Jejak Tempakul di Tepian Ibu Kandung Samarinda

Redaksi Kaltim Post • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 19:16 WIB
Oleh: Rauhiyatul Jannah
(Peserta Workshop Penulisan Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim 2026)
Oleh: Rauhiyatul Jannah
(Peserta Workshop Penulisan Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim 2026)

HAMPIR empat puluh tahun lamanya, tapak kakiku mengitari aliran lintasan Sungai Karang Mumus. Semasa kanak-kanak kerap melewati Jalan Lambung Mangkurat menuju SD Normal Islam (Noris) di Jalan Ahmad Dahlan. 

Di lokasi itu dulu, sepulang sekolah puluhan anak lelaki tanggung berlompatan dari atas Jembatan 3, menceburkan diri ke Karang Mumus. Waktu luang masa kanak-kanak yang hobi “bekunyung” (berenang) kala itu, dihabiskan dengan berteriak puas, tertawa, dan bermain dengan sebayanya di aliran Karang Mumus, hingga senja menjelang. 

Pernah pula aku menonton kawan-kawan di bibir sungai di Jalan Muso Salim, “maunjun” (memancing) ikan. Pelakunya adalah anak-anak tanggung yang menjadikan kegiatan memancing sebagai permainan seru saat akhir pekan. Tak jarang pula kena omel “mamak” yang merasa terganggu aktivitas MCK-nya sebab keributan yang dibuat anak-anak, yang sedang bermain dekat jamban mereka.

Ratusan kepala keluarga yang menetap di Samarinda, pernah menggantungkan hidup dari DAS Karang Mumus. Membangun rumah, MCK, menjadikan wahana transportasi, bahkan ladang mencari rezeki. Karang Mumus, benar-benar hanya mengaliri sekian kecamatan di Kota Samarinda, tidak kota lainnya. Sungai yang merupakan anak Sungai Mahakam, memiliki panjang aliran 34,7 kilometer. Maka wajar kemudian, jika Sungai Karang Mumus, dikatakan sebagai Ibu Kandung Samarinda. 

Dulu, di tepian-tepian Sungai Karang Mumus, di antara lumpur dan tebing bibir sungai kerap didapati binatang antik bernama tempakul. Jenis ikan berbentuk aneh yang setiap gerakannya terlihat kocak. Tampilan fisiknya mirip kodok, tapi ikan. Dikatakan ikan tapi bisa berjalan dengan kaki. Di barat, ikan ini dinamai mudskipper. Ikan yang hidup serupa kodok ini, dapat bertahan di air, sekaligus di darat juga. Tempakul atau dikenal juga ikan glodok hampir dapat ditemui di semua perairan tawar atau payau. 

Lama tidak pernah kulihat keberadaannya di pinggiran Karang Mumus. Dulu kawan-kawan “ajaibku” kerap mengorek-ngorek lumpur di bawah Jembatan 3, atau pinggiran sungai di Jalan Jelawat, berusaha menangkap si tempakul. Kubangan dengan bau khas tanah tidak menjadi penghalang “kekanak” tanggung untuk memburunya. Hebatnya si tempakul ini bisa menerobos lumpur sampai cukup dalam untuk kabur dan bersembunyi. 

Aku kecil, pernah bertanya-tanya apa yang dicari tempakul di dalam lumpur yang kotor? Bukannya jika terjebak lumpur tak bisa bernapas? Tapi tempakul tahan berjam-jam bersembunyi hingga keadaan aman. 

Rupanya tempakul memanfaatkan oksigen dalam tanah lumpur, untuk bisa tetap bernapas. Dan di sanalah dia mendapatkan makan. Cacing, anak kepiting, serangga, ikan, bahkan lumut-lumut dan alga di pinggiran adalah sumber makanannya. 

