Bakar Lahan Berkedok Tradisi Picu Bencana di Paser, Luas Karhutla Tembus 1.197 Hektare  

Muhammad Najib • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 13:20 WIB
Kebakaran hutan dan lahan di Paser belum reda dan kabut asap masih menyelimuti seluruh wilayah. (IST)
Kebakaran hutan dan lahan di Paser belum reda dan kabut asap masih menyelimuti seluruh wilayah. (IST)  

 

KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT - Lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Paser kian mengkhawatirkan di tengah status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Kering yang masih berlangsung.

Praktek pembukaan lahan pertanian yang mengatasnamakan kearifan lokal dinilai memperkeruh krisis ekologis di wilayah tersebut. Pasalnya, metode pembakaran tak terkendali terus memicu titik api baru di berbagai kawasan.

Baca Juga: Masuk Limbah B3, DLH Balikpapan Sediakan Layanan Jemput Gratis Sampah Elektronik Rumah Tangga

Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Telake, Shahar Al Haqq, mengingatkan masyarakat agar tidak menyalahgunakan dalih norma adat untuk membenarkan pembersihan lahan secara destruktif.

"Kearifan lokal harusnya dipahami sebagai pengetahuan dan tata cara masyarakat dalam mengelola lingkungan secara bertanggung jawab, bukan sebagai pembenaran untuk membakar tanpa pengendalian," tegas Shahar.

Baca Juga: Mandor Konstruksi Kubar Digembleng Sertifikasi dan Standar Keselamatan Ketat

Ia menjelaskan, regulasi pembukaan lahan tradisional sejatinya memuat aturan yang amat ketat dan terukur. Langkah antisipasi wajib dipenuhi sebelum proses pembersihan lahan dilakukan oleh warga.

"Pembukaan lahan tradisional memiliki batasan ketat, mulai dari pembuatan sekat bakar, pemisahan jadwal waktu, hingga kewajiban menyediakan sarana pemadam api di lokasi," jelas Shahar.

Baca Juga: DPRD PPU Soroti Polemik Pengelolaan Pasar Petung, Dorong Evaluasi Menyeluruh dan Peningkatan PAD  

Menurutnya, membakar lahan pada puncak musim kemarau memiliki risiko yang sangat fatal bagi keselamatan lingkungan. Embusan angin kencang serta vegetasi yang mengering dapat mempercepat rambatan api.

"Mengandalkan pembakaran di puncak musim kemarau sangat berisiko tinggi. Kombinasi tanaman kering, angin kencang, dan topografi terjal membuat jilatan api sangat mudah lepas kendali," imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser per 21 September 2026, rekapitulasi karhutla telah mencatat 413 kejadian kebakaran. Total luas area yang hangus terbakar kini telah mencapai 1.197,7 hektare. (*)

Editor : Sukri Sikki
Kabupaten Paser tanggap darurat karhutla