KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus mengintensifkan upaya pemberantasan malaria dengan mengandalkan kader kesehatan yang terlatih, metode jemput bola, serta pemantauan ketat di sejumlah titik strategis. Berkat pendekatan ini, kasus malaria berat di wilayah tersebut berhasil ditekan secara signifikan.
Menurut Penata Kelola Layanan Kesehatan Dinkes PPU, Ponco Waluyo, saat ini metode pengumpulan data malaria masih dilakukan melalui fasilitas kesehatan (faskes). Namun, peran kader sangat krusial sebagai garda terdepan.
“Kader kita telah dilatih membaca RDT (Rapid Diagnostic Test) untuk malaria dan diberi kewenangan memberikan obat bagi penderita malaria ringan. Mereka juga langsung merujuk pasien dengan gejala sedang hingga berat ke faskes. Tapi alhamdulillah, karena penanganan sejak dini oleh kader, kasus malaria berat nyaris tidak ditemukan lagi,” ujarnya, Kamis (5/6/2025).
Langkah strategis lainnya adalah pemeriksaan masif dari rumah ke rumah, terutama jika ditemukan satu kasus positif. Pemeriksaan dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi kasus, sebagai upaya memastikan tidak ada penularan lokal yang luput dari pengawasan.
“Seperti kemarin di RT 16, saat ditemukan satu ibu-ibu yang positif, langsung kami skrining seluruh lingkungan sekitarnya,” tambah Ponco.
Uniknya, kesadaran masyarakat juga mulai tumbuh, sebagian karena adanya titik pemeriksaan ketat di jalur keluar masuk wilayah. Salah satu pos pemantauan berada di dekat masjid di Kilometer 30. Pos ini strategis karena berada di lokasi yang ramai dan dilengkapi fasilitas umum seperti tempat ibadah dan warung.
Sebagai upaya lanjutan, Dinkes PPU juga merencanakan pelaksanaan IRS (Indoor Residual Spraying) di RT 16 pada bulan Juni. Hal ini menyusul ditemukannya penularan lokal yang teridentifikasi dari penderita yang tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis.
“IRS akan dilakukan di dinding dalam rumah. Efeknya bisa bertahan hingga enam bulan. Nyamuk yang menempel langsung mati. Ini penting karena ada indikasi penularan setempat, terutama karena ibu-ibu yang jarang ke luar rumah bisa tertular,” jelasnya.
Meski persiapan logistik dan tenaga sudah lengkap, pelaksanaan IRS masih menunggu perbaikan akses jalan menuju lokasi.
“Dengan kombinasi deteksi dini, edukasi masyarakat, dan aksi cepat tanggap, kami berharap dapat terus mempertahankan tren penurunan kasus malaria, bahkan menuju eliminasi total dalam beberapa tahun mendatang,” imbuhnya. (*)
Editor : Duito Susanto