China Tolak Batas Ekspor Mobil Hybrid, Perang Dagang Kembali Memanas

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 06:58 WIB
Foto istimewa
Foto istimewa

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Hubungan perdagangan China dan Uni Eropa kembali menghadapi persoalan baru. Beijing menolak wacana pembatasan ekspor kendaraan hybrid China ke pasar Eropa yang disebut-sebut sedang dibahas oleh Uni Eropa.

Pemerintah China menyatakan akan mencermati setiap kebijakan yang diterapkan Uni Eropa terhadap industri otomotif Negeri Tirai Bambu. Beijing juga menegaskan siap mengambil langkah untuk melindungi kepentingan perusahaan asal China.

Persoalan ini mencuat setelah laporan media menyebut Uni Eropa meminta China secara sukarela membatasi penjualan kendaraan hybrid di pasar Eropa hingga sekitar 15 persen.

Baca Juga: TNI AD Siapkan 5 Kodam Baru, Papua Tengah hingga Kepri Masuk Daftar, Total Jadi 23 Kodam

Langkah tersebut disebut menjadi salah satu opsi untuk mencegah sengketa perdagangan antara kedua pihak semakin melebar. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Uni Eropa mengenai permintaan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing berharap Uni Eropa tetap menjaga keterbukaan pasar dan prinsip perdagangan bebas.

China juga meminta kebijakan perdagangan yang diterapkan terhadap perusahaan asing tetap mengacu pada ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan China menyatakan telah mengetahui pemberitaan mengenai rencana pembatasan ekspor tersebut.

Beijing bahkan menilai pembatasan ekspor secara sukarela bertentangan dengan aturan WTO serta prinsip persaingan yang sehat dalam mekanisme pasar.

Meski demikian, Kementerian Perdagangan China belum memastikan apakah Uni Eropa telah menyampaikan permintaan pembatasan ekspor tersebut secara resmi kepada pemerintah China.

China menegaskan setiap kesepakatan dengan Uni Eropa harus memperhatikan kepentingan industri dari kedua pihak. Penyelesaiannya juga disebut harus mempertimbangkan aturan WTO serta hukum yang berlaku di masing-masing wilayah.

Baca Juga: KRI Sriwijaya Bakal Dimodernisasi, PT PAL Buka Opsi Penggantian Mesin Kapal Induk

Isu tersebut menjadi perhatian karena industri kendaraan listrik dan hybrid China tengah memperluas penetrasi pasar Eropa. Di sisi lain, Uni Eropa berupaya menjaga industri otomotif domestiknya di tengah meningkatnya persaingan dengan produsen kendaraan China.

Perkembangan kebijakan tersebut selanjutnya akan menjadi salah satu perhatian dalam hubungan perdagangan China-Uni Eropa, khususnya sektor kendaraan listrik dan hybrid.

Editor : Uways Alqadrie
mobil hybrid Cina Mobil Listrik Cina tiongkok wuling byd