KALTIMPOST.ID, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Penajam Paser Utara (PPU) telah menggelar acara sosialisasi bertema kebangsaan di Aula Kantor DPD PKS PPU di Penajam, Rabu (14/5).
Acara bertajuk Sosialiasi 4 Pilar MPR RI 2025 ini menghadirkan anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim dari PKS, KH. Aus Hidayat Nur, dari Komisi II DPR RI, sebagai narasumber utama.
Sosialisasi ini dihadiri pengurus DPD PKS, pengurus DPC PKS Penajam, serta kader dan simpatisan PKS. Jumlah peserta yang hadir mencapai 150 orang.
Dalam paparannya, KH. Aus Hidayat Nur menekankan pentingnya pemahaman dan pengamalan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar kebangsaan.
Ia mengingatkan pula bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari beragam suku bangsa, bahasa daerah, kepercayaan, agama, dan pulau.
“Fakta yang harus diterima dan disadari bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk,” kata KH. Aus Hidayat Nur di depan peserta sosialisasi kebangsaan.
Tidak hanya itu, ia juga mengulas sejarah panjang bangsa Indonesia, mulai dari masa penjajahan hingga perjuangan meraih kemerdekaan.
KH. Aus Hidayat Nur mengajak seluruh peserta untuk meneladani nilai-nilai perjuangan para pahlawan dan menjaga persatuan bangsa.
Menurut Pejabat Sementara (Pjs) Ketua DPD PKS PPU, Rois Umar, Minggu (18/5), acara sosialisasi ini bertujuan untuk menata dan mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta menghormati dan mengharmoniskan perbedaan suku, ras, agama, bahasa, budaya, dan adat istiadat.
“Para peserta antusias dan tampak serius mengikuti jalannya sosialisasi dan berdiskusi dengan narasumber. Acara ini diharapkan dapat memperkuat semangat kebangsaan dan mempererat ukhuwah di antara kader dan simpatisan PKS,” kata Rois Umar.
Poin-poin tambahan dari dokumen yang relevan yang disampaikan KH. Aus Hidayat Nur pada pemaparan bertemakan kebangsaan itu adalah Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan 1.340 suku bangsa (BPS, 2010), lebih dari 700 bahasa daerah, lebih dari 245 kepercayaan dan agama, dan 17.504 pulau.
Kemudian, memiliki semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika kali pertama diungkapkan oleh Empu Tantular, seorang pujangga agung Kerajaan Majapahit, dalam karyanya Kakawin Sutasoma.
Bhinneka Tunggal Ika digunakan untuk menata dan mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta menghormati dan mengharmoniskan perbedaan.
Nilai perjuangan bangsa Indonesia menjadi nilai dasar pemersatu bagi seluruh bangsa Indonesia. “Nilai perjuangan bangsa Indonesia sebagai bangsa “nation” menjadi nilai dasar pemersatu bagi seluruh bangsa Indonesia.
Marilah kita lebih peka terhadap nilai-nilai luhur bangsa kita. Perbedaan adalah karunia Allah, syukuri...syukuri....syukuri, syukuri,” ujarnya.
Di luar itu, ia juga mengupas dalam ajaran Islam dikenal Ummatan Wahida (bangsa yang satu, A-lqur’an Surah Al-Anbiya: 90) telah mengakar di kalangan muslimin sejak abad ke-9 Masehi (sejak kedatangan agama Islam di Nusantara).
Sedangkan, sesanti atau semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Bahasa Sansekerta), diungkapkan pertama kali oleh Empu Tantular, penganut Budha Tantrayana, pujangga agung Kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389).
Sesanti tersebut terdapat dalam karyanya; Kakawin Sutasoma, Pupuh (Bab) 139, Bait 5, yang berbunyi “Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrva” yang artinya “berbeda-beda itu satu itu, tak ada pengabdian yang mendua”.
Editor : Hernawati