Oleh:
Prof Bambang Irawan
Guru Besar Administrasi Publik, Universitas Mulawarman
PUBLIC SCHOLARSHIP KALTIM POST #05
KALTIMPOST.ID-Hari-hari di birokrasi memang kerap dipenuhi kesibukan. Mulai rapat, koordinasi, dan kegiatan lapangan hingga dokumen yang perlu diperiksa, laporan yang perlu diselesaikan, serta target yang perlu dicapai. Terlebih aktivitas menjelang akhir tahun, ritme kerja dan volumenya bisa semakin meningkat.
Semua itu memang bagian penting dari kerja pemerintahan, dan banyak urusan publik perlu dikoordinasikan serta melibatkan proses administrasi, rapat, dan berbagai kegiatan lainnya.
Baca Juga: Seniman Balikpapan Lukiskan TNI Modern, Kodam VI/Mulawarman Beri Penghargaan kepada Enam Pemenang
Jadi, persoalannya bukan sekadar seberapa sibuk birokrasi bekerja, melainkan pertanyaan yang lebih penting, yaitu : setelah semua kesibukan itu, apa yang benar-benar berubah?
Bayangkan program penanganan stunting, pada saat kegiatan penyuluhan telah dilakukan, bantuan makanan bergizi telah disalurkan, balita telah diperiksa, dan laporan kegiatan telah diselesaikan.
Semua ini menunjukkan bahwa program telah berjalan, namun apakah kondisi gizi anak benar-benar membaik? Apakah keluarga mulai menerapkan pola makan yang lebih sehat?
Apakah jumlah anak yang berisiko mengalami stunting semakin berkurang? Di sinilah pentingnya mengukur keberhasilan, bukan hanya dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut membawa perubahan.
Upaya pembenahan kinerja pemerintah sebenarnya sudah mengarah ke sana. Kementerian PANRB menegaskan akuntabilitas kinerja bukan sekadar soal banyaknya kegiatan atau lengkapnya administrasi, yang lebih penting kita perlu melihat seberapa jelas pekerjaan dan sumber daya pemerintah berkontribusi terhadap pencapaian hasil yang diharapkan.
Baca Juga: Honda Bikers Day 2026 di Samarinda Libatkan UMKM, Ribuan Bikers Ramaikan GOR Kadrie Oening
Pergulatan itu tidak hanya terjadi di Indonesia, Pemerintah Australia melakukan audit kinerja pada 2026 menemukan bahwa hasil dan dampak masih lebih jarang diukur dibandingkan aktivitas dan keluaran.
Pesannya cukup sederhana, yaitu penting untuk mengetahui apa yang sudah dikerjakan, tetapi pemerintah juga perlu memahami perubahan yang dihasilkan.
Tentu, tidak setiap kegiatan diharapkan menghasilkan dampak besar dan kita sadar bahwa persoalan publik dipengaruhi oleh banyak faktor dan sering melibatkan banyak pihak; tidak adil menuntut satu program untuk menyelesaikan semuanya.
Namun, setiap program seharusnya dapat menjelaskan perubahan dan berkontribusi secara nyata menuju arah tersebut.
Laporan bisa membantu memberikan gambaran tentang berbagai hal yang telah dikerjakan oleh pemerintah. Dari sana, masyarakat bisa menilai sendiri apakah pelayanan semakin baik, persoalan mulai berkurang, dan kondisi yang ingin diperbaiki bergerak ke arah yang diharapkan.
Itu bukan soal meminta aparatur bekerja lebih keras, karena banyak dari mereka sudah bekerja dengan sungguh-sungguh. Tantangannya adalah memastikan energi besar tersebut tidak hanya terserap untuk menuntaskan berbagai aktivitas, tetapi juga tetap diarahkan pada hasil yang ingin dicapai.
Karena itu, mari kita lebih sering membawa satu pertanyaan sederhana ke ruang rapat, dokumen perencanaan, hingga laporan kinerja, yaitu: setelah semua pekerjaan ini selesai, perubahan apa yang ingin kita lihat?
Pertanyaan itu membantu kita agar tidak hanya berfokus pada banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga pada manfaat nyata yang mulai dirasakan masyarakat.
Baca Juga: Permintaan Tenun Ikat Sukan Tengah Tinggi, Berau Kekurangan Penenun Muda untuk Menjaga Produksi
Birokrasi tentu tidak perlu berhenti menjadi sibuk; rapat tetap penting, koordinasi perlu terus berjalan, administrasi harus tertib, dan program tetap perlu dilaksanakan.
Namun, akan lebih baik jika semua kesibukan itu memiliki arah yang jelas. Jadi, yang perlu kita pastikan bukan sekadar apakah birokrasi sudah cukup sibuk, melainkan ke arah mana kesibukan itu diarahkan. (rd)
Editor : Romdani.