Kepala Biro Kaltim Post Tenggarong.
PINTU air belum terpasang. Sodetan juga belum bekerja. Namun, pintu tafsir politik telanjur terbuka di Loa Janan. Semua bermula ketika Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri memuji Wali Kota Samarinda Andi Harun di hadapan awak media, Sabtu (3/10/2026). Aulia mengakui mendapat banyak ilmu dari Andi, terutama dari pengalamannya menangani persoalan banjir di Samarinda.
Andi kemudian menyelipkan satu kalimat pendek. “Kayaknya cocok deh 2029.” Aulia tertawa. Para wartawan ikut tertawa. Wawancara tentang pintu air dan sodetan mendadak memperoleh saluran baru menuju politik.
Kalimat itu memang terdengar sebagai kelakar. Namun, mustahil telinga politik membiarkan angka 2029 berlalu tanpa tafsir. Terlebih, kalimat tersebut terlontar di antara dua kepala daerah yang sama-sama sedang memperoleh perhatian publik.
Arah tafsirnya mudah ditebak: mungkinkah Andi dan Aulia kelak berada dalam satu pasangan pada kontestasi Kalimantan Timur? Tentu terlalu dini menyebutnya sebagai kesepakatan. Belum ada deklarasi, pembicaraan pasangan, ataupun pembagian posisi yang diketahui publik. Bahkan, kalimat “cocok 2029” tidak menjelaskan siapa akan menjadi calon gubernur dan siapa calon wakil gubernur.
Kelakar tetaplah kelakar. Namun, politik memang kerap menyelipkan pesan serius melalui gurauan. Kalimat ringan dilemparkan, reaksi dibaca, lalu tafsir dibiarkan berkembang sendiri. Andi dan Aulia juga menawarkan dua lintasan politik yang berbeda.
Andi datang dengan jam terbang panjang. Sebelum memimpin Samarinda, ia telah melewati perjalanan bertahun-tahun di DPRD Kalimantan Timur. Kini, ia menjalani periode kedua sebagai wali kota dengan pengalaman menghadapi persoalan perkotaan yang kompleks, termasuk banjir.
Aulia berada pada fase berbeda. Usianya lebih muda dan baru menjalani periode pertama sebagai Bupati Kukar. Jalurnya menuju kekuasaan juga tidak sepenuhnya berasal dari ruang politik. Ia pernah menjadi kepala puskesmas, memimpin rumah sakit, dan bekerja di lingkungan Dinas Kesehatan sebelum masuk ke gelanggang politik.
Yang satu tumbuh melalui lorong panjang parlemen dan politik daerah. Yang lain datang dari layanan kesehatan dan pengalaman manajerial sebelum melesat dalam kontestasi kepala daerah. Perbedaan itu dapat terlihat sebagai jarak pengalaman. Namun, dalam politik, perbedaan juga kerap dibaca sebagai kemungkinan untuk saling melengkapi: kematangan dan kesegaran, pengalaman panjang dan momentum baru, pusat perkotaan dan wilayah penyangga.
Aulia tidak perlu ditempatkan sebagai murid politik, sebagaimana Andi tidak harus selalu diposisikan sebagai mentornya. Dalam urusan pemerintahan lintas wilayah, keduanya berdiri sebagai kepala daerah dengan mandat dan kepentingan masyarakat masing-masing. Pertemuan mereka kali ini pun bukan berlangsung di panggung partai. Keduanya bertemu karena air.
Samarinda memiliki posisi geografis yang unik. Seluruh sisinya berbatasan langsung dengan Kutai Kartanegara. Pembangunan di kedua wilayah tidak mungkin berjalan seperti dua rumah yang dipisahkan tembok tinggi. Jalan, sungai, permukiman, pergerakan penduduk, dan perkembangan kawasan pinggiran saling bersinggungan.
Banjir di kawasan perbatasan memperlihatkan hubungan tersebut secara paling nyata. Air tidak membaca papan batas wilayah. Intervensi pada aliran air di satu daerah dapat membawa konsekuensi bagi masyarakat di daerah lainnya.
Di situlah pertemuan Andi dan Aulia memperoleh makna yang lebih penting daripada kelakar 2029. Pemkot Samarinda membutuhkan jalur penanganan banjir yang efektif. Pemkab Kukar berkepentingan memastikan solusi tersebut tidak mengirimkan beban baru ke Loa Janan Ulu. Aulia bahkan menyebut sekitar 70 persen wilayah desa tersebut terendam ketika air naik. Penanganan yang keliru dikhawatirkan dapat memperburuk keadaan.
Pintu air kemudian dipilih sebagai jalan sementara. Sodetan akan ditinjau. Normalisasi sungai disiapkan untuk pembahasan jangka menengah dan panjang. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur serta Balai Wilayah Sungai turut dilibatkan.
Namun, kesepakatan di depan kamera belum otomatis mengeringkan halaman warga. Pintu air masih harus dipasang. Rencana sodetan perlu dipastikan aman bagi kedua wilayah. Normalisasi sungai membutuhkan anggaran, perencanaan teknis, dan penyelesaian persoalan sosial di kawasan hilir. Target penanganan pada 2027 pun masih bergantung pada pekerjaan lintas instansi yang belum selesai.
Karena itu, sebelum membicarakan kecocokan Andi dan Aulia untuk 2029, publik memiliki ukuran yang lebih dekat untuk menilainya. Apakah keduanya mampu menjaga ego kewilayahan? Apakah Samarinda memperoleh solusi tanpa mengorbankan masyarakat Kukar? Apakah keputusan bersama benar-benar bergerak dari ruang rapat menuju lapangan?
Kecocokan dua pemimpin tidak pertama-tama diuji melalui baliho, hasil survei, atau tawa dalam konferensi pers. Ia diuji ketika dua kepentingan daerah bertemu dan keduanya mampu menemukan jalan yang tidak merugikan salah satu pihak.
Jika kelakar tersebut kelak menjadi kenyataan, orang mungkin akan mengingat bahwa salah satu kode awalnya muncul bukan di kantor partai, melainkan di lokasi persoalan banjir. Jika tidak pernah menjadi kenyataan pun, pertemuan itu tetap bernilai apabila menghasilkan solusi bagi warga.
Sebab, masyarakat tidak terlalu membutuhkan dua politikus yang terlihat cocok berdiri di satu panggung. Masyarakat membutuhkan dua kepala daerah yang kebijakannya cocok ketika diterapkan di lapangan. Politik boleh membuka pintu menuju 2029. Namun, warga menunggu pintu air bekerja lebih dahulu. (riz)
Editor : Muhammad Rizki