Amiruddin Lambe, salah satu pedagang makanan di pasar tersebut, mengeluhkan kondisi pasar yang disebutnya semerawut.
“Dua toilet rusak parah. Satu toilet tak ada pintu penutup, dan satunya lagi di sepanjang lorongnya bertumpuk-tumpuk barang pedagang,” kata Amiruddin Lambe yang mendatangi Kaltim Post, kemarin.
Keluhan lainnya, kata dia, berkaitan dengan fasilitas air yang tidak tersedia maksimal. Hal itu, kata dia, disebabkan tangki rusak, dan bocor. Sebab itu, untuk mengalirkan air menjadi terhambat. Hal ini, lanjutnya, terjadi sudah lama, dan tak ada solusi.
“Pasar memerlukan air untuk menyiram lapak pedagang basah, seperti lapak ikan dan warung. Mereka yang berdagang ikan dan warung-warung mengeluh semua. Sebelumnya lancar saja soal air ini,” tuturnya.
Dia mengatakan, khusus lapak pedagang ikan yang terletak pada bagian belakang pasar perlu direhabilitasi sistem saluran airnya yang menurutnya terlalu kecil. Akibatnya, saat lapak disiram air menggenangi lantai, dan menjadi penyebab tidak nyamannya para pembeli.
“Kami sebenarnya sudah seringkali menyampaikan keluhan ini ke petugas yang ada di lapangan, tetapi belum ada solusi hingga sekarang ini,” kata Amiruddin Lambe yang juga salah satu tokoh pejuang pembentukan Kabupaten PPU 2002 itu.
Selain itu, Amiruddin Lambe juga mengeluhkan pemasangan internet nirkabel (wifi) di area pasar, namun tak bisa diakses para pedagang.
Termasuk, pemasangan kamera pengawas closed circuit television (CCTV) yang server-nya dikendalikan oleh pemerintah daerah.
Sehingga, pedagang tidak bisa mengakses apabila terjadi pencurian barang-barang dagangan, yang mereka sebut-sebut seringkali terjadi tindak kriminal itu.
“Kami, para pedagang yang kehilangan barang akibat pencurian tak bisa cek,” ujar Amiruddin Lambe.
Kaltim Post kemarin sempat mengecek kondisi Pasar Induk Penajam itu, dan menemukan kesesuaian antara keluhan yang diterima dari Amiruddin Lambe dengan kondisi pasar saat ini. Media ini sempat mengecek dua toilet yang terletak pada blok berbeda.
Satu toilet tanpa pintu, dan satunya terdapat pintu, namun pada lorong menuju kedua toilet itu terdapat tumpukan barang milik pedagang.
Begitu juga pelapak basah terdapat genangan air yang membasahi bagian lantai, yang menyebabkan kesan licin dan kurang bersih.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Induk Penajam, PPU, Yusriadi ditemui media ini di ruang kerjanya, Jumat (6/12), menjelaskan, toilet yang rusak segera diperbaiki melalui alokasi anggaran 2025. Saat ini, kata dia, toilet itu belum bisa diperbaiki karena terkendala pendanaan.
“Sementara terkait kebocoran tangki sudah kami laporkan ke pimpinan, dan menunggu anggaran perubahan 2025. Tandon juga sudah keropos. Tangga akses ke atas menuju tangki juga berisiko karena rusak,” kata Yusriadi.
Menempati posisi kepala UPT Pasar Induk Penajam Februari lalu itu, ia mengatakan, soal rehab saluran irigasi pun sudah dilaporkannya ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) PPU, agar besi-besi pada parit bisa dibuka dengan gurinda, namun belum ada tindak lanjut.
Menyinggung CCTV, Yusriadi mengatakan akan dianggarkan pada 2025 untuk pengadaannya lagi. “Sebenarnya sudah ada tapi server ada di Diskominfo. Sementara wifi dipasang untuk kepentingan internal petugas penjaga,” jelasnya. (*)
Editor : Almasrifah