Menguak Fenomena Joki Membaca Buku

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 12:35 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

KALTIMPOST.ID, Belakangan ini media sosial (medsos) Threads ramai dengan perbincangan sekaligus perdebatan perihal joki membaca buku. Sukar kita menepis kenyataan bahwa sebuah aktivitas intelektual bisa dikomersialkan. Kenyataan semacam ini juga menggeser cara sebagian dari kita dalam memandang dan memaknai aktivitas membaca buku. Sebab, ada yang memang dengan penuh kesadaran memesan jasa joki membaca tersebut dengan beragam alasan, seperti keterbatasan waktu, umpamanya. Semula saya pribadi memang agak ragu dengan maraknya jasa membaca ini. Ternyata, setelah menelusuri beberapa media arus utama, jasa membaca ini memang sedang naik daun. Seolah membuka peluang ekonomi bagi kita, terutama pencinta buku, untuk menawarkan diri sebagai joki membaca.

Berdasarkan beberapa pemberitaan yang saya baca, tarifnya cukup bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Penentuan tarif tersebut tentu saja berdasarkan ketebalan buku, bahasa, dan tingkat kesulitan pengerjaan. Diketahui, sejumlah layanan juga dilengkapi dengan anotasi (catatan tangan untuk menerangkan, mengkritik, dan mengomentari), sorotan kutipan, serta sticky tabs atau lembaran penanda kecil transparan pada bagian-bagian tertentu. Setelah buku tersebut dibaca, ditandai, dan diberi catatan, kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.

Baca Juga: Dari Regulasi ke Lapangan: Pelajaran dari 2024 menuju Pemilu 2029

Bagi saya pribadi, layanan semacam ini menjadi fenomena “unik” di dunia literasi. Bahkan, untuk sekadar menyerap ilmu dan pengetahuan dari lembaran buku pun, kita mesti merogoh kocek. Padahal, semua itu bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja tanpa biaya. Terkecuali buku yang kita beli di toko buku, pastinya membutuhkan pengorbanan biaya. Lain ceritanya jika meminjam di perpustakaan daerah atau kampus, umpamanya, yang gratis tanpa mengeluarkan biaya.

Hanya saja, yang menjadi pertanyaan adalah bersediakah kita meluangkan waktu untuk membaca buku yang telah kita pinjam atau beli? Jika tidak, atas alasan atau dasar apa sebagian dari kita justru memilih joki membaca? Bukankah yang justru akan semakin pintar dan cerdas itu para penyedia jasa tersebut? Sementara kita sebagai pemesan jasa bisa saja memperoleh pemahaman yang tidak utuh sebab yang kita pahami adalah hasil bacaan atau tafsiran dari penyedia jasa tersebut. Bisa juga kita gagal memahami isi buku karena tidak mengalami sendiri proses membaca tersebut.

Baca Juga: Sikap Ksatria Kak Mambo di Ujung Masa Jabatan Kwarda Kaltim

Sebab, dalam proses membaca, kita tidak hanya menerima informasi dan pengetahuan yang disampaikan oleh penulis atau pengarangnya. Di balik itu semua, terdapat proses menafsirkan, mempertanyakan gagasan, menyusun pemikiran, hingga membentuk pendapat atau pandangan kita sendiri selaku pembaca aktif. Saat seluruh proses menelaah buku itu diserahkan kepada orang lain, kita sebagai pengguna jasa, misalnya, akan berisiko sekadar mendapatkan hasil pemikiran pembaca tersebut, bukan pengalaman memahami buku secara mendalam melalui sudut pandang kita sendiri.

