KALTIMPOST.ID, Bagi mobil dengan mesin bensin, kemacetan bisa menjadi kondisi yang cukup menguras bahan bakar. Kendaraan harus terus bergantian antara berhenti, merayap, lalu kembali berakselerasi ketika lalu lintas mulai bergerak. Pola berkendara seperti ini membuat penggunaan bahan bakar menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika mobil melaju secara konstan.
Hal berbeda terjadi pada kendaraan listrik. Sistem penggeraknya memiliki karakteristik yang membuat penggunaan energi lebih sesuai untuk situasi lalu lintas yang sering berhenti dan berjalan kembali. Motor listrik mampu mengatur tenaga secara efisien, sementara energi yang biasanya terbuang ketika kendaraan memperlambat laju dapat sebagian dimanfaatkan kembali.
Lantas, apa yang membuat mobil listrik punya karakter berbeda ketika menghadapi kemacetan? Berikut beberapa alasannya.
1. Motor Listrik Tidak Perlu Tetap Berputar Saat Mobil Berhenti
Salah satu perbedaan utama terletak pada kondisi ketika kendaraan berhenti. Mobil berbahan bakar bensin umumnya tetap menyalakan mesin dalam kondisi idle saat berhenti di lampu merah atau ketika terjebak antrean panjang, kecuali sistem start-stop mematikannya.
Meski kendaraan tidak bergerak, mesin yang masih menyala tetap membutuhkan bahan bakar untuk mempertahankan putarannya. Penggunaan tersebut memang relatif kecil dalam satu waktu, tetapi bisa terakumulasi jika mobil berkali-kali berhenti dalam perjalanan yang panjang.
Mobil listrik tidak membutuhkan proses idle seperti mesin pembakaran internal. Saat kendaraan berhenti dan pengemudi tidak meminta tenaga, motor listrik dapat berhenti memberikan dorongan tanpa harus mempertahankan putaran seperti mesin bensin.
Bukan berarti mobil listrik tidak menggunakan energi sama sekali ketika berhenti. Sistem pendingin udara, lampu, layar, sistem audio, dan berbagai perangkat elektronik tetap membutuhkan listrik. Namun, kebutuhan tersebut berbeda dengan konsumsi energi untuk mempertahankan mesin pembakaran tetap hidup.
2. Pengereman Regeneratif Membantu Mengembalikan Sebagian Energi
Keunggulan lain mobil listrik berasal dari teknologi regenerative braking atau pengereman regeneratif. Sistem ini memungkinkan sebagian energi dari gerakan kendaraan saat melambat diubah kembali menjadi energi listrik.
Ketika pengemudi mengurangi kecepatan, motor listrik dapat bekerja sebagai generator. Energi yang dihasilkan kemudian dialirkan kembali ke baterai sehingga sebagian dapat digunakan untuk membantu perjalanan selanjutnya.
Fitur ini menjadi semakin berguna dalam kondisi stop-and-go, ketika kendaraan harus berkali-kali memperlambat laju sebelum kembali bergerak. Pada mobil konvensional, sebagian besar energi kinetik ketika melakukan pengereman dilepaskan dalam bentuk panas melalui sistem rem.
Meski pengereman regeneratif tidak mampu mengembalikan seluruh energi yang sebelumnya digunakan untuk menggerakkan mobil, teknologi tersebut dapat mengurangi jumlah energi yang terbuang selama proses deselerasi.
3. Cara Mengemudi dan Kondisi Kendaraan Tetap Berpengaruh
Keunggulan mobil listrik ketika menghadapi kemacetan bukan berarti konsumsi energinya tidak dipengaruhi faktor lain. Penggunaan AC, bobot kendaraan, kondisi ban, temperatur lingkungan, gaya akselerasi, hingga karakteristik jalan tetap dapat memengaruhi seberapa banyak energi yang digunakan.
Dalam kemacetan yang sangat panjang, perangkat di dalam kabin yang terus beroperasi juga akan mengambil daya dari baterai. Karena itu, efisiensi kendaraan listrik tetap bergantung pada cara penggunaannya.
Mobil bensin pun sebenarnya dapat dibuat lebih hemat dengan menerapkan gaya berkendara yang halus. Menghindari akselerasi dan pengereman secara berlebihan serta menjaga kecepatan tetap stabil dapat membantu mengurangi konsumsi bahan bakar.
Namun, dari sisi karakter sistem penggerak, motor listrik memiliki sejumlah keuntungan ketika menghadapi pola perjalanan yang berulang kali berhenti dan berjalan. Tidak adanya kebutuhan untuk mempertahankan mesin dalam kondisi idle serta kemampuan pengereman regeneratif membuat energi dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.
Mobil Listrik Punya Keunggulan di Kondisi Stop-and-Go
Kemacetan memang tetap membuat mobil listrik menggunakan energi, tetapi karakter motor listrik memberikan keuntungan tertentu dibandingkan mesin pembakaran internal. Ketika kendaraan berhenti, tidak ada energi yang harus digunakan untuk mempertahankan mesin tetap menyala seperti pada mobil bensin.
Selain itu, energi yang muncul ketika kendaraan memperlambat laju tidak seluruhnya terbuang karena sebagian dapat dipulihkan melalui sistem pengereman regeneratif.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat mobil listrik umumnya memiliki karakter yang cocok untuk menghadapi lalu lintas perkotaan dengan pola berhenti, berjalan perlahan, dan kembali berakselerasi. Meski begitu, efisiensi sebenarnya tetap bergantung pada kondisi kendaraan, lingkungan, serta gaya berkendara pengemudi.
Editor : Ilmidza