki jaringan tubuh, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh. Apabila kebutuhan tidur tidak terpenuhi, seseorang akan mudah lelah dan rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan.

Kebutuhan tidur berbeda pada setiap kelompok usia. Bayi baru lahir (0–3 bulan) membutuhkan sekitar 14–17 jam tidur per hari. Bayi usia 4–11 bulan membutuhkan 12–15 jam. Balita usia 1–2 tahun membutuhkan 11–14 jam. Anak prasekolah usia 3–5 tahun membutuhkan 10–13 jam.

Sementara itu, anak usia sekolah 6–13 tahun membutuhkan 9–11 jam, remaja usia 14–17 tahun membutuhkan 8–10 jam, dewasa muda usia 18–25 tahun membutuhkan 7–9 jam, dewasa usia 26–64 tahun membutuhkan 7–9 jam, dan lansia usia 65 tahun ke atas membutuhkan 7–8 jam per hari.

Tidur yang cukup berperan penting bagi kesehatan fisik dan mental. Sebaliknya, kurang tidur dapat meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, Alzheimer, kanker, dan diabetes. Kurang tidur juga dapat memicu depresi dan gangguan kecemasan, menurunkan suasana hati, energi, serta motivasi, sekaligus mengurangi fokus, daya ingat, dan kemampuan mengambil keputusan.

Dampak lainnya adalah menurunnya koordinasi dan performa fisik sehingga meningkatkan risiko kecelakaan. Seseorang juga menjadi lebih mudah tersinggung, sulit mengendalikan emosi, kurang mampu mengelola stres, serta mengalami penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Perkembangan Generasi

Jika dilihat berdasarkan pembagian generasi, manusia modern berkembang dalam konteks sosial dan sejarah yang berbeda-beda.

Lost Generation (1883–1900) merupakan generasi yang terdampak Perang Dunia I dan dikenal sebagai generasi yang mengalami perubahan besar akibat perang.

Greatest Generation (1901–1927) tumbuh pada masa Depresi Besar dan berperan dalam Perang Dunia II.

Silent Generation (1928–1945) dikenal sebagai generasi yang mengutamakan ketenangan, kerja keras, dan stabilitas keluarga.

Baby Boomers (1946–1964) lahir setelah Perang Dunia II dan tumbuh dalam periode optimisme ekonomi.

Generasi X (1965–1980) dikenal mandiri dan tangguh serta menjadi jembatan antara era analog dan digital.

Milenial atau Generasi Y (1981–1996) tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi digital.

Generasi Z (1997–2010) sangat dekat dengan media sosial serta memiliki perhatian terhadap berbagai isu sosial dan lingkungan.

Sementara itu, Generasi Alpha (2011–2024) merupakan generasi yang lahir dan tumbuh sepenuhnya dalam lingkungan digital serta sangat akrab dengan perangkat pintar. Setelahnya, Generasi Beta (2025–2039) diperkirakan akan hidup dalam dunia yang semakin otomatis, berbasis teknologi tinggi, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Bahaya Jam Tidur Terbalik

Kebiasaan begadang dan mengganti waktu tidur malam dengan tidur pada siang hari dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Salah satunya adalah terganggunya kinerja hormon. Tidur malam yang cukup diperlukan tubuh untuk memproduksi berbagai hormon yang berperan dalam metabolisme dan pemulihan tubuh.

Pola tidur yang tidak teratur juga dapat meningkatkan risiko obesitas. Kurang tidur membuat seseorang cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

Kesehatan jantung juga dapat terdampak. Tidur malam yang tidak teratur dapat mengganggu metabolisme tubuh, meningkatkan kadar lemak darah, serta memperbesar risiko hipertensi dan penyakit jantung.

Pada ibu hamil, gangguan tidur juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk kelahiran prematur. Kurang tidur juga menyebabkan sistem kekebalan tubuh bekerja lebih keras sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

Selain itu, pola tidur yang tidak teratur dapat meningkatkan kadar gula darah dan risiko diabetes.

Untuk mengatasi jam tidur terbalik, seseorang dapat menetapkan jadwal tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, menghindari penggunaan gawai sebelum tidur, tidak melihat jam ketika terbangun pada malam hari, serta menjaga kamar tetap gelap, tenang, dan nyaman.

