Yang Mahal Setelah Lampu Padam

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Selasa, 27 Oktober 2026 | 19:14 WIB
Oleh Muhammad Rifqi Hidayatullah
Oleh: Muhammad Rifqi Hidayatullah
Kepala Biro Kaltim Post Tenggarong

SAAT listrik padam, urusan kita bisa berpindah dari memeriksa token ke memeriksa bahan bakar. Itu pun jika ada genset yang dapat dinyalakan. Tanpa sumber listrik cadangan, pekerjaan yang bergantung pada listrik mungkin harus menunggu.

Kita telah mengeluarkan uang untuk memperoleh layanan. Ketika layanan terganggu, ada pengeluaran lain agar kegiatan tetap berjalan. Membeli atau menyewa mesin, menyediakan bahan bakar, lalu merawatnya. Kemampuan menanggung semua itu tentu berbeda pada setiap rumah tangga dan usaha.

Di situlah pemadaman mempunyai ukuran yang lebih panjang daripada jam. Waktu padam yang sama dapat berarti tambahan pengeluaran bagi seseorang dan kehilangan kesempatan bekerja bagi orang lainnya. Lampu akhirnya menyala kembali, tetapi sebagian ongkos menghadapi gelap sudah terlanjur keluar. Dari listrik, pikiran saya bergerak ke air di dapur.

Kita mengenal kebiasaan merebus air untuk diminum. Ada pekerjaan di sana: memperoleh air, menyiapkan bahan bakar, memasaknya, lalu menunggu dingin. Kehidupan dahulu juga mempunyai ongkos. Namun, ketika persediaan air minum sebuah keluarga bertumpu pada pembelian galon, hubungan dengan kebutuhan itu terasa berubah. Persediaan harus diperiksa bersama uang untuk membeli berikutnya.

Pertanyaan yang tertinggal adalah bagaimana keadaan sumber air di sekitar kita. Apakah air yang layak digunakan masih mudah diperoleh, atau makin banyak sarana diperlukan untuk mengaksesnya? Di Kukar, Pemkab menerima bantuan 11 pompa air dari TNI AU pada September.

Menurut publikasi BPBD Kukar, pompa diprioritaskan untuk penanganan karhutla, dengan rencana pemanfaatan jangka panjang bagi pengairan sawah. Bupati Aulia Rahman Basri menyebut jarak antara sumber air dan lokasi yang membutuhkan sebagai salah satu kendala penyaluran air.

Keberadaan sumber belum selalu berarti kemudahan memperoleh manfaatnya. Ada jarak yang harus ditempuh dengan peralatan, tenaga, dan biaya. Lalu ada udara, kebutuhan yang bahkan tidak memberi kita kesempatan menunda.

Pada September, Dinas Kesehatan Kaltim menyatakan menyiagakan Rumah Oksigen di 20 puskesmas untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat karhutla. Dinkes juga menyebut persiapan cadangan tabung oksigen dan peralatan pendukung bagi fasilitas tersebut.

Penyiagaan itu penting. Sekaligus, keberadaannya membuat kita berhenti sejenak: udara di luar rumah dapat memburuk sampai pertolongan khusus perlu disediakan bagi orang yang terdampak.

Oksigen medis mempunyai kegunaan tersendiri. Menyebut semua orang kini membeli udara tentu melampaui kenyataan. Tetapi ada kegelisahan yang dapat dipahami di balik ungkapan itu. Bernapas, yang berlangsung tanpa banyak kita pikirkan, ternyata bergantung pada keadaan lingkungan yang harus dijaga bersama.

Hujan Membawa Pikiran Itu Lebih Jauh

BMKG bersama instansi terkait melaksanakan operasi modifikasi cuaca di Samarinda dan sekitarnya pada 16–19 September 2026 untuk membantu menghadapi kekeringan dan kabut asap. Upaya meningkatkan peluang hujan tersebut mempertimbangkan kondisi atmosfer serta awan yang tersedia.

Ada penerbangan, pemantauan cuaca, personel, dan koordinasi agar operasi itu dapat dilakukan. Untuk membantu menghadapi kekeringan, peluang hujan diupayakan melalui kegiatan khusus, dengan tetap bergantung pada keadaan atmosfer. Hal-hal yang terasa biasa rupanya dapat meminta usaha besar ketika ketersediaannya terganggu.

Tentu gangguan pembangkit, kekeringan, dan kabut asap mempunyai penyebab serta penanganan berbeda. Kita tidak dapat menarik satu garis sebab-akibat untuk semuanya. Dalam publikasi resmi Diskominfo Kaltim mengenai rapat koordinasi 7 Oktober 2026, misalnya, pemadaman bergilir disebut berkaitan dengan gangguan teknis dan pemeliharaan pembangkit.

Perbaikan perlu dilakukan dengan aman. Pompa, fasilitas pertolongan, dan teknologi cuaca pun membantu menghadapi keadaan sulit. Kehadiran semua sarana itu menunjukkan kemampuan manusia mencari jalan keluar.

Yang mengusik adalah jika kemampuan menyediakan pengganti membuat kita kurang memperhatikan keadaan yang memerlukannya. Rumah tangga bersiap dengan cadangan. Pemerintah menyiapkan penanganan darurat. Sementara itu, pertanyaan tentang keandalan layanan, pemeliharaan sumber air, dan perlindungan udara tetap memerlukan jawaban.

Ada pula pertanyaan tentang siapa yang paling sedikit mempunyai pilihan. Membeli peralatan cadangan membutuhkan uang. Menghentikan pekerjaan dapat berarti kehilangan penghasilan. Orang yang tidak mampu menyediakan pengganti tetap harus melewati gangguan yang sama.

Jika air, udara, dan tanah kita yakini sebagai titipan Tuhan, rasa syukur mempunyai urusan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menyangkut cara merawat sumbernya, menggunakan manfaatnya, dan memikirkan orang lain yang ikut bergantung kepadanya.

Kekhawatiran jangan sampai Tuhan marah semestinya mengajak kita memeriksa tanggung jawab itu. Ada keputusan dan perilaku manusia yang dapat diperbaiki, tanpa harus menebak-nebak kehendak-Nya dari penderitaan orang yang sedang mengalami musibah.

Listrik yang kita bayar memang tidak menjadikan pembangkit milik pribadi. Tetapi sebagai pelanggan, wajar jika kita mengharapkan kepastian layanan. Sebagaimana menyediakan persediaan air tidak mengurangi kebutuhan akan sumber air yang terawat, memiliki genset pun tidak menghapus kebutuhan akan listrik yang andal.

Saat pasokan kembali, genset dapat dimatikan. Bahan bakar yang sudah digunakan tetap menjadi pengeluaran. Begitu pula tenaga dan waktu yang dipakai untuk menghadapi gangguan.

Barangkali itulah yang mahal setelah lampu padam: usaha mempertahankan kehidupan sehari-hari ketika hal-hal yang menopangnya kehilangan kepastian. Kita dapat membeli sebagian penggantinya, selama uang masih tersedia. Merawat agar kepastian itu tidak terus berkurang adalah pekerjaan yang harus ditanggung bersama. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
El Nino 2026 karhutla Kaltim Pemadaman Listrik Kaltim listrik padam Kaltim krisis air