KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Perkembangan kendaraan listrik terus mendorong perubahan di industri otomotif. Namun, persoalan mengenai seberapa lama kendaraan listrik dapat digunakan masih menjadi perhatian, terutama terkait daya tahan baterai yang menjadi komponen paling mahal.
Sejumlah penelitian menunjukkan baterai mobil listrik pada umumnya dapat digunakan dalam rentang 10 hingga 20 tahun. Meski demikian, masa pakai tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola penggunaan kendaraan, kondisi baterai, teknologi yang digunakan, serta tingkat degradasi kapasitas.
Temuan tersebut muncul dari studi yang membandingkan kendaraan listrik dengan mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
Baca Juga: Profil Letkol Herwan Pratama, Lulusan Marinir Amerika Serikat yang Kini Jadi Danyonif 19 Marinir
Salah satu penelitian yang diterbitkan di Nature Energy menganalisis lebih dari 29 juta kendaraan di Inggris yang beroperasi sepanjang 2005 hingga 2022.
Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan antara klaim produsen dan kondisi penggunaan kendaraan di lapangan.
Tesla, misalnya, menyebut baterainya mampu bertahan sekitar 10 sampai 20 tahun. Sementara Nissan menyatakan hampir seluruh baterai yang diproduksinya masih dapat bekerja secara efektif.
Untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, baterai kendaraan listrik umumnya mendapatkan garansi minimal delapan tahun atau 160.000 kilometer.
Artinya, produsen memberikan jaminan terhadap komponen utama kendaraan listrik tersebut dalam periode penggunaan yang cukup panjang.
Baca Juga: Bukan Naik Pesawat, Valtteri Bottas Gowes 350 Kilometer dari Malaysia ke Singapura
Perkembangan teknologi juga terlihat dari tingkat penurunan kapasitas baterai. Studi Geotab terhadap sekitar 5.000 kendaraan listrik menemukan bahwa rata-rata degradasi kapasitas baterai mengalami perbaikan.
Pada 2019, kapasitas baterai kendaraan listrik rata-rata mengalami penurunan sekitar 2,3 persen per tahun. Angka tersebut turun menjadi sekitar 1,8 persen per tahun pada 2024.
Penurunan tingkat degradasi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa teknologi baterai kendaraan listrik terus berkembang.
Meski demikian, bukan berarti baterai selalu mampu bertahan tanpa masalah sepanjang umur kendaraan.
Dalam kondisi tertentu, pemilik kendaraan dapat menghadapi kebutuhan penggantian baterai. Persoalannya, biaya penggantian komponen tersebut masih relatif tinggi.
Baca Juga: Profil Lengkap Komjen Suyudi Ario Seto: Calon Kapolri yang Pernah Pimpin Polda Banten dan BNN
Mobil Bensin Juga Punya Batas Usia
Sebagai pembanding, kendaraan dengan mesin bensin atau ICE juga memiliki masa pakai yang tidak tidak terbatas.
Rata-rata mobil bermesin pembakaran internal dapat digunakan hingga sekitar 320.000 kilometer. Namun, angka tersebut bukan batas mutlak.
Ada kendaraan yang mampu mencapai jarak jauh jauh di atas rata-rata. Salah satu contohnya adalah Toyota Tacoma yang pernah mencapai hampir 3,2 juta kilometer.
Di sisi lain, mesin bensin tetap memiliki komponen mekanis yang mengalami keausan. Dalam penggunaan jangka panjang, kerusakan dapat membuat pemilik harus melakukan perbaikan besar bahkan mengganti mesin.
Tesla sendiri menyatakan baterainya berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan usia kendaraan. Tetapi pengalaman sejumlah pengguna menunjukkan bahwa penggantian baterai tetap dapat terjadi.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian terjadi pada pemilik Tesla Model S di Jerman. Kendaraan tersebut dilaporkan telah mengalami penggantian baterai sebanyak empat kali setelah menempuh jarak sekitar 250.000 kilometer.
Kasus tersebut memperlihatkan bahwa umur baterai di dunia nyata bisa berbeda-beda dan sangat bergantung pada kondisi serta penggunaan kendaraan.
Baterai Lebih Mahal Diganti
Persoalan lain yang perlu diperhitungkan adalah biaya. Saat ini, biaya penggantian baterai kendaraan listrik berada di kisaran USD6.500 hingga USD20.000. Nilainya dapat berbeda tergantung model kendaraan, kapasitas baterai, teknologi, serta tingkat kerusakan.
Meski masih mahal, biaya baterai sebenarnya telah mengalami penurunan. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan harga baterai turun sekitar 16 persen sepanjang 2009 hingga 2019, seiring kemajuan teknologi dan meningkatnya skala produksi.
Baca Juga: Hilux Hidrogen Toyota Segera Diproduksi, Bisa Tempuh 399 Km Sekali Isi
Sementara itu, penggantian mesin kendaraan berbahan bakar bensin umumnya berada pada kisaran USD2.000 hingga USD10.000.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik dan kendaraan bensin memiliki kelebihan serta tantangan masing-masing.
Mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen bergerak pada sistem penggeraknya dan teknologi baterainya terus mengalami peningkatan. Namun, baterai tetap menjadi komponen vital sekaligus salah satu bagian paling mahal ketika harus diganti.
Sebaliknya, kendaraan bensin memiliki sejarah penggunaan yang lebih panjang dan jaringan perawatan yang sudah luas. Namun, mesin serta komponen mekanisnya juga mengalami keausan dan membutuhkan perawatan selama masa penggunaan.
Editor : Uways Alqadrie