Mengapa Kita Mengulang Kesalahan yang Sama?

Romdani. • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 07:55 WIB
Silvia Rahmadina.
Silvia Rahmadina.

Oleh:

Silvia Rahmadina, AP, MAP, CGCAE, CGRE, QIA

Inspektur Kota Balikpapan

 

KALTIMPOST.ID-Situasi ini mungkin terasa akrab bagi banyak organisasi: ditemukannya sebuah masalah, terbit rekomendasi untuk perbaikan, kemudian rekomendasi ditindak lanjuti dengan langkah perbaikan dan setelah itu permasalahan perbaikan dilakukan, lalu tindak lanjut dianggap selesai, dan namun beberapa waktu kemudian, permasalahan serupa muncul kembali.

Nah, ketika itu terjadi, pertanyaannya bukan semata-mata kenapa bisa dan siapa yang salah, melainkan apa yang belum dipelajari oleh organisasi.

Dalam pengawasan, tindak lanjut tentu berperan penting, karena rekomendasi perlu dituntaskan dan perbaikan perlu dijalankan. Namun, tuntasnya tindak lanjut belum tentu berarti akar penyebab persoalan benar-benar teratasi.

Ketika persoalan yang sama muncul kembali, itu mengingatkan kita bahwa meski prosesnya sudah selesai secara administratif, namun cara kerja yang memungkinkan masalah tersebut terjadi mungkin belum banyak berubah.

Baca Juga: Khofifah Lantik Aji Suryana sebagai Ketua IKA Unair Kaltim, Siap Perkuat Jejaring Alumnus

Bayangkan dokumen yang tidak lengkap dalam sebuah proses kerja. Jawaban paling mudah mungkin: pegawai kurang teliti. Dokumen kemudian dilengkapi dan pegawai diminta untuk lebih berhati-hati.

Selesai? Mungkin untuk saat itu. Namun, bagaimana jika kita menelusurinya lebih jauh: apa yang membuat dokumen itu belum lengkap? Apakah prosedurnya sudah cukup jelas dan pembagian tanggung jawabnya dipahami dengan baik?

Apakah supervisi pengendalian berjenjang telah berjalan sebagaimana mestinya? Atau mungkin ada tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, sehingga beberapa proses terlewat?

Menemukan apa yang salah biasanya cukup mudah. Namun, untuk memahami mengapa hal itu bisa terjadi, kita perlu menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan yang tepat.

Namun mengetahui penyebab pun belum cukup, bahkan kita masih perlu bertanya: apa yang berubah setelah itu?

Jika masalahnya terletak pada prosedur, apakah prosedur tersebut sudah diperbaiki? Jika tanggung jawabnya belum jelas, apakah sudah diperjelas?

Baca Juga: LAPSUS: Proyek di Kaltim Menyusut, Kontraktor Lokal Keluhkan Sulitnya Dapat Pekerjaan di IKN

Dan jika pengendalian berjenjangnya masih lemah, apakah cara pengawasan di unit kerjanya sudah diperbaiki? Lalu, ada satu pertanyaan yang sering kali lebih sulit dijawab: apakah perbaikannya benar-benar berhasil?

Perbaikan tidak cukup hanya dinyatakan selesai, tetapi kita juga perlu memastikan bahwa perubahan yang dilakukan benar-benar mengurangi kemungkinan masalah yang sama terulang.

Sebab, menyelesaikan suatu tindakan berbeda dengan memastikan bahwa tindakan tersebut benar-benar menuntaskan persoalan.

Bagi saya, di sinilah tindak lanjut mulai berubah menjadi pembelajaran. Namun, masih ada satu langkah penting yang kerap terlewat: pelajaran dari suatu persoalan sebaiknya dibagikan, bukan hanya disimpan oleh unit yang mengalaminya.

Jika satu unit menemukan kelemahan dalam sebuah proses, unit lain tentu bisa belajar darinya tanpa harus menunggu sampai menghadapi masalah yang sama.

Dalam praktik pengawasan, cara berpikir seperti itu menjadi semakin penting. Persoalan yang muncul di satu perangkat daerah dapat menjadi pembelajaran berharga bagi perangkat daerah lainnya.

Baca Juga: LAPSUS: Anggaran IKN 2026 Diefisiensi Rp 792 Miliar, Otorita Pastikan Pembangunan Tetap Berjalan

Pemerintah sebenarnya memiliki banyak pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Tantangannya adalah memastikan pengetahuan tersebut dapat dibagikan dan dimanfaatkan bersama, bukan hanya tersimpan pada satu orang atau unit tertentu.

Organisasi yang belajar tidak menunggu setiap unit melakukan kesalahan yang sama untuk mendapatkan pelajaran yang sama.

Di situlah hasil pengawasan memperoleh nilai yang lebih besar, bukan hanya memberi tahu apa yang perlu diperbaiki hari ini, tetapi juga membantu organisasi mengenali apa yang perlu diubah agar persoalan serupa tidak terus muncul.

Kesalahan memang tidak selalu bisa dihindari, namun dalam organisasi, banyak orang, proses, keputusan, dan keadaan terus berubah, dan yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi serta belajar dari kesalahan setelah hal itu terjadi.

Apakah kita sekadar memperbaikinya? Atau benar-benar belajar darinya? Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan organisasi yang semakin jarang melakukan kesalahan yang sama. (rd)

Editor : Romdani.
pemkot balikpapan ibu kota nusantara Wali Kota Balikpapan Rahmad Masud Universitas Mulawarman Kutai Barat