Beberapa orang mulai membuka aplikasi pemesanan, mencicipi kembali kopi dari brand global yang sebelumnya mereka tinggalkan.
Tentu, tidak bisa serta-merta menyalahkan mereka. Menjaga konsistensi untuk tidak membeli bukanlah perkara mudah, terlebih dalam dunia yang terus menggoda.
Noor Hafidz dari Yayasan Damai Aqsha yang berpusat di Samarinda, Kaltim, melalui tulisan ini mengingatkan kembali pentingnya melanjutkan boikot produk-produk pasar, yang hasilnya dipakai untuk memusnahkan komunitas Gaza, Palestina, itu mulai dari bayi hingga orang tua.
Sebagian dari kita mulai merasakan kelelahan emosional. Boikot memang bukan sekadar tidak membeli—ia adalah keputusan spiritual, moral, bahkan psikologis yang menyita energi.
Compassion fatigue adalah istilah psikologi untuk menggambarkan kondisi ini: kelelahan yang muncul setelah terpapar penderitaan terus-menerus. Melihat Gaza, Palestina hancur hari demi hari tanpa perubahan signifikan, sebagian merasa hampa.
Di sisi lain, ada tekanan sosial. Ketika lingkungan mulai kembali "biasa saja", mereka yang masih konsisten boikot merasa seperti penyendiri.
Saat teman-teman mulai tertawa sambil menyantap burger, seseorang yang menolak turut serta bisa jadi merasa asing. Kebutuhan akan validasi sosial mendorong manusia untuk mengikuti arus, agar tidak merasa terasing atau dianggap sok suci.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan global paham betul celah yang bisa mereka manfaatkan. Mereka mengguyur pasar dengan promo besar-besaran, diskon kilat, bahkan bundling khusus Ramadan.
KFC, misalnya, menawarkan paket hemat hingga 50 persen. Ini strategi yang terbukti meningkatkan kunjungan ke gerai, meskipun laporan keuangan mereka menunjukkan penurunan pendapatan tahunan hingga Rp 1,06 triliun.
Normalisasi isu Palestina di media pun turut memperlemah urgensi. Ketika visual kekejaman mulai berkurang, atau narasi yang muncul lebih netral, publik pun merasa "aman" untuk kembali berbelanja seperti biasa.
Apalagi, brand yang terafiliasi dengan Zionis giat melakukan rebranding: menampilkan model berhijab, membiayai acara Islami, atau menggandeng influencer lokal untuk menurunkan ketegangan isu.
Tapi mari kita jujur: segala bentuk manipulasi itu hanyalah bentuk pertahanan pasar. Di balik semua promo dan kampanye, mereka panik. Mereka sadar, konsumen Muslim—terutama di Indonesia—bukan lagi pasar yang pasif.
Survei Compas.co.id menunjukkan bahwa 92,5 persen masyarakat Indonesia mendukung fatwa MUI soal boikot dan beralih ke produk lokal.
KFC Indonesia kehilangan hampir 18% pendapatannya. McDonald’s mencatat penjualan stagnan di Indonesia pada 2023 senilai US$485 juta, dan menghadapi tekanan luar biasa di 2024.
Bahkan, laporan internal menyebutkan bahwa dana sebesar ini, jika dialihkan, secara teoritis dapat membeli sekitar 69 tank Merkava Mk4—tulang punggung militer Israel.
Dampak ini bukan isapan jempol. Perusahaan global pun mulai kehilangan pijakan. Produk seperti air minum bayi, produk kesehatan, dan kosmetik yang masuk daftar boikot mengalami penurunan hingga 92 persen pada kuartal pertama 2024. Ini bukti bahwa konsumen bukan sekadar objek pasar, tetapi aktor perubahan.
Bahkan jika boikot tidak sepenuhnya menumbangkan imperium ekonomi Zionis, ia telah membuat mereka gemetar. Kampanye internal mereka kini lebih diarahkan pada mempertahankan konsumen Muslim dengan segala cara, bahkan dengan menutupi afiliasi dan menyewa media untuk membentuk opini netral.