Ternyata tempakul merupakan bioindikator alami yang sangat efektif untuk menilai kesehatan ekosistem pesisir, khususnya kawasan hutan mangrove dan zona pasang-surut. Karena karakteristik biologisnya yang unik sebagai ikan amfibi yang hidup bersentuhan langsung dengan substrat lumpur, tempakul sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Populasi tempakul sangat dipengaruhi oleh salinitas air, tipe substrat lumpur, dan tingkat vegetasi. Tempakul punya sensitivitas terhadap pencemaran. Para peneliti lingkungan kerap menggunakan tempakul sebagai bahan uji terhadap pencemaran lingkungan. Jaringan tubuh tempakul mampu mengakumulasi logam berat seperti polyacrylic hydrocarbon. Dengan menganalisis daging tubuh ikan tempakul, bisa didapati angka polusi di air tempat hidupnya.

Telah cukup lama tempakul kabur dari pinggiran Karang Mumus. Tak lagi ditemui pemandangan tempakul yang melarikan diri ke dalam lumpur. Penghuni DAS Karang Mumus, sangat lama seolah tak perduli, air yang mereka tumpahi aneka sampah organik atau anorganik, bukanlah air yang mengalir di tubuh Ibu Kandung kota tempat mereka menggantungkan hidup. Tumpukan sampah mengapung atau tersangkut di tiang-tiang rumah yang belum selesai ditertibkan Pemerintah Kota Samarinda.

Wajar jika tempakul tak mau lagi membersamai pinggiran Karang Mumus yang tercemar. Sampah telah lama menutupi sarang hidup si tempakul sehingga dia lebih memilih menyendiri ke tempat-tempat lain yang lebih bersih dan bisa bernapas dengan lega.

Beberapa jurnal sudah memublikasikan penelitian tentang kualitas air Karang Mumus dengan berbagai spot, metode, dan sudut pandang. Salah satunya adalah jurnal berjudul “Analisis Isu Lingkungan Prioritas pada Kualitas Air Kota Samarinda Tahun 2024 Menggunakan Metode DPSIR”, yang digarap oleh Searphin Nugroho, dkk, dari Fakultas Teknik Universitas Mulawarman. Dalam jurnalnya didapati data, sungai yang telah makin dangkal, menyempit dan mengalami tekanan lingkungan. Pencemaran yang dialaminya meski masih dalam kondisi sedang, namun tetap membahayakan untuk kesehatan jika digunakan secara langsung. 

Perbaikan yang diusahakan Pemkot, semakin membantu mengembalikan “kesehatan ibu kandung Samarinda” ini. Wajahnya dipercantik, urat nadinya didetoksifikasi dengan pembersihan sampah dan usaha antisipasi. Pekerjaan mengobati DAS Karang Mumus layak mendapat dukungan serius. Usaha untuk relokasi penduduk, dan pasar di tepi sungai, merestorasi jembatan-jembatan penyeberangan yang tak layak, hingga penghijauan di tepi Sungai Karang Mumus, adalah usaha keren, untuk mengembalikan fungsi Sungai Karang Mumus menjadi semestinya. 

Jika dulu banyak kakus mengapung di wajah Karang Mumus, kini perlahan bibir sungainya semakin berbenah, meski belum dekat dengan kata cantik. Spot-spot di bibir Karang Mumus, masih sangat layak menjadi sudut-sudut kota dengan seribu daya tarik. Tak harus megah dengan aneka pernak-pernik asal Eropa. Cukuplah bersih, rapi, dan bebas blind spot rawan kriminal. Sehingga jika sepasang anak manusia ingin menikmati senja di pinggir sungainya, cukup dengan segelas kopi hangat dan pisang rebus, sudah nikmat rasanya.

Bukan tak mungkin jika sepuluh atau dua puluh tahun lagi, tiap spot Karang Mumus, menjadi titik daya tarik wisatawan berkunjung ke Samarinda, serta mengabadikan fotonya di sana. Dan mungkin aku masih bisa kembali melihat anak-anak mengejar tempakul di tepian Sungai Karang Mumus, saat air surut. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
tepian samarinda karang mumus Sungai Karang Mumus sungai mahakam samarinda