Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Rumput Laut Anjlok, Petambak Desa Maruat Genjot Produksi Olahan

Dwi Restu A • Senin, 4 Mei 2026 | 12:50 WIB
MENJANJIKAN: Hasil rumput laut di Desa Maruat mencapai ratusan ton per bulan. 
MENJANJIKAN: Hasil rumput laut di Desa Maruat mencapai ratusan ton per bulan. 
 
 
KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT–Desa Maruat, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, terus membuktikan eksistensinya sebagai lumbung rumput laut tambak jenis Gracilaria.
 
Mampu memproduksi hingga ratusan ton per bulan untuk dikirim ke luar daerah seperti Surabaya, saat ini para petambak harus menghadapi tantangan merosotnya harga bahan baku di pasaran.
 
Baca Juga: Kapal Tanker Iran Lolos dari Pengawasan AS, Derya Masuk Selat Lombok Bawa Minyak Mentah
 
Kepala Desa Maruat Syahrudin menyampaikan, budidaya rumput laut di wilayahnya tergolong sangat berhasil. Menariknya, para warga menerapkan sistem polikultur di lahan mereka.
 
"Alhamdulillah di atas tambak tersebut, petambak juga sekaligus budidaya ikan dan udang," kata Syahrudin, Senin (4/5).
 
Kondisi ekonomi petambak saat ini sedang diuji dengan anjloknya harga jual rumput laut kering. Syahrudin menyebut, harga saat ini hanya menyentuh angka Rp 2.000 per kilogram, bahkan terkadang di bawahnya. Padahal, pada kondisi normal atau saat harga tinggi, nilai jualnya bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram. Namun, hal itu dimaklumi karena dinamika ekonomi nasional dan global. 
 
Baca Juga: Transformasi Kia: Dari Desain Global ke Pengalaman Nyata Konsumen Indonesia
 
Meski terjadi penurunan harga yang tajam, warga Desa Maruat tetap optimistis dan bersyukur atas hasil alam yang tetap melimpah.
 
Sebagai solusi menghadapi fluktuasi harga bahan mentah, warga Desa Maruat melalui Galeri Seharum Idaman, hasil rumput laut petambak dialihkan pada produk olahan.
 
Langkah itu dinilai lebih menguntungkan dan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan simbiosis kepada petambak. 
 
Hingga saat ini, tercatat ada sekitar 17 varian produk olahan rumput laut yang dihasilkan tangan kreatif warga setempat, di antaranya camilan seperti keripik, kerupuk, amplang, dan stik rumput laut. Ada juga makanan manis seperti dodol, sirup, selai, ice cream, dan minuman herbal.
 
Baca Juga: Kapal Tanker Iran Lolos dari Pengawasan AS, Derya Masuk Selat Lombok Bawa Minyak Mentah
 
Inovasi hilirisasi ini terbukti efektif karena beberapa produk olahan tersebut telah memiliki pelanggan tetap. Dengan mengolah sendiri hasil panennya, nilai tambah ekonomi tetap berputar di dalam desa meskipun harga komoditas mentah di pasar luar daerah sedang tidak stabil. (*)
Editor : Dwi Restu A
#Long Kali Kabupaten Paser #Optimistis #anjlok #rumput laut