Namun, jangan biarkan kemenangan ini memudar. Jangan biarkan semangat awal berubah menjadi lelah. Karena setiap pilihan sadar untuk tidak membeli adalah bentuk jihad bil maal—berjihad dengan harta.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mempersiapkan perlengkapan untuk orang yang berjihad di jalan Allah, maka ia dianggap berjihad pula” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jihad harta bukan hanya donasi. Ia juga mencakup keputusan menahan diri, menahan nafsu membeli, dan memilih produk alternatif, meski itu sedikit lebih mahal atau tidak sepopuler brand global. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ash-Shaf: 10–11:
"Wahai orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan suatu perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian."
Investasi Moral dan Masa Depan Produk Lokal
Setiap rupiah yang tidak masuk ke perusahaan Zionis adalah rupiah yang bisa masuk ke UMKM, ke perusahaan lokal, ke petani kopi, ke pengusaha kecil.
Mayora, Wings, Kopi Janji Jiwa—semuanya mencatat kenaikan penjualan pasca boikot, bahkan ada yang naik hingga 99%.
Masyarakat Indonesia tidak hanya punya kekuatan pasar, tapi juga punya kekuatan moral. Jika populasi Muslim Indonesia yang mencapai 230 juta benar-benar kompak dalam aksi boikot, maka kita bisa menghilangkan potensi dana miliaran dolar yang biasa mengalir ke perusahaan-perusahaan pendukung penjajahan.
Itulah kenapa boikot bukan hanya tentang kita, tapi tentang mereka yang berdiri di garis depan: rakyat Gaza yang rela hidup tanpa air, tanpa listrik, tanpa makanan, demi menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsha. Jika mereka bisa hidup dalam penderitaan demi harga diri, bisakah kita tidak membeli segelas kopi?
Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Barang siapa menjauh dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya." (HR. Bukhari).
Memilih tidak membeli dari brand yang samar-samar sikapnya terhadap genosida adalah bagian dari kehormatan itu.
Kita tidak sendiri. Laporan BRIN dan IHW menunjukkan bahwa sektor makanan cepat saji, minuman, dan air mineral adalah sektor paling terdampak oleh peralihan ke produk lokal. Artinya, kita sedang membentuk tren, bukan sekadar mengikuti arus.
Mereka yang masih bertahan boikot adalah ujung tombak. Mereka tidak selalu vokal, tapi setiap transaksi yang mereka alihkan adalah bentuk keberpihakan yang nyata.
Dan bahkan jika kita tidak bisa berdiri di barikade depan, kita bisa berdiri di belakang mereka—dengan pilihan, dengan belanja, dengan kesadaran.
Sejarah telah membuktikan: perubahan tidak selalu datang dari peluru, tetapi juga dari kantong belanja. Ketika masyarakat dunia memboikot Afrika Selatan, apartheid runtuh. Ketika kita memilih untuk tidak membeli, kita sedang menekan—bukan hanya secara ekonomi, tapi juga secara moral.
Boikot adalah perlawanan sunyi, tapi tidak sepi makna. Ia seperti doa dalam bentuk aksi. Ia seperti sedekah dalam bentuk keputusan. Ia seperti jihad dalam bentuk pengendalian diri. Dan dalam semua itu, ada pahala yang Allah janjikan.
Saat ini, mereka menggempur Gaza dengan senjata, tapi kita bisa menggempur mereka dengan kesadaran. Dana yang biasa mereka dapatkan dari pasar Indonesia bisa digunakan untuk membangun pabrik senjata, membeli tank, dan menembakkan bom. Tapi jika kita menahan itu, kita menghentikan satu putaran mesin perang.
Mari lanjutkan. Jangan berhenti hanya karena lelah. Ingat bahwa Gaza tidak pernah berhenti hanya karena mereka lelah. Dan ingat bahwa kita bisa menjadi bagian dari kemenangan, bahkan jika kita hanya menahan tangan dari membuka aplikasi pemesanan makanan.
Karena ketika kita memilih untuk tidak membeli, kita memilih untuk membela. Ketika kita memilih untuk beralih ke produk lokal, kita memilih untuk bermartabat. Dan ketika kita memilih untuk terus melawan dalam diam, kita memilih untuk berdiri di sisi yang benar dari sejarah. (*)
Editor : Almasrifah