KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Paser bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser dan sejumlah organisasi, seperti Kahmi dan Kaina, menggelar diskusi Coffee Morning yang menyoroti penanganan, dampak kesehatan, serta pemulihan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga: Pekerjaan Rigid Segmen Gunung Odang Capai 95 Persen pada Preservasi Jalan Sp Belusuh-Bts Kalteng
Ketua IDI Paser, dr Ahmad Hadi Wijaya mengungkapkan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami kerusakan jaringan paru-paru akibat asap karhutla karena organs tubuh mereka yang masih dalam masa pertumbuhan.
"Lonjakan kunjungan pasien anak ke klinik maupun rumah sakit saat ini didominasi oleh keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut," kata dr Hadi, Rabu (30/9/2026).
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis paru RSUD Panglima Sebaya Paser, dr. Ahmad Rifani menegaskan bahaya asap karhutla yang menyebar di luar kendali. Menurutnya, tingkat bahaya tidak hanya terletak pada pekatnya asap, melainkan kandungan zat berbahaya di dalamnya yang berasal dari material lahan terbakar.
Baca Juga: Orangutan Mulai Terdampak Kekeringan, BKSDA Kaltim Siapkan Sumber Air Buatan
Kepala DLH Paser, Achmad Safari membeberkan bahwa kualitas udara di Kabupaten Paser saat ini sudah masuk kategori tidak sehat. Fenomena iklim El Niño yang dipicu kerusakan lingkungan global dinilai membuat periode musim kemarau dan hujan makin sulit diprediksi.
"Karhutla tidak hanya terjadi di lahan masyarakat, tetapi juga menyasar kawasan korporasi," kata Achmad. Ia mencatat tiga kecamatan penyumbang titik karhutla terbesar di Paser, yaitu Tanah Grogot, Paser Belengkong, dan Batu Engau, dengan total luasan lahan gambut terbakar mencapai sekitar 50 hektare.
Baca Juga: Pemkab Kubar dan Kantah Gebrak Layanan Pertanahan lewat SIPINTER PBB-P2
Menanggapi krisis tersebut, Ketua IDI Kalimantan Timur, dr. Mansyah, menekankan pentingnya kehadiran pemimpin yang berorientasi pada kelestarian lingkungan untuk menekan tingkat kerusakan alam yang diperkirakan telah mencapai 80 persen.
Ia mengimbau agar forum diskusi lintas sektor terkait isu lingkungan dapat diselenggarakan secara rutin dan berkelanjutan tanpa terbatas pada agenda seremonial semata. (*)
Editor : Sukri Sikki