KALTIMPOST.ID, Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 1,19 persen pada Maret 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) PPU melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah tersebut mencapai 108,03 persen. Inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
Berdasarkan data yang dihimpun media ini bersumber dari BPS PPU, Selasa (15/4), sejumlah kelompok pengeluaran yang berdampak inflasi itu adalah makanan, minuman, dan tembakau naik 3,23 persen, menjadi penyumbang inflasi terbesar.
Komoditas seperti ikan tongkol, cabai rawit, dan kopi bubuk mengalami kenaikan harga signifikan.
Kemudian, rekreasi, olahraga, dan budaya melonjak 4,57 persen, menunjukkan peningkatan biaya untuk aktivitas rekreasi.
Kelompok pengeluaran lainnya adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 3,25 persen; kesehatan naik 2,96 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 1,76 persen; pendidikan naik 1,21 persen; pakaian dan alas kaki naik 1,17 persen; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 0,96 persen; transportasi naik 0,49 persen.
Kendati demikian, dii sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks.
Yaitu, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turun 4,42 persen, terutama dipengaruhi oleh penurunan tarif listrik. Selanjutnya, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,74 persen.
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), inflasi PPU pada bulan Maret 2025 itu, berdasarkan catatan BPS PPU, mencapai 2,19 persen. Sementara itu, inflasi tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) tercatat sebesar 1,10 persen.
BPS PPU juga mencatat beberapa komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan antara lain ikan tongkol, cabai rawit, kopi bubuk, dan emas perhiasan.
Sementara itu, penurunan tarif listrik, harga beras, dan daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi.
Baca Juga: DPD LAP PPU Hormati Pembekuan Organisasi, Program Tetap Berjalan
Secara bulanan, tarif listrik, ikan tongkol, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi, sedangkan daging ayam ras dan sayuran seperti sawi hijau dan bayam menyumbang deflasi.
Kenaikan harga makanan dan biaya rekreasi menjadi perhatian utama, karena berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga.
Penurunan tarif listrik sedikit meringankan beban pengeluaran, tetapi secara keseluruhan, inflasi tetap menjadi tantangan.
BPS PPU menggarisbawahi bahwa pemerintah daerah dan pihak terkait perlu mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi, terutama pada komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan.
Stabilisasi harga bahan pokok dan pengelolaan tarif listrik menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat. ***
Editor : Dwi Puspitarini