Usut punya usut, sebagian pemesan jasa membaca diketahui memang hendak mengunggah hasil pesanannya tersebut ke medsos, seperti Instagram. Sebagian memang tergabung dalam Bookstagram, semacam komunitas bagi para penggemar atau pencinta buku yang melakukan aktivitas berbagi foto-foto berkaitan dengan buku yang dibaca beserta ulasan (resensi) atau pendapat pembaca di Instagram. Foto yang diunggah berupa buku yang akan dibaca, sedang dibaca, atau sudah dibaca, dilengkapi dengan caption menarik yang terkait. Para penggunanya biasanya disebut bookstagrammer. Ironisnya, sebagian tidak benar-benar mengalami proses membaca itu sendiri. Kutipan-kutipan ataupun catatan-catatan yang diunggah itu, misalnya, merupakan hasil dari pesanan joki. Saya pun jadi sedikit ragu bercampur curiga, jangan-jangan memang yang dilakukan itu hanya untuk pamer agar terkesan intelektual atau termasuk “kutu buku”. Atau, bisa jadi ingin dianggap warganet sebagai generasi yang pintar. Intinya, hanya mendambakan validasi dari orang lain atas aktivitasnya tersebut. Semacam ajang “flexing” agar dikira berwawasan luas. Dengan kata lain, hendak membangun citra agar tampak cerdas. Dan salah satu jalan cepatnya, menurut mereka, adalah memakai jasa joki. Cukup membayar sesuai tarif, lalu menunggu hasilnya untuk kemudian ditunjukkan ke publik.

Baca Juga: Jejak Tempakul di Tepian Ibu Kandung Samarinda

Padahal, membaca (tanpa jasa joki), hemat saya, adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Sukar untuk digantikan oleh pihak lain. Sebab, sekali lagi, aktivitas membaca sangat personal. Dengan membaca langsung, banyak faedah yang bisa dipetik. Di antaranya yaitu mencegah kepikunan, mempertajam otak, melatih kemampuan berpikir kreatif, memperluas wawasan, meningkatkan daya imajinasi, melatih daya analisis, memperkuat karakter, melatih kemampuan mengambil keputusan, dan melatih keterampilan berpikir kritis.

Lebih lanjut, Nur Rahma dkk. (2024) pernah mengungkapkan bahwa keterampilan berpikir kritis menuntut pembaca untuk memanifestasikan sikap cermat, teliti, korektif, serta kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi kesalahan dan kekurangan dalam teks, baik dari perspektif konten maupun aspek bahasa. Selain itu, pembaca juga diharapkan mampu melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang teridentifikasi. Ditambah lagi, proses membaca lebih dari sekadar mengartikan simbol-simbol bahasa tertulis. Hal tersebut juga terkait dengan upaya memahami, menerima, menolak, membandingkan, dan mempertahankan pendapat penulis. Bagi mereka yang membaca lewat jasa joki, proses berpikir kritis tadi berarti terputus, padahal seharusnya dialami sendiri oleh mereka.

Baca Juga: Membangun Generasi Berintegritas

Apalagi, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya jika kita menyerahkan begitu saja aktivitas membaca itu kepada joki, jokilah yang akan mendapatkan beragam faedah yang telah saya kemukakan tadi. Kita selaku pemesan, umpamanya, mungkin hanya mendapatkan like, share, dan comment di Instagram berdasarkan ulasan, catatan, dan kutipan yang dibagikan itu. Lantas, apa yang mesti dibanggakan jika semua itu hanya kepalsuan yang sifatnya sementara? Bukan diri kita yang autentik.

Pada akhirnya, saya juga berpikir bahwa keberadaan penyedia jasa joki membaca ini cukup dilematis. Di satu sisi, jasa ini membuka peluang ekonomi di tengah keterbatasan lapangan kerja. Di sisi lain, bisa menimbulkan ketergantungan mental bagi pemesannya, berdampak pada penurunan kemampuan berpikir kritis, pemahaman yang kian dangkal, dan penerimaan bias dari joki. Bias di sini maksudnya, ringkasan yang dibuat oleh joki bersifat subjektif. Para pemesan hanya melihat isi buku dari sudut pandang, pemahaman, dan interpretasi joki. Hal tersebut besar kemungkinan akan menimbulkan kesalahpahaman. Si pemesan bisa jadi akan merasa paling tahu, paling mengerti, dan paling memahami kendatipun hanya membaca ulasan buku yang bisa saja melenceng dari maksud penulisnya. Jadi, mau pakai joki atau tidak, itu tergantung niat dan tujuan dalam membaca buku. Ingin benar-benar cerdas atau hanya terlihat cerdas? Ingin memiliki pemahaman yang dangkal atau dalam? Mengutamakan kulit atau isinya? Memprioritaskan substansi membaca atau sekadar permukaannya saja? Kitalah yang memutuskan untuk memilih yang mana. (*)

Editor : Almasrifah
Bookstagram joki resensi buku membaca buku Threads