KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT–Para petani gabah dan beras di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU) kini bisa bernapas lega. Setelah sempat menghentikan penyerapan di awal September 2025 karena target nasional terpenuhi, Badan Usaha Logistik (Bulog) Cabang Paser telah mendapatkan penugasan tambahan untuk kembali menyerap hasil panen lokal hingga akhir Desember 2025.
Kepala Bulog Cabang Paser, Muhammad Mukhlis, membenarkan bahwa penugasan tambahan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) sudah diterima dan siap dijalankan. "Sesuai dengan ketentuan serta kualitas yang dipersyaratkan," kata Mukhlis, Minggu (28/9).
Kebijakan itu menjadi "angin segar", terutama untuk menjaga kesejahteraan petani dan mencegah kerugian akibat harga jual yang anjlok. Bulog Paser menetapkan Standar Harga Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram (kg).
Penyerapan GKP akan dilakukan dengan sistem "jemput bola", di mana tim Bulog akan mendatangi langsung lokasi petani. Selain GKP, beras medium juga diserap dengan harga Rp 12.000 per kg (diantar ke gudang). Bahkan, gabah dengan kualitas di bawah standar harga tersebut dipastikan tetap akan diserap setelah melalui pengecekan kualitas.
"Jika kualitasnya sesuai ketentuan akan kami beli, jadi tidak ada lagi petani yang merugi dari harga di bawah Rp 6.500 kalau dibeli tengkulak," lanjut Mukhlis.
Penyerapan tambahan itu memiliki target ambisius, yaitu menyerap lebih dari 13 ribu ton gabah dari Paser dan PPU. Mukhlis optimistis target itu akan tercapai, bahkan terlampaui. Jika diserap sampai Desember, kemungkinan bisa sampai 14 ribu ton. Sebelumnya, Bulog Paser dilaporkan sudah mencapai 196 persen dari target awal dengan total penyerapan hampir 13 ribu ton.
Inisiatif penyerapan gabah merupakan langkah strategis demi kedaulatan pangan dan stabilisasi harga beras di pasaran. Gabah/beras yang diserap akan digunakan untuk Cadangan Pangan Pemerintah dan dialokasikan untuk program bantuan pangan serta beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).
"Tentunya dengan beras yang mulai naik kita harus menjaga stabilitas harga. Program yang dijalankan itu semua berasal dari beras petani lokal," tegas Mukhlis. Dia menekankan bahwa seluruh upaya sekaligus bertujuan menggiatkan sektor pertanian, memperluas lahan, dan mencegah alih fungsi lahan. (*)
Editor : Dwi Restu A