Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Pertunjukan Wayang Kulit Ikapakarti PPU: Braja Denta Mbalela di Gunung Intan Malam Ini, Gebyar Seni Budaya dan UMKM

Ari Arief • Sabtu, 7 September 2024 | 12:32 WIB

MBALELA: Pertunjukan wayang kulit dengan Lakon Braja Denta Mbalela yang malam ini ditampilkan oleh dalang Ki Wahyu Sri Kuncoro di Lapangan Desa Gunung Intan, Babulu, PPU.
MBALELA: Pertunjukan wayang kulit dengan Lakon Braja Denta Mbalela yang malam ini ditampilkan oleh dalang Ki Wahyu Sri Kuncoro di Lapangan Desa Gunung Intan, Babulu, PPU.
KALTIMPOST.ID, PENAJAM-Ikatan Paguyuban Keluarga Tanah Jawi (Ikapakarti) Penajam Paser Utara (PPU) menggelar kegiatan bertajuk Gebyar Seni Budaya dan UMKM selama empat hari, mulai 4 hingga 7 September 2024.

Kegiatan ini diisi berbagai kegiatan, di antaranya, atraksi berbagai seni tradisional khas Jawa di Lapangan Desa Gunung Intan, Kecamatan Babulu, PPU.

“Tanggal 4,5,6 September 2024 hiburan tiap malam kami isi dengan penampilan atau atraksi kuda kepang. Terdapat enam kelompok jaranan yang tiap malam tampil masing-masing dua kelompok jaranan,” kata Ketua DPD Ikapakarti PPU, Suyanto, Jumat (6/9).

Ia mengatakan, sebenarnya, kegiatan ini mengisi hari ulang tahun paguyuban Jawa itu yang waktunya sudah berlalu. Sehingga, agar tetap digelar maka kali ini diisi dengan kegiatan melibatkan seni budaya dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Untuk UMKM ini selalu mengisi pada tiap kegiatan seni dan budaya yang kami tampilkan,” jelasnya.

Pensiunan kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) PPU itu melanjutkan, pada hari keempat, yaitu Sabtu, 7 September 2024, hari ini, kegiatan ini ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di Lapangan Desa Gunung Intan, Kecamatan Babulu, PPU.

Kali ini, kata Suyanto, menampilkan dalang Ki Wahyu Sri Kuncoro dengan Lakon Brajadenta Mbalela atau Gatutkaca Dadi Ratu. Tidak hanya pertunjukan wayang kulit, kegiatan sebelumnya juga diisi dengan senam zumba

Khusus Lakon Brajadenta Mbalela ini dimulai dari jejeran di Astina, tampak Prabu Duryudana bersama Durna dan Sengkuni tengah menerima kedatangan Patih Brajadenta dari Glagahtinunu.

Brajadenta meminta nasihat soal pelantikan Gatotkaca sebagai Raja Pringgondani. Padahal, ia dan saudara-saudaranya pernah bersumpah akan menyerahkan kerajaan itu pada kakak perempuannya, Arimbi.

Namun, hasutan Durna dan Sengkuni membuatnya berubah pikiran. Mereka mengingatkan dendam lama terhadap Pandawa, termasuk kematian ayah mereka oleh Pandu dan pembunuhan kakak tertua oleh Werkudara. Termakan hasutan, Brajadenta bertekad merebut tahta Pringgondani.

“Lakon Brajadenta Mbalela adalah sebuah kisah klasik pewayangan yang sarat dengan konflik, ambisi, dan intrik politik,” ucapnya.

Menurut Suyanto, meskipun berlatar belakang zaman dahulu, pesan-pesan yang terkandung dalam cerita masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini.

“Jadi, jangan lupa untuk hadir menyaksikan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di Lapangan Desa Gunung Intan, ya?” kata Suyanto yang dikenal masyarakat sebagai pribadi yang humoris itu. (*)

Editor : Almasrifah
#ppu #Ikapakarti #wayang kulit #babulu