KALTIMPOST.ID - Tren penjualan kendaraan listrik di Tanah Air terus mencatatkan pertumbuhan signifikan seiring masuknya beragam model baru dengan harga kompetitif. Kendati demikian, sebagian masyarakat ternyata masih diliputi rasa was-was untuk beralih dari mobil konvensional.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai keraguan calon konsumen saat ini berakar pada kekhawatiran terhadap komponen utama penyimpan daya. Biaya penggantian baterai yang sangat tinggi menjadi momok tersendiri bagi calon pemilik.
"Ini bagian yang dianggap menakutkan karena biaya baterai dinilai sangat mahal dan juga usia pakainya," ujar Bebin dalam program Autobizz CNBC Indonesia, yang dilansir dari Detikoto, Senin (21/9).
Kekhawatiran tersebut beralasan mengingat harga komponen baterai di pasaran saat ini memang masih tergolong tinggi hingga menembus angka ratusan juta rupiah. Untuk model seperti Hyundai Ioniq 5, harga baterai pengganti berada di kisaran Rp 300 juta hingga Rp 400 jutaan.
Baca Juga: Kode Redeem Free Fire 21 September 2026: Cek Sebelum Kehabisan, Klaim Diamond & Skin Gratis Segera!
Contoh lain terlihat pada model Jaecoo J5 dengan estimasi harga baterai di atas Rp 150 juta atau berkisar Rp 170 jutaan. Nilai tersebut terhitung sangat besar karena dapat mencakup porsi signifikan dari harga unit mobil baru.
Untuk menepis keraguan pasar, sejumlah pabrikan sejatinya telah menyertakan paket garansi khusus baterai berdurasi panjang. Beberapa jenama bahkan menawarkan garansi seumur hidup atau lifetime warranty dengan catatan memenuhi syarat tertentu.
Meski garansi pabrikan tersedia, status kendaraan listrik sebagai teknologi baru tetap memicu tanda tanya seputar urusan perawatan harian. Keberadaan teknisi andal dan kesiapan bengkel umum di luar jaringan resmi masih menjadi pertimbangan calon pembeli.
"Karena ini teknologi baru, muncul pertanyaan lain, siapa yang akan menangani perawatannya?" tutur Bebin.
Baca Juga: Haaland Cetak Gol ke-117, Sunderland Jadi Korban Terakhir
Selain persoalan teknis kendaraan, kesiapan sarana pendukung di ruang publik turut membayangi keputusan masyarakat. Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sering kali menjadi kendala nyata saat kendaraan dipakai menempuh perjalanan jarak jauh pada momen liburan.
"Ini jadi cerita menakutkan lainnya. Apakah infrastruktur SPKLU sudah siap untuk menampung begitu banyak mobil? Tapi mereka tidak peduli. Mereka tetap melaju. Mereka bahkan rela menginap semalam untuk ngecas," tegas Bebin.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa percepatan ekosistem kendaraan listrik masih memerlukan kesiapan menyeluruh, baik dari sisi kejelasan biaya kepemilikan jangka panjang maupun keandalan infrastruktur pengisian daya.***
Editor : Dwi Puspitarini