Kebiasaan makan menjelang waktu tidur juga sebaiknya dihindari. Aktivitas relaksasi, seperti membaca buku, dapat dilakukan sebelum tidur. Pola hidup sehat dengan gizi seimbang dan olahraga teratur juga perlu diterapkan.

Generasi dan Tantangan Sosial Ekonomi

Generasi yang berkualitas merupakan modal utama menuju Indonesia Emas 2045, ketika Indonesia genap berusia 100 tahun. Generasi muda yang produktif, kreatif, sehat, dan berdaya saing akan menjadi salah satu penentu pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, tantangan sosial ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini tidak ringan. Sekitar 59 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal pada 2025. Kondisi tersebut mencerminkan besarnya jumlah pekerja dengan pendapatan dan keamanan kerja yang relatif rendah.

Di berbagai negara muncul fenomena sosial yang menunjukkan kejenuhan sebagian generasi muda terhadap sistem ekonomi. Di Tiongkok dikenal istilah lying flat generation, sedangkan di Jepang muncul istilah low desire society. Di Indonesia, fenomena serupa sering disebut sebagai “kaum rebahan”.

Fenomena tersebut bukan sekadar candaan di media sosial. Banyak anak muda tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dan kerja keras akan membawa mobilitas sosial. Namun, mereka menghadapi realitas berupa pekerjaan yang tidak stabil, biaya hidup yang terus meningkat, dan ketidakpastian masa depan.

Akibatnya, sebagian mulai kehilangan keyakinan bahwa kerja keras dapat mengubah kehidupan mereka secara signifikan. Media sosial kemudian memperkuat kesadaran kolektif tersebut. Banyak anak muda menyadari bahwa rasa lelah dan kegelisahan yang mereka rasakan ternyata juga dialami generasi lain di berbagai daerah.

Realitas Samarinda

Di Samarinda, muncul fenomena yang menurut saya perlu mendapat perhatian, yaitu kecenderungan sebagian Generasi Z menjalani pola hidup dengan jam tidur terbalik. Malam menjadi siang, sedangkan siang menjadi malam.

Fenomena ini antara lain dipengaruhi berkembangnya budaya nongkrong dan hiburan malam. Banyak kafe beroperasi hingga larut malam, bahkan selama 24 jam. Selain itu, berkembang pula olahraga padel yang menyediakan fasilitas bermain hingga malam hari.

Keberadaan bar, klub malam, dan berbagai tempat hiburan lainnya turut menambah aktivitas kota pada malam hari yang banyak diikuti kalangan Generasi Z.

Padahal, generasi inilah yang diharapkan menjadi salah satu tulang punggung Indonesia Emas 2045. Karena itu, energi dan waktu mereka idealnya lebih banyak diarahkan pada kegiatan produktif, pendidikan, pengembangan diri, serta istirahat yang cukup.

Sebagai seseorang yang kini berusia 72 tahun, saya memandang fenomena tidur terbalik dan kecenderungan menjadi “kaum rebahan” perlu mendapat perhatian bersama. Menurut pandangan saya, diperlukan pengaturan yang lebih baik terkait jam operasional berbagai fasilitas hiburan dan tempat berkumpul agar generasi muda memiliki keseimbangan antara rekreasi, belajar, bekerja, dan beristirahat. 

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya Generasi Emas 2045 yang produktif, kreatif, inovatif, serta sehat secara fisik dan mental.

Pembangunan ekonomi yang kuat harus berjalan seiring dengan pembangunan sosial yang sehat. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda, perlu dipahami secara menyeluruh melalui kebijakan yang mampu menciptakan tata kehidupan sosial yang lebih beradab dan berkelanjutan.

Sebagai kota yang mengusung visi sebagai Kota Peradaban di Kalimantan Timur, Samarinda diharapkan tidak hanya memiliki slogan, tetapi juga mampu menghadirkan kebijakan dan lingkungan yang mendukung terwujudnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
Perkumpulan Profesor Nusantara Lost Generation samarinda Gen Z Generasi Alpha