KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Klakson merupakan komponen vital keselamatan berkendara yang berfungsi sebagai alat komunikasi antarpengguna jalan. Oleh karena itu, gangguan seperti suara klakson yang sember, cempreng, melemah, hingga mati total tidak boleh diabaikan begitu saja.
Gangguan pada klakson menjadi sinyal adanya masalah pada sistem getar maupun jalur kelistrikan sepeda motor. Dilansir dari laman Wahana Honda, terdapat sejumlah penyebab utama yang membuat performa klakson menurun. Pemilik kendaraan disarankan melakukan pemeriksaan sederhana sebelum memutuskan untuk mengganti unit klakson baru.
Beberapa faktor penyebab dan langkah penanganan awal yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Endapan Air dan Kotoran pada Membran: Air dan pasir yang masuk ke dalam horn disc—biasanya setelah mencuci motor dengan jet washer atau menerobos genangan—dapat mengendap dan menghambat getaran pelat membran. Akibatnya, suara menjadi parau atau sember. Pemilik motor dapat menepuk perlahan bodi klakson untuk mengeluarkan air lalu mengeringkannya.
-
Daya Aki Melemah: Klakson membutuhkan suplai arus listrik yang stabil. Jika tegangan aki berada di bawah normal (di bawah 12,4 volt), suara klakson akan terdengar pelan, terutama saat dibunyikan bersamaan dengan lampu sein atau rem. Pada motor injeksi, aki yang melemah harus segera ditangani karena berpengaruh pada kinerja ECU dan fuel pump.
-
Soket Kendur atau Berkarat: Getaran saat melewati jalan rusak dapat melonggarkan soket terminal maupun baut penyetel nada (tuning screw). Selain itu, kerak dan karat pada terminal dapat menghambat aliran listrik bahkan berisiko memicu korsleting hingga sekring putus. Pemilik motor bisa membersihkan kotoran menggunakan contact cleaner dan memastikan konektor terpasang rapat.
Klakson yang bermasalah tidak selalu berarti unitnya rusak total. Apabila pemeriksaan mandiri pada kebersihan membran, kondisi aki, serta kerapatan soket telah dilakukan namun klakson tetap tidak berfungsi, pemilik kendaraan dianjurkan untuk membawa motor ke bengkel resmi guna penanganan sistem kelistrikan yang lebih aman.(*)
Editor : Thomas Priyandoko