Dinda mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam ajang ini bermula dari keinginan kuat untuk keluar dari zona nyaman dan mencari pengalaman baru. Namun, proses yang dilalui selama masa karantina justru memberikan ruang pembelajaran yang jauh lebih besar dari sekadar kompetisi kecantikan. Dinda ingin mencoba hal baru dan melihat sejauh mana ia bisa berkembang sebagai pribadi.
Ini bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang proses, pembelajaran, dan bagaimana saya bisa terus berkembang serta menginspirasi perempuan muda agar percaya pada kemampuan dirinya sendiri," kata Dinda, Selasa (26/5/2026). Selama masa pembinaan, mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda ini mengaku mendapatkan banyak bekal penting.
Mulai dari kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), pembentukan karakter (attitude), kedisiplinan, hingga cara membawa diri sebagai muslimah yang percaya diri dan berakhlak. Selain ilmu, ia juga memperluas jaringan relasi dan pertemanan yang saling mendukung antarfinalis.
Di balik prestasinya di atas panggung, perempuan kelahiran 7 Mei 2006 ini ternyata memiliki cita-kira besar untuk menjadi seorang pengacara (lawyer). Melalui ilmu hukum yang ditempuhnya yaitu prodi Hukum Tata Negara, ia bertekad untuk memperjuangkan keadilan dan membantu masyarakat luas.
Melalui pencapaiannya ini, putri dari pasangan Ikhwan Faisal dan Dyah Elly Kusrini itu membawa misi dan pesan positif bagi generasi muda, khususnya perempuan muslimah di Kabupaten Paser dan Kalimantan Timur. Ia ingin membuktikan bahwa hijab bukan halangan untuk berprestasi dan berdampak bagi lingkungan sekitar.
Perempuan berhijab menurutnya juga bisa berprestasi, berani berbicara, memiliki mimpi besar, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dinda menyebut keluarga dan daerah asal menjadi motivasi terbesar dalam perjalanannya. Ia berpesan kepada sesama generasi muda agar tidak takut mencoba hal baru, karena ia percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. (riz)
Editor : Muhammad Rizki