KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lonjakan jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan data sebaran hotspot pada 6 Oktober 2026 pukul 01.00 hingga 24.00 Wita, terdeteksi 596 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser menjadi dua wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak. Kutai Kartanegara mencatat 247 titik panas, terdiri atas 16 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 206 menengah, dan 25 tinggi.
Sementara itu, Kabupaten Paser mencatat 240 titik panas, dengan rincian 33 tingkat kepercayaan rendah, 206 menengah, dan satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Baca Juga: Dembele Memble, Zidane Pasang Badan Usai Prancis Libas Belgia
Titik panas juga terdeteksi di Kutai Barat sebanyak 80 titik, Kutai Timur 22 titik, Berau 4 titik, Samarinda 2 titik, dan Mahakam Ulu 1 titik. Sementara itu, Balikpapan, Bontang, dan Penajam Paser Utara tercatat nihil titik panas.
Tingginya jumlah titik panas di Paser mulai berdampak langsung terhadap kualitas udara dan jarak pandang. Pantauan pada Rabu pagi (7/10/2026) menunjukkan kabut asap tebal kian menyelimuti kawasan Tana Paser.
Kondisi terparah terlihat di sekitar Desa Sungai Tuak serta jalur menuju Kecamatan Paser Belengkong. Aroma sangit bekas pembakaran dan terbatasnya jarak pandang mulai mengganggu aktivitas warga, terutama pengguna jalan pada pagi hari.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau mengenakan masker untuk mengantisipasi gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap. Warga juga diingatkan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan yang dapat memperparah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Paser, dr Ahmad Hadi Wijaya, menyampaikan dampak kabut asap, khususnya terhadap anak-anak, tidak boleh dipandang sebelah mata.
Paparan partikel asap tidak hanya dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan. Asap karhutla juga berisiko mengganggu neurodevelopment atau perkembangan saraf pada anak.
Baca Juga: Mengapa Kajari Konawe Ditangkap? Kejati Sultra Ungkap Dugaan Penyalahgunaan Wewenang
Mengenai alat pelindung diri, Hadi menekankan pentingnya memilih jenis masker yang tepat.
“Masker jenis KN95 sangat disarankan karena mampu menyaring partikel mikro yang berpotensi menembus hingga ke alveoli, bagian paru-paru terkecil. Sedangkan masker bedah biasa dinilai kurang optimal dalam menahan asap pekat,” kata Hadi.
Sebagai organisasi profesi medis, IDI Paser mengusung rantai penanganan terpadu yang mencakup empat pilar utama, yakni promosi, preventif, pengobatan, hingga rehabilitasi.
Salah satu langkah konkret yang difokuskan adalah edukasi berbasis sekolah. (*)
Editor : Ery Supriyadi