KALTIMPOST.ID, Kabar kurang menggembirakan datang bagi para petani di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Badan Urusan Logistik (Bulog) Paser-PPU menyatakan belum siap untuk menyerap gabah kering panen (GKP) dari para petani.
Hal ini terungkap dalam pertemuan antara tim Bulog Paser-PPU dengan Pemerintah Desa Gunung Mulia, Kecamatan Babulu, PPU, Kamis, 20 Februari 2025.
Pertemuan tersebut menindaklanjuti adanya keluhan petani padi di desa tersebut yang videonya viral di media sosial.
Menurut Ketua DPC Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) PPU, Totok Suprapto, Minggu (23/2) ada beberapa alasan yang menyebabkan Bulog belum bisa menyerap GKP petani.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Mantan Kepala BKPSDM PPU, Buktikan Pekarangan Rumah Bisa Hasilkan Pangan Sendiri!
“Bulog Paser-PPU belum memiliki fasilitas alat mesin penggiling/pengering padi serta lantai jemur yang memadai,” ungkap Totok Suprapto.
Selain itu, lanjut Totok Suprapto yang mengikuti pertemuan, wilayah Kaltim bukan merupakan sentra pertanian seperti di Pulau Jawa dan Sulawesi yang memiliki sarana dan prasarana pendukung yang memadai.
Kaltim juga bukan menjadi target cadangan pangan pusat. “Bulog Paser-PPU masih mencari rekanan Perpadi untuk dijadikan mitra yang bersedia menyerap GKP dari petani dengan harga yang sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat, yaitu Rp 6.500 per kilogram,” jelasnya.
Faktor lain yang menjadi kendala adalah rendemen padi di wilayah Paser-PPU yang masih di bawah standar, rata-rata di bawah 60 persen.
Baca Juga: Perbasi Paser Bangga, Putri SMAN 1 Long Kali Juara AZA 3x3 Competition DBL Samarinda
Cara tanam petani yang masih menggunakan metode tabur benih langsung (tabela) juga menjadi masalah, karena GKP yang dihasilkan sering bercampur dengan rumput dan kotoran.
“Untuk saat ini, Bulog Paser-PPU hanya bisa menerima hasil petani yang berupa beras,” tegas Totok Suprapto.
Dengan keterbatasan fasilitas pasca panen tersebut, Totok Suprapto menyarankan agar petani/kelompok tani/gabungan kelompok tani (gapoktan) dapat mengolah hasil panennya secara mandiri atau bekerja sama dengan penggilingan terdekat untuk menghasilkan beras yang siap diserap oleh Bulog.
Namun, lanjut dia, hasil pertemuan 20 Februari lalu itu kembali dibahas difasilitasi oleh Dinas Pertanian (Distan) PPU dengan menggelar pertemuan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Babulu di Desa Gunung Mulia sekira pukul 13.00 Wita sampai selesai. Agendanya tunggal yaitu rapat koordinasi serapan gabah.
Baca Juga: Stok 3 Bumbu Dasar Ini, Masak Sahur dan Buka Puasa Jadi Cepat Kilat, Dijamin Enak!
Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto saat dihubungi, Sabtu (22/2) mengatakan, bahwa rapat tersebut mempertemukan petani dengan Bulog terkait penyerapan gabah.
“Karena banyak keluhan masyarakat petani jadi kami berinisiatif untuk mempertemukan dengan Bulog. Biar Bulog nanti yang langsung menjelaskan ke petani,” kata Andi Trasodiharto.
Sebelumnya, salah satu petani Gunung Mulia, Rohani, seperti dilansir media ini, membuat video berisi keluhan yang ditujukan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, bahwa panen padi petani tidak terserap, tidak ada yang membeli.
Video berdurasi 1 menit itu kemudian viral di media sosial itu mendapatkan tanggapan termasuk dari Bulog yang datang ke lokasi dan memberi gabah kering panen milik Rohani. ***
Editor : Dwi Puspitarini